Kisah Sayyid Khalid al-Baghdadi dan Biksu yang Menjadi Wali

0
1365

BincangSyariah.Com – Salah satu guru besar Thoriqoh Naqsabandiyah yang namanya dikenal sebagai ‘Mata Rantai Emas’ adalah Sayyid Khalid al-Baghdadi. Seorang auliya meninggal dunia sekitar 200 tahun silam dan dimakamkan di Damaskus.

Dikisahkan bahwa, ia memerintahkan seorang muridnya untuk naik haji. Ia berpesan agar si murid mencari pengalaman spritual yang nyata dari hamba-hamba Allah. Namun, ia tidak mendapatkan pengalaman apa-apa. Sebaliknya, justri yang ia dapatkan adalah kabar tentang seorang di Bombay yang memiliki kekuatan mengagumkan dan dapat melakukan apapun yang diminta. (Baca: Ciri Wali Abdal Menurut Kiai Sholeh Darat)

Murid ini marah dan heran, padahal sudah lama ia mengikuti Syekh Khalid Baghdadi tapi tidak dapat melakukan hal-hal yang mengagumpkan. Bagaimana mungkin, munurtnya, seseorang yang tidak beriman bahakn bukan seorang salik dan tidak beragama Islam mampu memiliki kekuatan yang mengagumkan? Kemudian ia menemui sang guru dan bertanya.

“Wahai Syaikhku, anda telah mengirim saya untuk menemukan auliya, dan saya menemukan orang yang tidak beriman tapi memilki kekuatan mengagumkan. Sementara saya tidak biasa apa-apa! Pelajaran apakah ini?”

“Hai, anakku! Jangan salah dan buruk sangka terlebih dahulu, karena kamu dapat berbuat kesalahan karenanya. Aku akan memberikan jawabannya esok hari”, jawab Sayyid Khalid.

Pada malam itu juga, Sayyid Khalid tiba di India dalam hitungan detik dengan membaca “Bismillahir-Rahmanir-Rahim”. Saat Sayyid Khalid tiba di depan pintu kediaman biksu yang dimaksud di India, ia mengembalikan ruhnya ke tubuh fisik. Ternyata Sayyid Khalid melepaskan kekuatan spritual mereka dari kungkungan tubuh. Para wali Allah bergerak meletakkan tubuh mereka di dalam ruh, jadi ruh yang membungkus tubuhnya, bukan sebaliknya.

Biksu dari Bombay mengetahui kedatangan Saikh Khalid dan sedang menunggu didepan pintu. Dia berkata, “O Syekhku, saya mengerti kalau anda akan datang melalui kekuatan. Saya telah meminta tolong seorang wanita muslim untuk menyiapkan makan malam untuk anda. Saya tahu anda tidak makan jenis makanan kami”.

Baca Juga :  Hukum Memperingati Haul Orang Saleh

Mereka duduk berhadapan. Sebelum berkata apapun, Sayyid Khalid meminta sang biksu untuk mengucapkan kalimat sahadat. Biksu itu duduk diam, berkonsentrasi dengan hatinya selama setengah jam lamanya. Sementara Sayyid Khalid diam.

Setengah jam kemudian, biksu itu mengangkat kepalanya dan berkata, “Asyhadu an-la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhamadar-Rasulullah”.

Sayyid Khalid bertanya, “Mengapa anda menunggu setengah jam dalam ketikdak percayaan padahal anda tahu bahwa percaya adalah suatu realitas”.

Dia berkata, “Wahai Syeikhku, saya meminta maaf, tapi selama 25 tahun saya selalu meminta izin kepada syekhku”. Dan saya berkelahi dengan ego. Maka ketika ego menolak, saya memutuskan mengucapkannya.

“Siapa syekhmu?” tanya Syeikh Khalid al-Baghdadi.

“Syekhku adalah nafsuku. Setiap saat, saya selalu bertanya kepada nafsuku dan mendengar apa yang nafsuku perintahkan. Apapun perintah ego, saya melakukan sebaliknya. Sebab sepanjang pengetahuan saya, ego hanya ingin menghancurhkan jiwa. Setelah saya mendapat jawaban, barulah saya mengucapkan syahadat” jawa sang biksu.

Ia melanjutkan, “Wahai Syekhku, selama 25 tahun, apapun yang ego katakan saat saya menanyakan pendapat, saya melakukan sebaliknya. Kini, ketika saya meminta pendapatnya, apa yang harus saya lakukan. Apakah mengucap kalimat syahadat atau tidak, ego saya berkata: “Apakah kamu gila? Kamu akan jatuh ke dasar jurang dan memanjat naik lagi? Kamu gila! Berhati-hatilah! Jangan pernah mengucapkan kalimat syahadat.”

Sayyid Khalid berkata, “Ketika kamu mengucap syahadat, kamu menerima kekuatan surga. Kami tidak bergantung pada mantra. Karena mantra hanya untuk setan”.

Keesokan harinya, Sayyid Khalid al-Baghdadi kembali ke hadapan murid-muridnya yang terdiri dari ratusan orang di Damaskus. Kemudian ia berkata kepada para mereka: “Wahai muridku, aku telah mengajar kalian selama 40-45 tahun. Tidak ada satupun diantara kalian yang menjinakkan egonya”

Baca Juga :  Biografi Ringkas Sayyidah Aisyah: Dari Kelahiran sampai Masa Pernikahan

Ia kemudian melanjutkan,” orang yang tidak beriman itu saja bisa memperoleh kekuatan yang mengagumkan, kekuatan kata-kata karena dia melakukan hal yang bertentangan dengan yang nafsunya kehendaki. Sedangkan kalian, aku memerintahkan kalian melawan nafsu, membunuh nafsu kalian agar menjadi hamba yang baik tapi kalian tidak menurutinya. Untuk alasan itulah kekuatan surga tidak pernah terbuka bagi kalian”. Wallahualam bish-showab.

Tulisan ini disarikan dari Ngopi di Pesantren: Renungan dan Kisah Inspiratis Kiai dan Santri karya Muhammad Thom Afandi, Kediri: ToTES Pubishing, 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here