Kisah Sayyidina Ali Bersedekah pada Malaikat

0
1673

BincangSyariah.Com – Dalam Hadis kesebelas ini, Imam Muhammad Bin Abu Bakar dalam Kitab al-Mawaidh al-‘Ushfuriyyah mencantumkan 3 hadis yang berkaitan dengan sedekah. Sedekah sendiri lebih umum dari infak. Jika infak hanya berkaitan dengan harta, maka sedekah bisa berupa materi atau pun yang lainnya. Menyingkirkan duri dari tengah jalan, bermuka manis pada orang lain, ikut bekerja dalam pembangunan masjid, juga termasuk sedekah.

Hadis pertama ini menggambarkan sedikit kehidupan Sitti Fathimah Ra. dengan Sayyidina Ali Ra. tentang kesabaran dalam menjalani kehidupan yang serba kekurangan (zuhud).

Cerita ini diriwayatkan dari Sayyidina Ja’far Bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Sayyidina Ali Ra.

Suatu waktu, Sayyidina Ali ra. pulang ke rumahnya. Di sana istri beliau sedang memintal benang milik Sayyidina Salman ra. Beliau (Sitti Fathimah) mengambil upah dari menenun untuk memenuhi kebutuhan makan kedua putranya, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein (radliyallhu anhuma). Lalu Sayyidina Ali ra. berkata pada Sitti Fathimah,

يا كريمة النساء اعندك شيئ تطعمين بعلك

Wahai perempuan paling mulia (tuan putri), Apakah kamu memiliki sesuatu yang dapat aku (suamimu) makan?

Sayyidina Ali ra. memanggil istrinya dengan panggilan yang romantis. “Karimatannisa“, tuan putri. Hidup zuhud, dalam artian penuh kekurangan dalam urusan dunia, tidak menghalangi hidup keluarga Sayyidina Ali ra. untuk tetap bersyukur.

Sitti Fathimah ra. langsung menanggapi pertanyaan Sayyidina Ali ra., beliau berkata:

والله ما عندي شيئ ولكن هذه ستة دراهم اتاني بها سلمان غزلت بها صوفا واريد ان اشتري بها طعاما للحسن والحسين

Demi Allah, saat ini aku tidak memiliki apa-apa. Tapi, ini ada 6 dirham hasil dari menenun baju milik Salman. Uang ini untuk membeli makanan anak kita, Hasan dan Husein (radliyallahu anhuma).

Sungguh, betapa sederhananya kehidupan putri Rasulullah Saw. Bahkan bukan hanya sederhana, memang serba kekurangan. Sesuatu yang akan dimakan hari itu juga membeli di hari itu. Bahkan hanya cukup untuk kedua putranya saja.

Baca Juga :  Enam Konsep Berargumen yang Baik

Uang itu diminta oleh Sayyidina Ali ra. untuk membelikan makanan kedua putranya. Sampai di tengah jalan beliau bertemu dengan seseorang yang dari kelihatannya lebih membutuhkan dari beliau. Lalu orang itu berkata,

من يقرض الله الولي الوفى

Ayo, siapa yang mau berdagang dengan Allah Swt.?

Maksud orang tersebut, siapa yang mau bersedekah pada saya, maka Allah Swt. yang akan menggantinya. Tanpa banyak pikir, Sayyidina Ali ra. langsung memberikan uang tersebut padanya. Beliau pulang dengan tangan hampa, tanpa membawa makanan sedikitpun.

Melihat suaminya pulang dengan tangan kosong, Siti Fathimah menangis. Sayyidina Ali ra. menenangkannya, lalu menanyakan kenapa ia menangis. Siti Fathimah menjawab,

يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم اراك فارغ اليدين

Wahai putra paman Rasulullah Saw., Aku menangis karena melihat kamu pulang dengan tangan kosong.

Ini, satu lagi akhlak putri nabi, memanggil suaminya tidak dengan namanya walaupun dalam kondisi kecewa. Kecewa karena Sayyidina Ali ra. pulang tanpa membawa makanan untuk kedua buah hatinya.

“Tenanglah, aku gunakan uang itu untuk berdagang dengan Allah Swt. Aku sedekahkan uang itu. Aku yakin pasti Allah Swt. menggantinya”, jawab Sayyidina Ali ra. menenangkan istrinya.

Lalu, beliau pergi ke rumah Nabi Muhammad Saw., mungkin ada makanan di sana untuk cucu nabi. Sampai di tengah jalan, beliau bertemu dengan seorang a’roby (badui, pedalaman). Orang tersebut menawarkan unta pada Sayyidina Ali ra. “Maaf, aku lagi tidak memiliki uang”, jawab Sayyidina Ali ra. “Sudahlah, soal uang belakangan. Ini aku jual 100 dirham”, orang itu menawarkan. “Baiklah kalau begitu, aku beli untamu dengan membayar nanti”, setuju Ali Ra.

Belum jauh dari tempat akad tersebut, Sayyidina Ali Ra. bertemu dengan orang badui yang lain. Kali ini bukan mau menjual unta, tapi ingin membeli unta Sayyidina Ali ra. “Iya, aku jual unta ini seharga 300 dirham”, Sayyidina Ali Ra. menawarkan. Mereka berdua sepakat untuk bertransaksi.

Baca Juga :  Dari Mana Kata Sanubari Mulai Masuk ke dalam Bahasa Indonesia?

Saat pulang, beliau langsung disambut senyum Siiti Fathimah ra. dan menyampaikan apa yang telah diberikan Allah Swt. padanya. Setelah itu, beliau langsung pergi ke rumah nabi.

Beliau juga disambut dengan senyuman oleh Nabi Muhammad Saw. ” Wahai Abul Hasan, aku yang mau cerita dulu, atau engkau yang pertama?” tanya Nabi. “Engkau duluan wahai Rasulallah Saw,” jawab Ali.

“Tahukah kamu, siapa yang menjual dan membeli unta darimu?”, tanya nabi sekali lagi. “Allah Swt. dan nabi-Nya yang lebih tahu”, jawab Ali. Lalu beliau bersabda,

طوبى لك بخ بخ يا على اعطيت قرضا لله تعالى ستة دراهم فاعطاك الله تعالى ثلثمائة درهم بدل كل درهم خمسين درهما فالاول جبرائيل والاخر اسرافيل

Sungguh sangat beruntung engkau, Ali. 6 dirham engkau belanjakan di jalan Allah, maka Dia telah memberimu 300 dirham. Satu dirham diganti dengan 50 dirham. Yang pertama itu adalah Malaikat Jibril as. dan yang kedua adalah Malaikat Isrofil (Qila Malaikat Mikail).

Dalam hal tersebut, Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-Baqoroh (2) : 245,

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةً ۗوَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Dalam Tafsir Jalalain Juz 1/hal 38 dijelaskan bahwa orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah Swt. dengan hati yang ikhlas, maka Allah Swt.  akan membalasnya dengan berkali-kali lipat. Karena memang hanya Allah Swt. yang dapat menahan atau memberikan rejeki manusia.

Kisah kesederhanaan dan kedermawanan Sayyidina Ali ra. merupakan hal yang patut ditiru. Di saat susah tetap bersedekah, apalagi waktu diberi anugerah. Semoga kita menjadi orang yang dermawan yang diridloi oleh Allah Swt. Amin. Wallahua’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here