Mengenal Ummu Ma‘bad, Wanita Tua yang Kambingnya Diperah Nabi

0
1189

BincangSyariah.Com – Musim panas tengah mengganas ketika Nabi, Abu Bakar, Amr ibn Fuhairah dan sang penunjuk jalan, Abdulllah ibn al-Urayqath melintasi hamparan gurun lepas dari Makkah menuju Madinah. Dari kejauhan, tampak dua buah kemah berdiri bebas di sebuah sisi ruas jalan. Dua kemah itu milik Ummu Ma’bad al-Khazaiyyah, seorang wanita gurun yang biasanya menjamu para musafir yang singgah. Ya, semacam pangkalan untuk istirahat melepas lelah.

Lantaran perbekalan menipis, Nabi dan rombogan berhenti di sana. Ummu Ma’bad menyambut dengan ramah meski ia tak mengenal sedikitpun para rombongan ini. Ketika Nabi hendak membeli daging atau kurma darinya, ia bilang tidak ada. “Tahun ini paceklik mencekik sekali tuan, tak ada yang bisa kami berikan meski sebiji kurma. Demi Allah, andai kami memiliki persediaan makanan, tentu sudah kusediakan untuk kalian. Saat ini, kambing-kambing kami tak ada yang bisa diandalkan.” Ummu Ma’bad mengucap lirih. Sedih.

Tiba-tiba terlihat oleh Nabi seekor kibas di samping kemah. Tubuhnya kerempeng. Tatapan matanya kosong “Kibas ini kenapa wahai Ummu Ma’bad?”

“Itu kibas kami yang ketinggalan dari kambing-kambing lain karena kelelahan. Tubuhnya lemah tak kuat berjalan.”

“apakah ia masih mengeluarkan susu?”

Ummu Ma’bad menjawab “kalau ia beranak, mungkin akan ada air susunya meskipun sedikit. Sayang sekali, kibas itu mandul.”

“Boleh kuperah kibas ini wahai Ummu Ma’bad?

Ummu Ma’bad mengira lawan bicaranya tak mendengar ucapannya. Hampir saja ia melontarkan kata-kata yang tak patut diucapkan pada orang asing yang sama sekali tak pernah ia kenal. Tetapi, mulutnya terkunci oleh kewibawaan Nabi. Lalu, dengan terbata-bata ia berkata “Demi ayahku, engkau dan ibuku, kalau memang kau lihat ada susunya, perahlah!”

Nabi lalu mengusap kantong susunya, menyebut asma Allah, kemudian melafalkan do’a do’a lirih. Tiba-tiba dua kaki kibas tadi merengang. Kedua matanya berbinar. Susunya mengencang penuh siap untuk diperah.

Baca Juga :  Enam Alasan Perbuatan yang Ditinggalkan Nabi Belum Tentu Haram (Bagian 1)

Nabi meminta bejana. Diberinya beliau sebuah bejana besar. Kibas diperah. Susunya mengucur tumpah. Bejana besar itupun penuh hingga busanya membuncah-buncah.

Ketika Nabi menyerahkan bejana itu kepada Ummu Ma’bad, ia terbengong-bengong dan  tak percaya pada pandangan matanya; ini mimpi atau nyata? Diterimanya bejana tadi dengan tangan gemetar, lalu diangkat ke mulut dan diseruputnya susu lezat di dalamnya sekali, sekali lagi, lagi, dan lagi hingga puas. Rasanya, ia belum pernah meminum susu selezat ini.

Bejana itu kemudian mengalir dari satu tangan ke tangan lain. Semua minum sampai puas dan berakhir di tangan Nabi.

Setelah semuanya kenyang, Nabi kembali menghampiri kibas tadi, diperahnya susu sepenuh bejana untuk ditinggalkan kepada Ummu Ma’bad sebagai hadiah. Setelah selesai, Nabi dan rombongan berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Sementara di belakang sana, Ummu Ma’bad terus menganga. Kejadian ini aneh sekali, tak habis fikirnya memikirkan kejadian yang baru ia alami barusan.

Di sore hari ketika suaminya datang, diceritakanlah perihal rombongan yang tadi singgah di kemahnya. Dilukiskannya paras indah Nabi yang bercahaya, sangat tampan dengan mata elok, hitam dan lebar. Alis dan bulu matanya lebat dan halus. Suaranya bergema berwibawa. Ukuran kepalanya pas sesuai bentuk tubuhnya.

Panjang lehernya ideal. Jenggotnya tumbuh tebal dan kontras sekali dengan kulitnya yang indah. Postur tubuhnya memesona. Perawakannya sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Diantara keempat orang itu, peampilannya paling indah dan menarik. Jika diam, nampaklah kewibawaanya. Jika berbicara, nampaklah kecerdasannya. Akhlaknya luhur.

Jika dilihat dari kejauhan, ia berkharisma. Jika dilihat dari dekat, ia tampan memukau. Bicaranya gamblang dan jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang berguguran. Jika ia berbicara, yang lain mendengarkan dengan seksama. Jika ia memerintah, yang lain akan segera melaksanakannya.

Baca Juga :  Kisah Dokter yang Masuk Islam Karena Melihat Kemujaraban Wudu

“Dialah orang Quraisy yang sedang ramai diperbincangkan di kalangan kami di kota Makkah” simpul Abu Ma’bad. “Jika aku melihat dan bertemu dengannya, akan ku ikuti apapun yang dikatakannya”.

Kisah Ummu Ma’bad ini sangat masyhur, diriwayatkan dari banyak riwayat yang saling menguatkan satu dengan lainnya. Ummu Ma’bad kemudian masuk Islam bersama suami dan saudaranya, Hubaisy ibn al-Asy’ar yang syahid dalam peristiwa Fathu Makkah. Diriwayatkan bahwa ia wafat pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab. Ibn al-Jauzy berkata, setelah keislamannya, Ummu Ma’bad dan suaminya ikut Hijrah ke Madinah.

Wallahu A’lam bis Shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here