Kisah Tentang Agama Kuno Zoroastrianisme yang Berasal dari Timur Tengah

1
35

BincangSyariah.Com – Agama kuno Zoroastrianisme, salah satu agama kuno di Timur Tengah yang tak banyak dikenal orang. Zoroastrianisme kerap dianggap sebagai agama kuno yang sudah punah. Padahal, masih ada orang yang menganut agama ini.

Agama kuno Zoroastrianisme atau Majusi adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Pada maza lampau, Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang berasal dari daerah Persia Kuno atau kini dikenal dengan Iran.

Di Iran, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Mazdayasna yaitu kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau “Tuhan yang bijaksana”. Zarathustra atau Zoroaster adalah pelopor berdirinya Zoroastrianisme di Iran (Persia).

Ia hidup sekitar abad ke-6 SM. Zarathustra berasal dari keturunan suku Media. Ia adalah seorang imam yang dididik dalam tradisi Indo-Iran. Sebelumnya, agama yang ada di Iran (Persia) bersumber pada macam-macam ajaran seperti politeisme, paganisme, dan animisme.

Melihat agama kuno zoroastianisme yang hingga saat ini masih dipraktikkan, ada beberapa realitas yang terbuka, salah satunya adalah apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai nilai-nilai ideal, kepercayaan dan budaya Barat, justru berakar dari Iran.

Jejak-jejak Zoroaster di Barat

Thus Spoke Zarathustra dari Richard Strauss adalah salah satu contoh pembahasan Zoroaster dalam dunia musik yang mencerminkan pengaruh Zoroastrianisme.

Musik inilah yang kemudian memberikan dentuman yang menjadi penyangga kuat dalam film Stanley Kubrick, 2001: A Space Odyssey (1968). Musik latar diketahui terinspirasi dari karya besar Nietzsche berjudul yang sama yang mengikuti seorang Nabi bernama Zarathustra.

Filsuf Jerman tersebut menolak pembedaan antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi karakteristik Zoroastrianisme. Sebagai seorang ateis, Nietzsche tak menganggap monoteisme sebagai hal yang berguna.

Ada beberapa contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti pengaruh agama kuno Zoroastrianisme dalam budaya kontemporer populer di Barat. Contoh-contoh ini bisa menjadi bukti bahwa ada jejak Zoroaster di budaya Barat.

Pertama, lukisan Mazhab Athena dari Raphael yang selesai dikerjakan pada 1511. Lukisan tersebut menampilkan sosok yang jika dilihat secara detail di lukisan yang lebih besar dan banyak dianggap oleh sejarawan adalah Zoroaster yang sedang memegang bola dunia.

Kedua, Ahura Mazda menjadi inspirasi nama sebuah perusahaan mobil Mazda. Ahura Mazda juga menjadi inspirasi atas legenda Azor Ahai, sosok setengah dewa yang menang atas kegelapan dalam novel Game of Thrones karya George RR Martin.

Ketiga, beberapa pakar juga memiliki argumen bahwa perang kosmik antara kekuatan sisi terang dan gelap di Star Wars kemungkinan besar berasal dari Zoroastrianisme.

Keempat, vokalis Queen bernama Freddie Mercury terinspirasi oleh keyakinan Zoroaster dari keluarganya yang berasal dari Persia. Freddie Mercury bernama asli Farrokh Bulsara.

Zoroaster memiliki banyak sumbangan tentang pemikiran, agama dan budaya Barat, hanya sedikit orang yang mengetahui asal agama monoteistik pertama dunia tersebut.

Konsep Tuhan yang Maha Esa

Para pakar percaya bahwa nabi Iran kuno Zarathustra yang di Persia dikenal sebagai Zartosht dan di Yunani sebagai Zoroaster diperkirakan hidup antara 1.500 dan 1.000 SM.

Sebelum kemunculan Zarathustra, ada orang Persia kuno yang telah memuja dewa-dewa dari agama Iran-Arya lama yang pararel dengan agama Indo-Arya baru, saat ini dikenal sebagai agama Hindu.

Zarathustra mengecam praktik tersebut dan bersabda bahwa hanya Tuhan mereka saja, Ahura Mazda atau Tuhan Kebijaksanaan yang mesti dipuja. Hal tersebut tidak saja berkontribusi pada pemisahan besar antara Iran dan India Arya, tapi juga mengenalkan manusia pada keyakinan monoteistik untuk pertama kalinya.

Gagasan tentang keberadaan Tuhan yang Esa tidak hanya menjadi satu-satunya ajaran Zoroastrianisme yang masuk ke berbagai agama besar lain, tapi juga termasuk ke dalam tiga besar agama Samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Selain konsep Tuhan yang Maha Esa, ada juga konsep surga dan neraka, hari akhir dan kiamat dunia, serta malaikat dan iblis di mana kesemuanya berakar pada ajaran Zarathustra, dan kitab-kitab terakhir Zoroaster yang menginspirasi agama-agama tersebut.

Ada juga ide tentang setan yang merupakan pemikiran Zoroaster. Keseluruhan keyakinan Zoroastrianisme bahkan berdasarkan pada pergulatan antara Tuhan dan kekuatan kebajikan serta cahaya yang diwakili oleh Roh Kudus, Spenta Manyu dengan Ahriman yang mewakili kekuatan jahat dan kegelapan.

Meski manusia mesti memilih di sisi mana dia akan berpihak, agama tersebut mengajarkan bahwa pada akhirnya, Tuhan akan menang, dan orang-orang yang terkutuk di api neraka akan menikmati surga. Hal tersebut adalah ungkapan lama Persia.

Baca: Tribalisme Mayarakat Arab Pra-Islam

Zoroaster dan Agama Ibrahim

Pertanyannya selanjutnya adalah bagaimana ide-ide Zoroaster kemudian muncul ke agama-agama Ibrahim dan agama lainnya? Para pakar meyakini bahwan ada banyak dari konsep-konsep ini dikenalkan ke orang Yahudi di Babilonia setelah dibebaskan oleh kaisar Persia, Koresh yang Agung.

Kepercayaan tersebutlah yang kemudian masuk ke dalam pikiran orang-orang Yahudi utama dan sosok seperti Beelzebub pun muncul. Setelah Persia menguasai daerah-daerah Yunani pada masa Kekaisaran Achaemenid.

Kemunculan filsafat Yunani Kuno itulah yang kemudian mengambil arah yang berbeda. Orang-orang Yunani Kuno percaya manusia hanya memiliki sedikit pilihan. Nasib mereka juga tergantung pada banyak dewa-dewa yang bertingkah sesuai kesenangan mereka saja.

Setelah perkenalan mereka dengan agama dan filsafat Yunani, mereka pun mulai merasa bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri, dan keputusan ada di tangan mereka.

Meski pada mulanya Zoroaster adalah agama negara Iran dan dipraktikkan secara luas di daerah-daerah yang dikuasai oleh orang-orang Persia seperti Afghanistan, Tajikistan dan sebagian besar Asia Tengah, agama kuno Zoroastrianisme kemudian berkembang menjadi agama minoritas di Iran.

Saat ini, Zoroaster hanya memiliki sedikit penganut di seluruh dunia. Tapi, berbeda dengan cerita tentang warisan budaya agama Zoroaster, ada banyak tradisi Zoroaster yang terus muncul dan membedakan budaya Iran, dan di luar Iran, agama ini juga memiliki dampak yang penting, terutama di Eropa Barat.

Kemudian muncul Rapsodi Zoroaster. Berabad-abad sebelum Komedi Ketuhanan Dante, Kitab Arda Viraf sudah menggambarkan secara detail perjalanan ke Surga dan Neraka.

Kemiripan antara dua karya ini terlihat unik, tapi para pakar hanya bisa menawarkan hipotesis. Ada kemungkinkah Dante mendengar tentang laporan perjalanan kosmik Zoroaster yang pada versi akhirnya muncul pada abad 10 Masehi.

Zoroaster berdoa di kuil api seperti yang ada di Yazd, Iran, di mana dipercaya bahwa api dan air adalah zat kembar dalam kemurnian dan penting untuk ritual penyucian.

Di tempat-tempat lain, ada juga hubungan budaya Zoroaster yang lebih jelas. Nabi Iran kemudian muncul memegang bola dunia yang berkilau di lukisan Raphael, Mazhab Athena pada Abad 16.

Budaya Zoroaster juga ada dalam Clavis Artis, sebuah karya ilmu kimia kuno Jerman yang berasal dari akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18 yang didekasikan untuk Zarathustra. Karya tersebut menampilkan beberapa penggambaran Zoroaster dengan tema Kristiani.

Zoroaster dipandang sebagai sosok ajaib, filsuf dan astrolog, terutama setelah Abad Renaisans oleh orang-orang Kristen di Eropa. Pernyataan tersebut berasal dari Ursula Sims-Williams, seorang peneliti yang berasal dari School of Oriental and African Studies di University of London.[]

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here