Kisah Tentang Keistimewaan Hari Jumat dalam Literatur Islam

0
374

BincangSyariah.Com – Burung dan binatang lainnya saling bersua pada hari Jumat dan berucap, “Selamat, selamat.. Hari yang baik!” Demikian tersebut dalam Ihyâ’ Ulum al-Din karya Imam al-Gazali.

Kisah senada juga diceritakan dalam Siyar ‘Alam al-Nubala’. Alkisah, Mutharrif bin Abdillah bin Syikkhir al-‘Amiri (w. 87 H) adalah seorang tabi’in besar yg zuhud, ahli hikmah dan karomah. Konon katanya, seringkali ujung cambuk yang digunakannya untuk berkendara kuda, tetiba bercahaya di kegelapan malam.

Pernah pula ujung cambuk itu mengeluarkan suara seolah bertasbih. Seorang kemenakannya yang menyaksikan dan mendengar kejadian aneh itu berujar, “Kalau saja kuceritakan kejadian ini kepada orang-orang, pastilah mereka mendustakan kita..”

“Justeru yang mendustakan nikmat Allah ini, dialah orang yang paling dusta!” Mutharrif menimpali.

Malam itu malam Jumat. Mutharrif melakukan perjalanan malam dengan berkendara kuda. Ujung cambuknya lagi-lagi membantunya memberi cahaya. Hingga ketika langkah kuda mencapai sekitar pekuburan, Mutharrif mengantuk dan tertidur di atas pelananya.

Di alam bawah sadarnya ia melihat seolah seluruh penghuni kubur duduk di dalam kuburannya. “Dia ini Mutharrif, datang pada hari Jum’at.” kata ahli kubur serentak setelah melihat Mutharrif datang.

“Lho, kalian tahu ini hari Jum’at?” tanya Mutharrif.

“Ya. Kami tahu apa yang burung ucapkan pada hari ini.”

“Apa yang burung ucapkan?” tanyanya.

“Salâm, salâm, min yawmin shâlih (selamat, selamat,ini hari yang baik!),”  ujar para ahli kubur itu.

Baca Juga :  Zakat dan  Implementasi Nilai-nilai Pancasila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here