Kisah Ummu Dahdah Al-Anshariyah dan Dua Kebun Kurmanya

1
30

BincangSyariah.Com – Ummu Dahdah Al-Anshariyah adalah sosok istri yang keluarganya menjadi teladan akan sifat kedermawaannya. Beliau merupakan sahabat perempuan yang mempunyai peran mulia namun ceritanya belum begitu populer di kalangan Islam. Ummu Dahdah dikenal sebagai perempuan yang mengutamakan kenikmatan kekal di akhirat daripada kenikmatan fana di dunia.

Kisah Keislaman Ummu Dahdah bermula saat datangnya Mus’ab bin Umair ke Madinah. Ummu Dahdah dan keluarganya berhasil masuk Islam berbondong-bondong. Mereka menjalani kehidupannya dengan penuh bahagia. Keislaman Ummu Dahdah ini tidak terlepas juga dari peran suaminya. Beliau adalah Abu Dahdah.

Dalam kitab Al-Isti’ab disebutkan mengenai nama lengkap dari suaminya yaitu Tsabit bin Dahdah atau Dahdahah bin Nu’aim bin Ghanam bin Iyas Halif al-Anshar. Beliau adalah salah satu sahabat nabi yang terkenal kedermawanannya. Abu Dahdah merupakan pejuang Islam dan pengikut Rasulullah SAW.

Semenjak keislamannya, Abu Dahdah dan keluarga selalu mengisi hari-harinya untuk membaca al-Qur’an dan memahami ajaran Islam. Hatinya telah dipenuhi oleh cahaya al-Qur’an. Hal ini terlihat saat turun ayat mengenai anjuran bersedekah seperti firman Allah ayat 245 surat al-Baqarah:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS Al-Baqarah: 245).

Dalam kitab Nisa Min Asr An-Nubuwwah diceritakan mengenai percakapan Rasulullah dengan Abu Dahdah. Beliau bertanya kepada Rasulullah SAW, “Aku jadikan ayah dan ibuku tebusan untukmu, ya Rasulullah. Apakah Allah meminta pinjaman kepada kita, sedangkan Allah tidak membutuhkan sama sekali?”

Rasulullah menjawab, “Ya, dan akan memasukkan kalian ke dalam surga dengan pinjaman tersebut.”

Abu Dahdah kembali bertanya, “Apakah jika aku memberikan pinjaman kepada Allah SWT, Dia akan menjamin aku dan putriku, Ummu Dahdah, masuk surga?”

Rasulullah menjawab lagi, “Ya, benar.”

Abu Dahdah lalu meminta Rasulullah SAW mengulurkan tangannya dan berkata, “Aku mempunyai dua buah kebun yang berada di tempat yang rendah dan satu lagi berada di tempat yang tinggi. Aku tidak memiliki harta lain selain dua buah kebun itu, aku menjadikannya pinjaman untuk Allah SWT.”

Rasulullah bersabda, “Jadikan satu kebun saja untuk Allah, satu kebun lagi sebagai sumber hidup bagi anak-anakmu.”

Abu Dahdah menyanggah, “Aku bersaksi kepadamu, wahai Rasulullah. Aku menjadikan kebaikan dua buah kebun ini untuk Allah. Dan pagar kebun ini sepanjang enam ratus pohon kurma.” (Baca: Jenis-jenis Kurma di Masa Nabi)

Baca Juga :  Biografi K.H. Abdurrahman Wahid: Dari Intelektual Publik sampai Begawan Politik

Rasulullah akhirnya menjawab, “Baiklah. Allah akan membalasmu dengan surga.”

Ummu Dahdah adalah sosok istri yang sangat paham akan kepentingan agama. Maka, beliau tak banyak protes kala Abu Dahdah menyedekahkan dua kebun kurmanya.

Ummu Dahdah berkata, “Semoga perniagaanmu mendatangkan keuntungan. Dan mudah-mudahan Allah memberkati apa yang engkau belanjakan di jalan-Nya.”

Menyadari hasil kebun itu telah dijadikan pinjaman kepada Allah SWT, Ummu Dahdah menghampiri anaknya yang sedang makan kurma kemudian beliau  mengeluarkan kurma-kurma itu dari mulut mereka, lalu menuntun anak-anaknya keluar dari kebun itu.

Dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir disebutkan mengenai pujian Rasulullah SAW pada Abu Dahdah:

كم من عذق رداح في الجنة لأبي الدحداح

Betapa banyak pohon kurma yang besar-besar di surga untuk Abu Dahdah.”

Betapa mulianya sifat dermawan Abu Dahdah dan keluarga. Keharmonisan keluarga Ummu Dahdah harus berakhir ketika sang suami syahid dalam perang uhud. Hal ini tidak membuat istrinya menangis meratapi namun beliau mengetahui bahwa suaminya telah menerima kemenangan dengan gugurnya dalam medan perang.

Beliau menyampaikan duka atas kehilangan suaminya dari dunia yang sementara ini. Saat mendengar suaminya syahid, beliau hanya berkata, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”. Beliau banyak bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Wallahu A’lam Bisshawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here