Kisah Terpendam K.H. Hasyim Muzadi dan Habib Rizieq Shihab

3
8131

BincangSyariah.Com – Abah K.H. Hasyim Muzadi mengungkapkan keprihatinannya melihat cara-cara yang dipakai Habib Rizieq Shihab dan FPI di dalam memberantas kemungkaran. Namun, di balik keprihatinannya itu, Abah Hasyim tetap yakin bahwa ada sisi lembut dari Habib Rizieq yang bisa disentuh. Sehingga, ke depannya nanti, menurut keyakinan Kiai Hasyim, Habib Rizieq mau dengan suka rela mengubah gaya dan narasi dakwahnya.

Untuk mewujudkan keprihatinannya itu, Kiai Hasyim tidak ingin melempar pernyataan di media massa karena khawatir akan menjadi bola liar. Bisa jadi pernyataan yang maksudnya menasihati Habib Rizieq akan diubah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, menjadi pernyataan yang memancing permusuhan di antara Kiai Hasyim dengan Habib Rizieq. Kiai Hasyim Muzadi memang dikenal tidak suka memancing kontroversi.

Tanpa diketahui banyak pihak, termasuk Habib Rizieq sendiri, Kiai Hasyim Muzadi mendatangi kediaman Habib di Petamburan. Kunjungan mantan Ketua Umum PBNU ini memang sengaja dilakukan bersamaan dengan pengajian rutin FPI di kediaman Habib Rizieq.

Tentu saja, kunjungan ulama besar itu sontak membuat Habib Rizieq kaget. Dalam bayangan Habib Rizieq, sejak menyatakan “berlawanan dengan Gus Dur”, tidak mungkin ada tokoh NU yang mau menyambanginya. Tapi, ternyata bayangan Habib Rizieq itu keliru. Kunjungan Kiai Hasyim Muzadi itu sedikit mencairkan ketegangan di antara FPI dan NU.

Singkat cerita, komunikasi pun terbangun. Sikap keras Habib Rizieq “luluh” di hadapan Kiai Hasyim. Bahkan, Habib Rizieq rela dikritik Kiai Hasyim. Dalam forum Reboan yang diadakan pada tahun 2013, Kiai Hasyim di hadapan Habib Rizieq mengatakan bahwa Habib Rizieq ini pada dasarnya orangnya baik. Cuma karena beliau keturunan Arab, beliau gak bisa bedakan antara merangkul dan mithing (Jawa: melingkar tangan di leher orang lain sehingga orang merasa tercekik). Kontan, sindiran Kiai Hasyim itu membuat semua yang hadir tertawa, termasuk Habib Rizieq sendiri.

Baca Juga :  Tauhid Menurut Abu Hasan Al Asy'ari

Di dalam obrolan dengan saya, Kiai Hasyim Muzadi mengatakan bahwa mengarahkan gaya amar ma’ruf dan nahyu munkar yang digunakan Habib Rizieq ini butuh waktu yang tidak pendek. Sebagai orang yang lebih tua, beliau mengatakan punya kewajiban untuk membimbing Habib Rizieq.

Apa yang dilakukan Kiai Hasyim terbukti efektif bisa mengubah gaya Habib Rizieq walaupun belum sepenuhnya. Atas arahan Kiai Hasyim, Habib Rizieq pun mulai mengkaji Pancasila dan Konstitusi. Dan pandangannya terhadap NU pun mulai berubah. Namun sayang, takdir berkata lain. Allah memanggil pulang Abah Kiai Hasyim Muzadi. Tugasnya untuk membimbing Habib Rizieq belum paripurna ditunaikan. Habib Rizieq pun terpukul dengan kepulangan Kiai Hasyim. Setelah jasad Kiai Hasyim dikuburkan, Habib Rizieq terlihat menangis sejadi-jadinya di dalam doa.

Dari kisah itu, saya mencatat hikmah yang bisa kita ambil bersama,

  1. Dari paparan itu, Kiai Hasyim Muzadi mengajarkan kepada generasi selanjutnya untuk menjadi orang yang berani memberi solusi walaupun tindakannya tidak populer;
  2. Sebaik-baik tindakan itu adalah memperbaiki dari dekat. Anda boleh berpendapat bahwa pengurus NU saat ini tidak bisa menjalankan fungsinya secara ideal. Tapi, apa artinya kegelisahan anda itu jika hanya dituangkan menjadi nyinyiran dan ejekan di media sosial (seperti facebook). Pernahkah anda berusaha datang ke Gedung PBNU lt 3 berjumpa dengan Ketua Umum, Sekretaris Jenderal atau Rois Aam atau Rois Syuriah, untuk menyampaikan kekecewaan anda?
  3. Abah Kiai Hasyim Muzadi sudah mengajarkan jika memang kita tidak setuju dengan tindakan seseorang, datangi orang itu dan sampaikan kritik secara langsung di hadapan orangnya. Itu pertanda bahwa kita memang ingin orang itu menjadi lebih baik.
  4. Namun, jika ketidaksetujuan itu hanya diungkap di media sosial, lalu mengundang siapa saja untuk memberi komentar, tanpa ada satu pun solusi yang ditawarkan, saya katakan bahwa jelas anda memang punya maksud buruk di balik ketidaksetujuan itu.

3 KOMENTAR

  1. Salut dg pengurus2 NU yg dulu, namun dengan yg sekarang apalagi pimpinan PBNU sekarang kurang repect karena begitu sering menyakitkan umat islam dan berseberangan dg kepentingan Islam itu sendiri

  2. Kalau saya lebih chusnudhon kepada guru2 kyai2 saya, dan mereka yang diberi amanah. Saya hanyalah debu di padang pasir tidak punya kapasitas untuk menilai para kariim. Mereka lama dan belajar, hidup di pesantren, kuliah di universitas dunia. Maaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here