Kitab Bahjat al-Wudluh: Jadi Penguasa Harus Adil Jangan Zalim

0
82

BincangSyariah.Com – Hadis kelima dalam kitab Bahjat al Wudluh berbicara tentang kepemimpinan. K.H.R Ma’mun Nawawi menggunakan kata “penguasa” pada judulnya, bisa jadi maksud kata “penguasa” tersebut berarti tidak hanya pemimpin yang memiliki status sebagai “ketua”, namun adalah setiap orang yang memiliki kekuasaan dalam menentukan sebuah keputusan atau kebijakan, walaupun secara hirarkis, berada beberapa tingkat di bawah sang pemimpin. Mereka semua, yang termasuk dalam terminologi penguasa, harus berlaku adil dan jangan zalim. Hadis dalam kitab tersebut adalah riwayat al-Bazzar dan ath-Thabrani dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah Saw bersabda:

مَا مِنْ أَمِيرِ عَشرَةٍ , إِلَّا يُؤْتَى بِهِ مَغْلُولاً يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُفَكَّهُ الْعَدْلُ , أَوْ يُوبِقَهُ الْجَوْرُ

Artinya: “Tidaklah ada seorang pun yang memimpin sepuluh orang, kecuali ia didatangkan dengannya pada hari kiamat dalam keadaan terbelenggu (rantai jahannam). Entah keadilannya akan membebaskannya ataukah justru kemaksiatannya (kezalimannya) akan melemparkanya (ke neraka).”

Menurut para ulama hadis, hadis ini berkualitas sahih. Kualitas ini didapat atas legitimasi dari muhaddits Muhammad bin Abu al Fayd al Ghummari dalam kitabnya al Midawi li I’lali al Jami’ ash Shaghir wa Syarhi al Munawi. Namun demikian, ada catatan pada Hadis riwayat ath Thabrani. Dalam sanadnya, terdapat perawi bernama Muhammad bin ‘Ajlan. Menurut al ‘Uqaily dan Abu Nu’aim dia adalah munkar al hadits. Sedangkan menurut Ibn Hibban tidak sah meriwayatkan Hadis yang bersumber darinya. Pendapat para ulama Hadis ditulis Ibnu Hajar dalam kitab Lisan al Mizan.

K.H.R. Ma’mun Nawawi mengungkapkan bahwa hadis ini jelas sekali mengatakan bahwa kita harus berhati-hati ketika menjadi seorang pemimpin. Sedangkan realita di dunia ini, manusia justru saling berlomba-lomba menjadi pemimpin, bahkan diiringi keengganan dalam beribadah. Betapa menyesalnya di akhirat kelak. Kemudian beliau mengutip Hadis lain, Rasulullah Saw bersabda:

Baca Juga :  Perjanjian Al-Fudhul: Pasca Perang Fujjar

إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اَلْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

Artinya: ”Sungguh kalian akan menjadi rakus terhadap jabatan (kepemimpinan), padahal ia akan menjadi penyesalan kelak di hari kiamat.”

Dengan sapaan khas dalam “syarh interaktif”-nya, yaitu “Hai dulur,” K.H.R. Ma’mun Nawawi menitipkan pesan kepada kita semua jika seandainya diamanahi menjadi seorang pemimpin, jangan sekali-kali berlaku zalim! Takutnya, malah jadi celaka bagi diri sendiri. Pun demikian, beliau mengingatkan bahwa seorang penguasa tidak diperkenankan untuk sombong terhadap rakyatnya, toh hakikatnya dia adalah pembantu rakyat, sayyidul qaum khadimuhum.

Pemimpin, dalam pandangan K.H.R. Ma’mun Nawawi, harus rendah hati, peduli, dan penuh rasa kasih sayang. Awas! Jangan sampai jauh dari ulama, harus mau ngaji walaupun seminggu sekali. “Banyak pekerjaan dan urusan,” katanya. Apa sulitnya ngaji pun kita jadikan sebagai pekerjaan dan urusan? Semaunya sendiri, sangkanya dunia itu lebih perlu dari pada akhirat. Maka awas saudara jangan kebalik asepan (Salah fikir dan salah pilih)! Sebaliknya nanti ketika kita bangun dari dalam kubur merugi, maka jangan melupa-lupakan kematian serta harus amanah; jangan khianat dan panjang tangan.

Beliau pun mewanti-wanti bahwa shalat berjamaah di masjid jangan teledor, karena pemimpin harus menjadi tauladan bagi rakyatnya. Jangan beralasan sibuk atau repot, karena sholat itu tidak merepotkan. “Begitu pula jika kamu, hai dulur muslim’, lanjut beliau, “menjadi supir mobil atau kendaraan; ketika masuk shalat maka berhenti dulu, serta ajak seluruh penumpang muslim untuk shalat. Ingat, kan, akibatnya orang yang meninggalkan shalat, bagaimana? Jangan pura-pura tidak tahu, sadar!”

Terakhir, bagi K/H.R. Ma’mun Nawawi, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang adil, peduli, dan merakyat. Tentu berkah rahayu mendapatkan doa dari rakyat. Semoga nasihat ini bermanfaat.

Baca Juga :  Kitab "Bahjat al-Wudluh": Dunia Seperti Bayang-Bayang, Semakin Dikejar Semakin Jauh

*اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا ، وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ*



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here