Said Bin Amir: Pemimpin Yang Fakir

0
446

BincangSyariah.Com- Umar bin al-Khattab mengangkat Said bin Amir sebagai kepala di daerah himsho. Pada suatu hari utusan penduduk himsho datang kepada amirul Mukminin Umar bin Khattab.

“Tuliskan untukku nama-nama kaum fakir kalian agar aku dapat memberikan mereka harta kas orang-orang muslim”, perintah Umar kepada utusan-utusan delegasi dari daerah Himsho.

Mereka pun menuliskan nama-nama kaum fakir dan di antara daftar nama itu terdapat nama Said bin Amir,

Umar pun bertanya kepada mereka:” siapa Said bin Amir?”

“Pemimpin kami”.

“Pemimpin kalian fakir?”

“Iya, demi Allah, ia biasa melewati hari-harinya tanpa tungku api di rumahnya”.

Umarpun menangis. lalu meletakkan uang seribu dinar di dalam kantong.

“Berikanlah uang ini untuk menghidupinya.”

Ketika setibanya utusan itu di Himsho, mereka menyerahkan kantong itu kepada Said.

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun”. Kata Said seakan ia tertimpa musibah.

“Kenapa?” “apakah Amirul mukminin wafat?” tanya istrinya.

“ Lebih dahsyat dari itu, dunia telah masuk untuk merusak akhiratku”.jawab Said.

“Bebaskan saja dirimu dari dunia itu” nasehat istrinya kepada Sa’id, padahal istrinya belum tahu mengenai dinar yang diberikan umar kepada suaminya.

“Apakah kamu mau membantuku untuk terbebas dari dunia ini?”

”ia” jawab istrinya dengan tegas

lalu Sa’id pun membagi-bagikan dinar itu kepada kaum muslim yang fakir.

______

Di lain hari ketika Umar bin Khattab blusukan ke daerah Himsho, ia bertemu dengan masyarakat di situ dan bertanya kepada mereka tentang sosok Said bin Amir. Mereka dengan bangganya memuji pemimpinnya itu, kecuali tentang tiga hal yang membuat mereka tidak menyukai Sa’id. Seketika itupun Umar menyuruh untuk memanggil Said untuk dihadapkan antara ia dengan masyarakatnya.

Baca Juga :  Potret Sifat Dasar Manusia dalam Al-Hikam

“Apa yang kalian keluhkan tentang pemimpin kalian?”tanya Umar.

“Sungguh jika ia berangkat ke kantor selalu telat”.

Umar pun memandang Said menyuruh untuk segera menjawab.

“Demi Allah sungguh aku tidak suka membicarakan tentang ini, aku tidak memiliki pembantu, maka akulah yang harus membuat adonan roti untuk keluargaku, kemudian aku menunggu sampai agak kemerah-merahan, barulah aku membuat roti dari adonan itu. Setelah itu aku mengambil air wudlu dan pergi ke kantor.”

“Apa yang kalian sangsikan lagi untuk Said?”

“Sungguh ia tidak pernah mau menerima tamu ketika malam”.

“Demi Allah aku pun tidak suka memberi tahu hal ini, sungguh kala siang hari, waktuku aku habiskan untuk melayani kalian, oleh karena itu kala malam hari, waktuku aku habiskan hanya untuk Allah Azza wa Jalla semata”. Jawab Said

“Lalu apa lagi yang kalian adukan tentang Said?”

“Sungguh, setiap bulan ada satu hari ia tidak mau bertemu dengan seorang pun.”

“lalu apa alasanmu mengenai hal ini Said?” sidang Umar.

“Aku tidak memiliki pembantu untuk mencuci bajuku, dan aku tidak memiliki baju lain selain yang aku pakai ini, dan di hari itu aku pergunakan untuk mencuci bajuku, akupun menunggunya sampai kering, barulah aku bisa pergi untuk bekerja lagi.”

“Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan dugaanku tentangmu.”kata Umar lega setelah menjadi hakim diantara Said dan masyarakatnya.

*Diterjemahkan dari kitab al-Arabiyyah li al-Nasyiin juz 5.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here