Kisah Bapak Ilmu Nahwu, Abu Al-Aswad Ad-Duali bersama Istrinya

1
1340

BincangSyariah.Com – Di era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib terdapat peristiwa penting yang terekam dalam sejarah penulisan Al-Quran. Kesalahan-kesalahan yang ada menjadi motivasi untuk merumuskan tanda baca dalam Al-Quran.

Tokoh utama di balik sejarah ini adalah Abu Al-Aswad Ad-Duali. Nama lengkapnya adalah Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yu’mar bin Du’ali. beliau biasa dipanggil dengan nama Abu Al-Aswad, sementara Ad-Duali merupakan nisbat dari kabilahnya yang bernama Du’al dari Bani Kinanah.

Abu Al-Aswad Ad-Duali adalah sosok yang berkiprah besar bagi Muslimin. Beliau adalah tokoh yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat. Dibalik sisi kepopulerannya, tak kalah penting  bahwa latar belakang keluarganya juga berasal dari tokoh ahli bahasa. Salah satunya adalah istri Abul Aswad Ad-Duali. Beliau adalah Ummu Auf.

Dalam kitab Nisa’ Min At-Tarikh disebutkan bahwa nama lengkap dari istrinya tidak begitu populer. Namanya populer dengan sebutan Ummu Auf. Dirinya pernah berdiri di depan khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan memyampaikan beberapa kalimat. Beliau dikenal sebagai wanita pujangga. Setiap kalimat yang diuntainya begitu indah dan tertata. Beliau mampu memadukan antara satu kalimat dengan kalimat lainnya sebagaimana dalam keindahan balaghah.

Beliau dikenal oleh sebagian masyarakat dengan kalam hikmahnya. Selain itu kepopuleran suaminya yang menjadikannya terkenal oleh para pemuka Arab. Abu Al- Aswad Ad-Duali begitu dekat dengan Muawiyah. Sesekali Muawiyah menanyakan suatu masalah kepadanya hingga dijawab oleh Abu Al-Aswad Ad-Duali dengan keluasan ilmunya.

Suatu hari , keluarga Abu Al-Aswad Ad-Duali tertimpa suatu masalah. Ummu Auf mengadu suatu permasalahan yang terjadi pada rumah tangga mereka. Beliau mendatangi Muawiyah dan mengadu kepadanya untuk mendapatkan haknya.

Baca Juga :  Tsa’lab An-Nahwi; Ulama yang Terjatuh ke Lubang karena Keasyikan Membaca

Diceritakan dalam Tarikh Madinat Dimashq karya Ibnu ‘Asakir, suatu hari Abu Al-Aswad Ad-Duali sedang bermusyawarah, dan berdiskusi dengan sejumlah tokoh Quraisy dan beberapa pemuka bangsa Arab, Mu’awiyah termasuk salah seorang peserta dalam forum diskusi itu.

Saat diskusi sedang berlangsung, tiba-tiba dari kejauhan terlihat istri Abu Al- Aswad Ad-Duali yang mendekat menuju forum diskusi itu. Sang khalifah tidak mengetahui kalau wanita itu adalah istri Abu Al-Aswad. Kedatangannya pada khalifah ingin mengadu permasalahan dalam rumah tangganya.

Istri Abu Al-Aswad membuka percakapan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Ya Amiral Mukminin, Ada satu masalah yang memaksaku untuk mengadukannya kepadamu. Masalah ini belum aku temukan jalan keluarnya. Aku menginginkan perlindungan dari masalah-masalah yang menimpa  rumah tanggaku.” Kata Ummu Auf.

Mendengar aduan wanita itu, lantas Mu’awiyah pun menimpali, “Siapa suamimu yang berbuat demikian itu?” Tanya Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Dia adalah Abu Al-Aswad Ad-Duali,” Jawab perempuan itu dengan tegas.

Mu’awiyah yang kaget terheran-heran lantas meminta penjelasan kepada Abu al-Aswad ad-Du’ali. Beliau pun mengonfirmasi kebenaran perkataan  perempuan itu.  Beliau mentalaknya  lantaran  tidak menyukai perangainya.

Akhirnya Muawiyah memutuskan untuk mengakhiri forum diskusi dengan para pemuka Arab dan meminta keduanya untuk menemui Muawiyah lain waktu untuk memutuskan perkara rumah tangga mereka. Hingga telah tiba waktu yang ditentukan oleh Muawiyah. Kala itu mereka menyampaikan terkait hak asuh putri mereka . Setelah beberapa hal telah dipertimbangkan oleh Muawiyah , akhirnya hak asuh putrinya pun jatuh pada sang istri. Kala itu Abu Al-Aswad Ad-Duali terdiam tidak menimpal keputusannya. Beliau menerima keputusan yang telah ditentukan oleh Muawiyah.

Wallahu A’lam Bisshawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here