Kisah Umar bin Khattab yang Kalah “Bersaing” Amalan dengan Abu Bakar

0
3161

BincangSyariah.Com – “Di setiap amalku, aku selalu mencoba untuk bisa mengalahkan (amalan) Abu Bakar”, ucap Umar bin Khattab di suatu pagi.

Setelah kemenangan kaum muslimin di perang Tabuk, Umar membagi dua bagian ghanimah yang ia dapat dan menginfaqkan separuhnya di jalan Allah, sedang separuhnya lagi untuk keluarga. Ketika Rasul bertemu Abu Bakar as-Shiddiq dan bertanya apa yang dia tinggalkan untuk keluarganya, Umar harus menelan kecewa karena Abu Bakar menjawab:

“Tidak ada wahai Rasul. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang aku tinggalkan untuk mereka”

Umar sedih, lagi-lagi dia merasa kalah oleh sahabat yang ketakwaannya luar biasa ini.

Abdurrahman as-Syarqawi dalam kitab al-Khalifah al-Ula menceritakan bahwa di suatu pagi seusai shalat subuh, Rasulullah saw menghadap ke arah para sahabat-sahabatnya dengan penuh cinta dan sejurus kemudian bertanya:

“Siapa gerangan yang pagi ini dalam keadaan berpuasa?

Umar ibn Khattab menjawab “Wahai Rasul, semalam aku tidak berniat puasa, maka hari ini aku tidak berpuasa.”

Rasulullah mengangguk pada Umar. Kemudian, ia menyapu pandangan ke seluruh penjuru, menunggu kalau-kalau ada sahabat lain yang ingin menjawab.

Dengan memberanikan diri, Abu bakar lirih menjawab: “Semalam aku juga tidak niat berpuasa wahai Rasul, tetapi pagi ini aku berpuasa, insya Allah.”

Rasulullah mengangguk seraya tersenyum pada Abu Bakar. Yang ditatap tertunduk malu.

“Siapa diantara kalian yang hari ini telah menjenguk orang sakit?” Rasulullah kembali bertanya.

Umar ibn Khattab kembali menjawab “Wahai Rasul, kita belum keluar sejak shalat shubuh tadi. Bagaimana bisa ada yang telah menjenguk orang sakit?” para sahabat yang lain mengangguk, membenarkan jawaban Umar yang masuk akal.

Abu Bakar menjawab lirih “Saudara kita, Abdurrahman ibn Auf sakit wahai Rasul, maka dalam perjalanan ke masjid tadi, aku menyempatkan diri sejenak untuk menjenguknya.”

“Segala puji bagi Allah” Rasul kembali tersenyum seraya menatap Abu Bakar “Dan siapa jugakah yang hari ini telah memberi makan fakir miskin?”

“Kami semua berada di sini sejak shalat berjamaah tadi,” kembali al-Khattab menjawab tegas “Kami belum sempat bersedekah wahai Rasul.”  Kali ini Umar harap-harap cemas menantikan jawaban Abu Bakar. Apakah kali ini Abu Bakar juga telah melakukannya? Abu Bakar bungkam terdiam. Umar ibn Khattab sedikit lega. Ia tidak yakin Abu Bakar juga telah melakukannya seperti yang sudah-sudah.

Baca Juga :  Benarkah Semua Penganut Agama Disebut Muslim oleh Al-Qur'an?

“Bicaralah, wahai Abu Bakar!” Nabi memecah keheningan

“Aku malu wahai Rasul” Abu Bakar menunduk. Suaranya kemudian senyap-senyap terdengar “Memang tadi di luar masjid kulihat seorang fakir sedang duduk menggigil, sedang di genggaman putraku ‘Abdurrahman ada sepotong roti. Maka kuambil roti itu dan kuberikan pada lelaki itu.”

Seluruh sahabat yang berada di dalam masjid terkaget-kaget. Amalan yang sudah Abu Bakar lakukan pagi ini, bahkan belum satupun mereka lakukan. Maka, layaklah Abu Bakar menjadi sahabat terbaik Nabi. Sahabat yang selalu Nabi agungkan dalam setiap kesempatan. Sahabat yang seandainya Nabi diizinkan oleh Allah menjadikan seseorang sebagai Khalil (kekasih) nya, niscaya Abu Bakarlah yang pantas menyandang gelar tersebut.

“Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah” Seperti biasa, Rasulullah selalu takjub. Rasulullah selalu bangga pada keshalihan tak tertandingi yang dimiliki sahabat satu ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here