Kisah Ulama Dimintai Fatwa Mengenai Berhubungan Badan Saat Puasa Oleh Para Raja

0
746

BincangSyariah.Com – Negeri Magribi atau saat ini lebih dikenal dengan Maroko merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya muslim dan bermazhab Maliki. Daerah Magribi sendiri baru ditaklukan oleh Islam pada masa Dinasti Umayyah. Dalam Athlas Tarikhil Islam karangan Husein Mu’nis disebutkan bahwa dengan tangan khalifah Musa bin Nushair daerah Magribi sepenuhnya menjadi kekuasan islam yang kemudian dibagi menjadi empat wilayah.

Dalam kelanjutannya, kekuasan di Magribi dikuasai oleh para raja. Ada sebuah kisah menarik mengenai para raja di daerah Magribi. Dalam kitab ad-Da’wah at-Tammah wa at-Tadzkirah al-‘Ammah karya Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad, diceritakan bahwa suatu waktu sebagian para raja di Magribi berhubungan badan di waktu siang saat bulan Ramadhan.

Karena mengetahui bahwa hal tersebut membatalkan puasa dan memiliki konsekuensi, para raja tadi mengumpulkan para ulama di negara tersebut untuk dimintai fatwa mengenai hukum berhubungan badan di siang hari saat puasa Ramadhan.

Ketika semua ulama sudah berkumpul di hadapan sang raja, ada seorang ulama yang paling unggul dalam segi kealimannya dan keutamaannya berfatwa,

عليك ان تصوم شهرين متتابعين

“Kamu wajib untuk berpuasa dua bulan berturut-turut”.

Mengetahui fatwa dari ulama tersebut yang memberikan kafarat (hukuman) berupa puasa dua bulan berturut-turut, banyak para ulama lain yang terheran. Kemudian para ulama lain bertanya kepada sang ulama yang berfatwa tadi,

كيف تفتيه بأن عليه صيام شهرين متتابعين، وأنت تعلم أن مذهب الأمام مالك رحمه الله تعالى التخيير في كفارة المجامع في نهار رمضان بين إعتاق الرقبة والصوم والإطعام، و كانوا مالكية

“Bagaimana engkau berfatwa dengan memberikan hukuman berupa puasa dua bulan berturut-turut, sedangkan engkau tahu bahwa dalam mazhab Imam Malik rahimahullahu ta’ala kafarat (hukuman) bagi orang yang berhubungan badan di siang hari saat ramadhan adalah dengan diberikan pilihan antara memerdekakan budak, berpuasa dan memberikan makanan. Dan para ulama tadi (yang diuandang) bermazhab maliki,”.

Baca Juga :  Merasa Kesulitan dalam Hidup? Ini Bacaan Salawat "Nuril Anwar"

Kemudian ulama yang berfatwa tadi menjelaskan di balik alasannya mengapa tidak memberikan hukuman sesuai aturan mazhab Maliki yang memberikan pilihan bebas diantara memerdekakan budak, berpuasa dan memberikan makanan.

لو أخبرته بالإعتاق والإطعام لهان عليه ذلك و جا مع في كل يوم من رمضان والصوم يشتد عليه مشقته فيكون أقرب إلى زجره و ردعه

“Jika aku memberitahu ke dia (raja) bahwa hukumannya dengan memerdekakan budak dan memberi makanan, maka hal tersebut menjadi mudah baginya. Dan puasa akan membuatnya merasa berat, dan puasa itu lebih bisa mengendalikannya dan mencegahnya (untuk berhubungan di siang hari saat ramadhan)”.

Kisah di atas merupakan salah bentuk kearifan, kepedulian dan siasatnya para ulama dalam bertindak untuk kemaslahatan umat dan agama. Bahkan Sahabat Ibnu Abbas berkata dalam kitab yang sama bahwa orang alim itu kedudukannya sama dengan orang tua,

“Maka perkara apa saja yang engkau beritahukan kepada orang tua, tuturkanlah hal tersebut padaku juga,” ungkap Ibnu Abbas.

Sayyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad juga berkata bahwa ulama harus menunjukkan jalan keselamatan bagi orang lain, menjauhkan umatnya dari perkara-perkara yang membingungkan untuk dipahami.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here