Kisah Rasulullah dengan Seorang Pezina

0
594

BincangSyariah.Com –Zina merupakan dosa besar yang dilarang oleh agama islam. Karena zina bisa merusak dua dari lima hal yang dijaga oleh syariat (al-dharuriyyat al-khamsah), yaitu kehormatan, dan jelasnya garis keturunan seseorang.

Maka tak heran, jika hukum islam menyediakan hukum yang sangat berat bagi para pelaku zina, yaitu, seratus kali cambukan bagi pelaku zina yang masih berstatus single (ghair muhshan), dan rajam bagi pelaku zina yang berstatus menikah (muhshan). lalu timbul sebuah pertanyaan, apakah dosa pelaku zina bisa diampuni oleh Allah SWT melalui jalur pertaubatan, meskipun ia tidak dikenakan hukum had, karena ia merahasiakan hal tersebut?

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kita pelajari dari kisah Rasulullah SAW dengan salah seorang sahabat yang bernama Maiz bin Malik yang ketika itu membuat sebuah pengakuan yang menggemparkan di kalangan sahabat bahwasannya ia telah melakukan perzinahan. Padahal ketika itu status Maiz bin Malik telah menikah. Ia melakukan pengakuan terhadap perbuatannya sebagai bukti keseriusannya dalam bertaubat, sampai-sampai Rasulullah SAW menyatakan bahwasannya pertaubatan Maiz bin Malik bisa mencukupi untuk memohon ampunan Allah SWT bagi seluruh penduduk Madinah ketika itu.

Diriwayatkan dari sahabat Buraidah, ia berkata: “suatu ketika Maiz bin Malik datang kepada Rasulullah SAW lalu ia berkata “wahai Rasulullah bersihkanlah aku! Rasulullah SAW pun menjawab “apa-apaan kamu, mohon ampunlah kepada Allah, dan bertaubatlah”, lalu Maiz pun kembali mendekat kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bersihkanlah aku”

RasulullahSAW pun menjawab “apa-apaan kamu, mohon ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah”, Maiz pun kembali mendekat lagi dan berkata, “Wahai Rasulullah bersihkanlah aku”, Rasulullah pun menjawab kembali “apa-apaan kamu, mohon ampunlah kepada Allah dan bertaubatlah, sampai pada kali keempat Maiz mengulang perkataannya tersebut, Rasulullah SAW pun bertanya, dari apa aku harus membersihkanmu?

Baca Juga :  Hukuman Menuduh Orang Lain Berzina

Maiz pun menjawab, dari dosa zina wahai Rasulullah, kemudian Rasulullah SAW pun bertanya kepada para sahabat yang ketika itu hadir, “apakah dia gila?”, merkapun menjawab, “tidak wahai Rasul”, Rasulullah SAW kembali bertanya, “apakah ia sedang mabuk?” lalu salah seorang sahabat maju mendekati Maiz untuk mencium aroma bau mulutnya, dan ternyata tidak tercium bau minuman, lalu Rasulullah SAW kembali bertanya kepada Maiz, “apakah engkau benar-benar telah berzina?”

Maiz pun menjawab “ya wahai Rasulullah” maka Rasulullah SAW memerintahkan beberapa sahabat untuk membawanya dan melaksanakan hukuman rajam kepadanya. Setelah kejadian itu para sahabat terbagi menjadi dua kelompok, sebagian ada yang mencela Maiz karena kesalahannya, dan sebagian lagi ada yang memujinya karena kesungguhannya dalam bertaubat, hingga pasca dua hari kejadian tersebut Rasulullah SAW mendatangi para sahabat dan meminta mereka untuk memohonkan ampun bagi Maiz, seketika itu para sahabat pun berkata “semoga Allah mengampuni Maiz”, kemudia Rasulullah SAW pun berkata “ tidak ada pertaubatan yang lebih baik dari taubatnya maiz, seandainya taubatnya digunakan untuk seluruh penduduk Madinah, niscaya itu sudah mencukupi” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah)

Dari riwayat tersebut, setidaknya ada beberapa sikap Rasulullah SAW yang bisa kita pelajari ketika kita menghadapi orang yang mengakui kesalahannya dan dosanya.

Pertama, ketika seseorang mengakui bahwa ia telah berdosa dan ingin melakukan sesuatu sebagai penghapusan dosanya, hendaknya kita tidak penasaran dengan dosa apa yang telah ia lakukan. Cukup arahkan ia agar ia meminta ampun kepada Allah SWT dan bertaubat kepada-Nya.

Karena jika kita penasaran untuk mencari tahu apa yang telah ia lakukan, kemudian kita mengetahui bahwa dosanya telah diatur dalam hukum had, maka penerapan hukum had sesuai aturan agama wajib dilaksanakan. Dan ini bukanlah sesuatu yang dipilih Rasulullah SAW pertama kali ketika menghadapi seorang pendosa yang memang mengakui ia telah berdosa, dan memiliki keinginan yang tulus untuk bertaubat. Beliau lebih memilih mengarahkan orang tersebut agar dosa yang ia lakukan cukup ia dan Allah SWT yang mengetahui, dan hendaknya ia memohon ampun kepada Allah SWT, bertaubat kepada-Nya, serta berjanji untuk tidak mengulangi dosa tersebut.

Baca Juga :  Metode Dakwah Nabi Menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub

Barangkali dengan hal tersebut, seseorang yang melakukan dosa besar sekalipun, masih memiliki waktu untuk memperbaiki dirinya. Dan jika ada potensi kebaikan dalam diri seorang pendosa itu, yang bisa bermanfaat bagi umat, maka potensinya akan dapat terus digunakan sebagai bentuk bukti keseriusan pertaubatannya, dan penebusan dosa yang telah ia lakukan.

Kedua, dari sikap Rasulullah SAW yang masih mempertanyakan kewarasan Maiz bin Malik, serta kesadarannya dalam mengakui perbuatan dosa yang berimplikasi pada penerapan hukum had, seakan Rasulullah SAW berusaha agar Maiz menarik pengakuannya dan melakukan pertaubatan kepada Allah SWT tanpa harus diterapkan kepadanya hukum had. Karena sejatinya, seorang hakim yang salah dalam memaafkan itu lebih baik dari hakim yang salah dalam menetapkan hukuman.

Ketiga, jika ada seseorang yang memang sudah mengakui dosanya, bahkan ia rela untuk diterapkan kepadanya hukum had, tida seyogianya ada satu orangpun yang mencelanya. Karena sejatinya, pertaubatan merupakan sebuah ibadah yang memiliki nilai tersendiri di hadapan Allah SWT, Taubat tak akan mampu dilakukan oleh seorang hamba, kecuali jika ia memiliki jiwa penghambaan yang sempurna kepada Allah SWT. Itulah, mengapa Rasulullah SAW sampai menegaskan, bahwa taubatnya Maiz bin Malik bisa mencukupi, jika digunakan untuk pertaubatan seluruh penduduk kota Madinah.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here