Kisah Sayyid Tsabit Al-Bunani Berdialog dengan Seorang Pemuda yang sudah Meninggal

0
1640

BincangSyariah.Com – Sayyid Tsabit Al-Bunani (Allahu Yarhumuh) adalah termasuk tabi’in. Beliau bersahabat sekitar 40 tahun dengan Sayyidina Anas Bin Malik ra. Beliau wafat pada Tahun 127 H dalam usia 86 tahun. Dalam Kitab Al-Mawaidh Al-Usfuriyah, Imam Muhamand Bin Abu Bakar mencantumkan sepotong kisah tentang beliau.

Kisah ini terdapat dalam hadits yang kelima belas. Kisah tentang mimpi beliau berkenaan dengan sampainya kiriman pahala pada ahli kubur.

Sayyid Tsabit Al-Bunani memang dikenal dengan tabi’in yang ahli hadits, istiqomah khatam quran tiap semalam, dan suka ziarah kubur. Hammad Bin Salamah berkata bahwa beliau pernah berdoa dengan doa sebagai berikut,

أللهم ان كنت اعطيت احدا الصلاة في قبره فاعطني الصلاة في قبري

Allahumma in kunta a’thoyta ahadan ashsholata fiqobrihi fa a’thinishsholata fi qobri

Ya Allah, jika engkau berkehendak memberikan sholat pada seseorang di dalam kuburnya, maka berikanlah itu padaku.

Ternyata benar, beliau datang ke dalam mimpi salah satu ulama bahwa beliau melaksanakan ibadah sholat dalam kuburnya. Ini adalah salah satu karomah yang diberikan oleh Allah Swt. pada beliau. (Lihat Tahdzibul kamal, Juz 4/hal. 342)

Beliau juga dapat dipastikan ketika malam jumat pasti bermalam di pemakaman. Biasanya beliau melakukan munajat semalam suntuk sampai waktu subuh tiba.

Beliau tidak pernah tertidur tiap ziarah kubur kecuali beberapa malam saja. Dalam tidurnya beliau mimpi semua ahli kubur keluar dari kuburannya. Di mimpi pertama ini, beliau melihat mereka keluar dengan pakaian mewah dengan wajah bersinar. Mereka diberi nampan berisi aneka makanan.

Namun, di tengah-tengah mereka terlihat seorang pemuda yang acak-acakkan. Wajahnya pucat, bajunya compang-camping. Air matanya menetes. Ia juga tidak terlihat membawa makanan sebagaimana yang lain.

Semua ahli kubur kembali ke kuburan masing-masing dengan wajah berseri-seri. Mereka pada bahagia. Kecuali pemuda ini, ia pulang dengan kepala merunduk dan pucat pasi. Melihat ada hal yang berbeda pada pemuda tersebut, Sayyidina Tasbit menyapa dan bertanya padanya,

يا فتى من انت بين هؤلاء وهم وجدوا المائدة ورجعوا مسرورين ولم يأت لك مائدة ورجعت ايسا من المائدة وانت مغموم محزون

Hei Pemuda, siapa engkau sebenarnya? Mereka terlihat membawa hidangan dan kembali dengan suka cita, sedangkan engkau tidak menemukan makanan. Engkau pulang dengan dengan tangan hampa, penuh duka cita.

Sedikit-banyak kita sudah bisa menebak apa yang melatarbelakangi perbedaan pemuda di atas dengan ahli kubur yang lainnya. Semua itu mungkin dikarenakan amal perbuatannya di dunia? Atau bisa saja dikarenakan amal keluarganya yang masih hidup? Atau yang lainnya. Lebih jelasnya, perhatikan jawaban pemuda tersebut di bawah ini,

يا امام المسلمين اني غريب بينهم ليس لي ذاكر بالاحسان والدعاء ولهم اولاد واقرباء وعشائر كلهم يذكرونهم بالدعاء والاحسان والصدقة في كل ليلة جمعة يصل منهم الخيرات وثواب الصدقات اليهم

Wahai Imamnya orang-orang islam, aku menjadi orang asing di tengah-tengah mereka. Tidak ada yang mengingatku sama sekali walau hanya dengan kebaikan dan doa. Adapun mereka, ada anak, keluarga, dan kerabat yang mendoakan, yang mengirim pahala amal baik dan sedekah. Tiap malam jumat pahala semua itu sampai pada mereka.

Pemuda ini bukan tidak memiliki keluarga, ia masih punya seorang ibu. Namun, setelah kematian dirinya, sang ibu menikah lagi. Saat itu, ia bermaksud melaksanakan ibadah haji bersama ibunya. Namun sesampainya di Mesir, ia dijemput ajal. Lantas, setelah ibunya menikah lagi, ia tidak ingat padanya walau hanya sekedar mendoakan.

Sayyidina Tsabit merasa iba pada pemuda tersebut. Beliau bertanya lagi perihal ibunya,

يا فتى اخبرني عن موضع والدتك فاخبرها عنك وعن حالك

Wahai pemuda, beritahu padaku dimana ibumu tinggal. Aku akan sampaikan tentang keadaanmu.

Pemuda itu langsung menjawab,

يا امام المسلمين هي في محلة كذا وفي دار كذا فاخبرها فان لم تصدقك فقل لها ان في جيبك مائة مثقال من فضة من ابيه وهو حقه تصدقك بهذه العلامة

 Wahai imam, Ibuku berasal dari kota ini dan ia tinggal di rumah ini. Sampaikan keadaanku padanya. Jika ia tidak percaya, maka sampaikan bahwa di dalam sakunya ada 100 mitsqol perak peninggalan ayahnya, dan itu adalah haknya. Ia pasti akan percaya.

Sayyidina Tsabit Al-Bunani langsung mencari ibu pemuda tersebut. Ketika sudah ketemu, beliau menyampaikan tentang keadaan anaknya. Ibunya baru percaya ketika beliau menyampaikan pesan sang anak tentang warisan ayahnya.

Setelah dicari, ternyata 100 mistqol perak memang ada dalam sakunya. Ia langsung pingsan. Setelah siuman, ia serahkan semua uang itu pada Sayyid Tsabit untuk disedekahkan.

Pada malam jumat berikutnya, Sayyidina Tsabit mimpi bertemu dengan pemuda itu lagi. Kali ini ia sama dengan penduduk kubur yang lain. Ia berpakaian mewah dan nampak bahagia sekali. Lalu ia berkata pada Sayyid Tsabit,

يا امام المسلمين رحمك الله كما رحمتني فبان انهما يؤذيان في القبور عند الاساءة ويفرحان عند الاحسان

Wahai imam, semoga Allah Swt. merahmatimu sebagaimana engkau telah mengasihiku. Sesungguhnya telah nyata bahwa keduanya bisa menyakiti yang ada di kubur saat berbuat maksiat. Sebaliknya keduanya akan membahagiakan ahli kubur bila melalukan kebaikan.

Artinya, amal baik keluarga, pahala sedekah untuk orang yang mati, dan amal baik lainnya, sangat dibutuhkan oleh penduduk kubur. Mereka tiap malam jumat menunggu kiriman dari keluarga dan sanak famili. Cerita ini bisa menjadi saksi dan motivasi pada kita untuk tetap melakukan tahlilan atau selamatan yang pahalanya dihadiahkan pada mayit. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here