Kitab Bahjat al-Wudluh: Ikhtiyar Sekaligus Qana’ah

0
259

BincangSyariah.Com – Hadis ketiga dalam kitab Bahjat al Wudluh karya K.H.R. Ma’mun Nawawi merupakan Hadis yang diriwayatkan al Hakim (w. 405 H) dan al Bahihaqi (w. 458 H), keduanya bersumber dari seorang sahabat, yaitu Jabir bin Abdillah R.A. (w. 78 H), Rasulullah Saw bersabda:

لا تَستبطِئُوا الرِّزقَ فإنَّهُ لمْ يكنْ عبدٌ لِيموتَ حتى يَبلُغَهُ آخِرُ رِزقٍ هوَ لهُ فاتَّقُوا اللهَ وأجْملُوا في الطَّلَبِ أخذُ الحلالِ وتركُ الحرامِ

“Janganlah kamu menerlambatkan dalam meminta rezki, sesungguhnya tidak akan mati seorang hamba sampai dia mendapatkan rezki terakhir miliknya, maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezki: mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Imam al Hakim dalam kitabnya, al Mustadrak, menilai hadis ini memiliki kualitas shahih (walaupun tidak diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar (w. 852 H) dalam kitabnya al-Mathalib al-‘Aliyah bi Zawaid al-Masanid ats-Tsamaniyah mengafirmasi bahwa hal ini disetujui juga oleh Adz-Dzahabi (w. 748 H).

Albani sempat mengkhawatirkan keabsahan hadis ini karena ada perawi bernama Sa’id bin Abi Hilal yang terindikasi mengalami ikhtilath. Dalam ilmu Hadis, yang dimaksud dengan ikhtilath pada seorang perawi adalah kekecauan pada hafalannya, bisa terjadi karena usia semakin tua sehingga ingatannya melemah, kitabnya hilang atau terbakar, dan lain-lain. Walakin, kekhawatiran Albani ini pupus karena ada riwayat-riwayat lain, salah satunya adalah riwayat al Baihaqi. Penjelasan Albani ini termaktub dalam kitabnya yang berjudul Silsilah al Ahadits al Shahihah.

K.H.R. Ma’mun Nawawi mengawali penjelasan terhadap hadis ini dengan pernyataan bahwa rezeki setiap manusia sudah ditentukan sejak zaman azali berdasarkan bagiannya masing-masing. Maka menurut beliau, ketika bekerja, kerjakanlah sesuatu yang halal serta qana’ah (tidak berlebihan atau rakus).

Baca Juga :  Tujuh Hal yang Dimakruhkan Saat Puasa

K.H.R Ma’mun Nawawi pun mengingatkan jangan sampai kita menuruti hawa nafsu; berupa mengerjakan larangan dan ceroboh terhadap perintah syara’, seperti jarang ngaji ilmu fardhu ain, sering luput shalat berjama’ah, malas membaca Al-Qur’an, berlebihan mahabbah terhadap harta, kikir, dan lupa untuk bekal di dalam kubur. Jangan seperti itu! Karena menurutnya, yang menjadi dasar diperintahkannya kasab (bekerja) adalah beribadah dan beramal salih, bukan (malah) menghalangi diri untuk beribadah.

Beliau menyebut beberapa profesi seperti berdagang, nyangkul, ngantor, kuli, atau nyupir. Teruntuk mereka dan para pekerja yang lain yang baru ada pada zaman sekarang, ketika sudah masuk waktu sholat namun tetap melanjutkan pekerjaan, tidak ingat atau sadar untuk segera melaksakan shalat. Perlu diingatkan, bahwa mereka sedang mengikuti hawa nafsunya.

Kebiasan mengikuti hawa nafsu tersebut akan mengalami puncaknya ketika pelaku sudah tidak lagi merasa melakukan pelanggaran serta mendapat dukungan dari orang-orang terdekat. Beliau melanjutkan, “Apalagi kalau sudah dua puluh tiga kali tidak berjamaah, makin terasa nikmat saja. Ditambah lagi banyak teman yang mencontohkan hal seperti itu.” Secara teori maupun empirik, lingkungan memang memiliki pengaruh yang cukup besar pada pola pikir dan tingkah laku kita sehari-hari. Selektif dengan tidak memilih teman, namun memilah orang-orang yang sekiranya bisa menunjukan atau setidaknya menemani dalam hal-hal kebaikan.

Terakhir, beliau menyelesaikan syarh pada Hadis ini dengan sebuah peringatan, “Maka ingatlah, hai dulur Islam! kasihanilah diri sendiri! Takutnya (justru) kamu tidak mendapatkan keduanya, baik dunia ataupun akhirat!.”

*نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ! اللَّهُمَّ اهْدِنا فِيمَنْ هَدَيْتَ *

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here