Kisah Sahabat Abu Bakar Masuk Islam

1
6867

BincangSyariah.Com – Imam Muhammad Bin Abu Bakar dalam hadis keenam kitab al-Mawaizh al-‘Ushfuriyyah menceritakan kisah awal mula keislaman Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Suatu ketika Sayyidina Abu Bakar Ra. mimpi melihat bulan dan matahari masuk ke kamarnya. Lalu kedua benda tersebut ia pungut dan diletakkan di dadanya. Lalu ditutupi dengan selendangnya.

Mimpi ini beliau ceritakan kepada salah satu pendeta (nasroni) di Syam. Kebetulan pada saat itu beliau lagi berdagang ke Negeri Syam. Beliau ditanya tentang beberapa hal oleh si pendeta. Mulai dari asal negara, asal marga, dan profesi. “Saya seorang pedagang dari Bani Tayim, Mekkah”, jawab beliau.

“Sebentar lagi akan muncul seorang nabi dari Bani Hasyim. Namanya Muhammad Al-Amin. Dia adalah penutup risalah kenabian. Tanpanya, Allah Swt. tidak akan menciptak langit dan bumi beserta isinya. Dia adalah imam para utusan. Engkau akan masuk pada agamanya. Engkau akan menjadi sahabat setianya. Engkau akan menjadi kholifah pertama setelah wafatnya beliau”, penjelasan sang pendeta tentang arti mimpi Sayyidina Abu Bakar ra.

“Ciri-ciri nabi tersebut sudah tertera dalam Kitab Taurat, Zabur, dan Injil”, lanjut pendeta. Mendengar penjelasan tersebut, Sayyidinan Abu Bakar langsung merasakan kerinduan pada Nabi Muhammad Saw., di Kota Mekkah.

Ketika sudah sampai ke Mekkah, beliau tiap hari menemui Nabi Muhammad Saw. Beliau ditanyakan oleh nabi, mengapa belun masuk islam sedangkan beliau selalu duduk bersama nabi. “Biasanya para nabi dibuktikan dengan berbagai mukjizak. Mukjizat anda apa?”, tanya Abu Bakar ra.

“Tidak cukupkah mimpi yang kau alami waktu di Syam? Tidak cukupkah tafsir mimpi dari pendeta yang kau datangi dan keislamannya?”, tanya nabi. Tanpa menjawab, Sayydina Abu Bakar langsung membaca dua kalimat syahadat. Karena apa yang ditanyakan nabi padanya belum diceritakan kepada orang lain, tapi ternyata nabi sudah mengetahuinya.

Baca Juga :  Abu Bakar as-Shiddiq Sang Penyelamat Negara Madinah

Selain cerita tentang islamannya Sayyidina Abu Bakar ra, Imam Muhammad Bin Abu Bakar jiga menceritakan tentang 2 pemuda bersaudara yang beragama majusi. Keduanya ingin membuktikan kebenaran agama yang dianut. Bertahun-tahun menyembah api, apa iya tidak akan membakar tubuh keduanya?

Yang mencoba pertama kali adalah sang adik. Ia langsung teriak kesakitan. Tangannya melepuh gara-gara dimasukkan ke kobaran api. Setelah itu, si adik langsung masuk islam. Adapun kakaknya tetap bersikukuh dengan agama majusi. Ini karena ia malu pada tetangga-tetangganya.

Singkat cerita, keduanya berpisah. Sang adik pindah rumah beserta istri dan anak-anaknya. Lalu ekonominya terganggu setelah pindah rumah. Satu keluarga tiap hari kelaparan.

Akhirnya ia berangkat ke pasar untuk cari kerja. Hari pertama, tak satupun pekerja melirik padanya. Ia tidak menemukan lowongan pekerjaan. Ia pergi ke masjid yang sudah ditinggalkan jemaahnya. Ia beribadah sampai larut malam. Lalu ia pulang dengan tangan kosong. Istrinya beserta anak-anaknya kelaparan. Ia bilang gaji hari ini akan diberikan besok, sabar ya.

Hari kedua sama dengan hari pertama. Ia tidak menemukan lowongan pekerjaan. Lagi-lagi ia pergi ke masjid hingga larut malam. Pulang dengan tangan hampa.

Hari ketiga juga sama dengan hari-hari sebelumnya. Ia langsung ke masjid. Ia menangis dalam munajatnya. “Ya Allah, Engkau telah memuliakanku dengan islam. Maka dengan keberkahan agama ini dan keberkahan hari Jumat yang mulia, angkatlah kesempitan nafkah keluarga hamba dan berilah kami rizki yang tidak disangka-sangka. Dami Allah, hamba malu pada keluarga. Hamba khawatir imam mereka goyah gara-gara kesulitan ini.”

Munajatnya langsung dijawab oleh Allah Swt. dengan mengutus seseorang ke rumahnya laki-laki tersebut. Ia membawa sekantong uang yang diberikan pada istrinya. “Ini upah suamimu selama dua hari. Ini halal. Perbanyaklah melakukan kebaikan pada hari jumat. Karena pahalanya berlipat-lipat. Amalan sedikit pada hari jumat, balasannya banyak dari Allah Swt. “, ucap utusan Allah Swt. tersebut.

Baca Juga :  Masuk Islam Pertengahan Hari Ramadan, Wajibkah Puasa?

Laki-laki ini pulang dengan tangan hampa lagi. Betapa malunya ia pada keluarga di rumah. Iseng-iseng di tengah jalan ia mengambil pasir dan dimasukkan ke kantong yang dibawa agar terlihat membawa beras. Sampai di depan rumah ia heran, ternyata rumah sudah penuh dengan makanan. Ia disambut oleh istrinya yang langsung mengambil bingkisan yang dibawa sang suami. Setelah dibuka ternyata isinya bukan pasir lagi, tapi beras.

Berkenaan dengan cerita di atas, Imam Al-Faqih berkata: angkatlah kedua tanganmu ke langit, lalu katakanlah:

بحرمة الجمعة اغفر لنا ذنوبنا واكشف عنا كربتنا

Ya Allah Swt., dengan kehormatan hari Jumat, ampunilah dosa-dosa kami. Juga, hilangkanlah kesedihan-kesedian kami.

Pemuda dalam cerita ini, ekonominya tersendat -sendat. Ia berdoa dengan doa tersebut. Berkat hari jumat, semua jemaah berkumpul di satu titik. Berkat hari jumat, amalan sedit menjadi banyak. Wallahualam,

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here