Kisah Rabi’ah al-Adawiyah dan Dua Puluh Potong Roti

0
559

BincangSyariah.Com — Suatu saat, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, sebagaimana termaktub dalam Jejak-jejak Para Sufi, muncul dalam benak dua orang ulama terkemuka untuk mengunjungi kediaman Rabi’ah al-Adawiyah.

“Mudah-mudahan nanti ketika kita sampai di kediaman Rabi’ah al-Adawiyah, ia menyuguhkan makanan kepada kita”, kata dari salah seorang ulama yang sedari tadi telah menahan lapar. “Pastinya, makanan yang nantinya akan disuguhkan kepada kita diperoleh secara halal”, sahut ulama yang lainnya sembari meneruskan perjalanan menuju kediaman Rabi’ah al-Adawiyah. (Baca: Kisah Sufi Wanita Rabi’ah al-‘Adawiyah: Pernah Jadi Budak Sampai Tidak Menikah)

Setibanya kedua ulama tersebut di depan kediaman Rabi’ah al-Adawiyah, sambutan yang sangat hangat telah dipersiapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Oleh Rabi’ah al-Adawiyah, keduanya dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan dipersilahkannya di ruang tamu yang bersih lengkap dengan dua potong roti di atas meja yang tertutupi sepotong serbet (baca: kain).

Melihat hal tersebut, terang saja, keduanya merasa sangat gembira. Apa yang telah mereka harapkan sedari dalam perjalanan tadi menjadi kenyataan. Dengan penuh harap cemas, keduanya menunggu aba-aba dari Rabi’ah al-Adawiyah untuk mempersilahkan memakan roti tersebut.

Namun, harapan tersebut seketika sirna ketika datang seorang pengemis yang menghampiri kediaman Rabi’ah al-Adawiyah. Kedua roti yang telah dipersiapkan untuk kedua ulama tersebut justru diberikan kepada seorang pengemis tersebut. Meskipun kecewa, kedua ulama tersebut tidak berani berkata apa-apa di hadapan Rabi’ah al-Adawiyah. Keduanya hanya bisa diam sembari menahan rasa lapar yang sedari tadi mereka rasakan.

Selang beberapa saat, tanpa di sangka, datang seorang pelayanan wanita yang membawa beberapa potong roti yang masih hangat. “Majikanku menyuruhku untuk mengantarkan roti ini kepadamu”, kata sang pelayan.

Baca Juga :  Cinta Sejati Rabiah Al-Adawiyah

“Mungkin roti-roti ini bukan untukku”, jawab Rabi’ah al-Adawiyah dengan mantap setelah sempat menghitung jumlah roti yang dibawa oleh sang pelayan tersebut.

“Majikanku benar-benar telah mengirimkan roti-roti ini untukmu, wahai Rabi’ah al-Adawiyah”, sahut pelayan berusaha untuk meyakinkan Rabi’ah al-Adawiyah.

Mendengar hal tersebut, Rabi’ah al-Adawiyah hanya terdiam dan sangat tegas menolak pemberian tersebut. Dengan penuh perasaan heran, sang pelayan pun kembali ke rumah majikannya. di tengah perjalanan, ia sempat menyesali perbuatannya karena telah sempat memakan dua potong roti. Ia tidak menyangka bahwa Rabi’ah al-Adawiyah telah mengetahui jumlah roti yang sesungguhnya, yakni berjumlah dua puluh potong roti.

Setelah menggenapkan kembali jumlah bilang roti tersebut, sang pelayan kembali bergegas menuju kediaman Rabi’ah al-Adawiyah. Setibanya pelayan tersebut, Rabi’ah al-Adawiyah pun kembali menghitung roti pemberian tersebut. “Roti-roti ini memang telah dikirimkan oleh majikanmu untukku”, kata Rabi’ah al-Adawiyah dengan mantap menerima pemberian tersebut.

Wajah muram penuh kekecewaan yang dimunculkan oleh kedua ulama yang sedang kelaparan tersebut seketika berubah menjadi wajah yang penuh keceriaan ketika melihat hal tersebut. Oleh Rabia’ah al-Adawiyah, pemberian roti tersebut kemudian diberikan kepada kedua ulama tersebut.

Sembari menikmati roti demi roti yang disuguhkan tersebut, dengan penuh rasa heran atas kejadian tersebut, salah seorang ulama tersebut berkata, “Apakah rahasia dibalik semua ini?”.

“Tatkala tadi engkau menghidangkan dua potong roti, dan datang seorang pengemis, engkau justru memberikan roti tersebut kepadanya. Namun ketika seorang pelayan datang untuk yang pertama dengan membawa beberapa potong roti, engkau justru menolaknya. Tetapi ketika sang pelayan datang untuk yang kedua kalinya, dengan membawa tambahan roti, engkau justru menerimanya dan menyuguhkan semuanya kepada kami”, tanya ulama yang lainnya.

Baca Juga :  Ummu Mahjan: Marbot Masjid Wanita di Masa Nabi Saw.

“Tadi, sewaktu kalian berdua datang kemari, aku tahu bahwa kalian sedang dalam keadaan lapar. Oleh karena itu, aku berkata kepada diriku sendiri: Apakah aku harus tega memberikan dua potong roti kepada dua orang ulama yang terhormat?. Karena itulah, mengapa tadi ketika datang seorang pengemis, aku memberikan dua potong roti tersebut kepadanya”, jawab Rabi’ah al-Adawiyah.

Mendengar jawaban tersebut keduanya hanya bisa terdiam.

“Kemudian aku berdoa kepada Allah SWT : Ya Allah! Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan memberikan pahala sepuluh kali lipat. Dan janji-Mu itu kupegang teguh. Sekarang aku sedekahkan dua potong roti ini untuk menyenangkan-Mu, semoga Engkau berkenan memberikan dua puluh potong roti sebagai imbalannya”, sambung Rabi’ah al-Adawiyah.

“Ketika pelayan tersebut datang untuk yang pertama kalinya, aku menghitung roti tersebut, dan jumlahnya hanya delapan belas potong. Aku tahu bahwa roti tersebut telah dicuri sebanyak dua potong roti atau bahkan roti-roti tersebut memang bukan untuk diserahkan kepadaku. Namun ketika pelayan tersebut datang untuk yang kedua kalinya membawa roti-roti tersebut, dan ku hitung telah genap dua puluh potong roti, barulah ku yakin bahwa roti-roti tersebut memang ditujukan untukku”, tandas Rabi’ah al-Adawiyah.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here