Kisah Perang Bani Musthaliq, Perang di Bulan Sya’ban

0
1126

BincangSyariah.Com- Bulan Sya’ban yang kerap didengar dengan bulan yang penuh kebaikan ternyata juga tidak hanya menyimpan sejuknya keutamaan-keutamaan amal perbuatan yang berdimensi ibadah murni (mahdhah). Tapi dibalik itu ada peristiwa yang sangat menakutkan yaitu pertumparan darah (peperangan) antara penduduk muslim dengan non muslim dan usaha perpecahan yang dilakukan oleh orang-orang munafik.

Peperangan yang terjadi dibulan Sya’ban ini dikenal dengan perang Bani Musthaliq atau Muraisi’. Tepatnya pada tahun 5 atau 6 Hijriyah di daerah Fur’un yang berada diantara Madinah dan Mekah. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bagian 2, hlm.289)

Perang ini dikenal dengan peperangan Nani Musthaliq karena peperangan ini terjadi antara Rasulullah Saw dan para pengikutnya dengan kabilah (suku) Musthaliq yang berasal dari suku khuza’ah yang bertimpat tinggal di didekat air Muraisi’ disekitar Qudaid. Itu sebabnya peperangan juga dikenal dengan peperangan al-Muraisi’. (Yaqut, Hamawi, Mukjamul Buldān, jld.5, hlm.118)

Kabilah Bani Musthaliq tinggal didekat kota mekkah. Mereka layaknya kaum musyrikin lainnya disaat datangnya Islam. Memusuhi dan tidak suka dengan kedatangan agama Islam. Mereka juga menjalin hubungan diplomasi dengan  penduduk Quraiys dengan motif kepentingan perdagangan. Tapi walaupun demikian Rasulullah Saw tetap bersikeras menjaga toleransi dengan mereka. (Raibi, Marwiyāt Ghazwah Bani al-Mushtaliq, Imadah al-Bahts al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyah, hlm.63)

Poin yang perlu diperhatikan dalam perang ini adalah pengkhianatan dan pembuatan perpecahan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang munafik. Surah Al-Munafiqun turun ke Nabi saw setelah perang ini disebabkan pembuatan perpecahan ini.

Faktor utama yang menjadi pemicu peperangan bani Musthaliq adalah kebencian yang menyulut amarah bani Musthaliq terhadap Nabi Muhammad dan pengikutnya hingga pada akhirnya berita sampai kepada Nabi saw bahwa Harits bin Abi Dhirar, kepala suku bani Musthaliq, mengumpulkan kaumnya dan beberapa suku Arab untuk memerangi kaum muslimin. ( Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm.404)

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Para Nabi pun Cemburu

Setelah kebenaran berita tersebut sampai kepada Nabi Muhammad Saw, beliau bersegera mengumpulkan pasukan menuju arah bani Musthaliq karena lokasi perang tidak jauh dari tempat berdiamnya Rasulullah Saw dan pengikutnya. Pemegang panji Anshar dalam peperangan ini adalah Saad bin Ubadah sementara dari golongan muhajirin dipegang oleh Abu Bakar dan Ammar Bin Yasir. ( Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm.404)

Bergabung dalam pasukan yang dikumpulkan Nabi Muhammad Saw sejumlah orang-orang munafiq. Dikatakan demikian karena sekelompok ini ikut berperang tidak betul-betul ingin membela Islam. Akan tetapi karena tujuan ingin mendapatkan harta rampasan perang. ( Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm.404)

 

Akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin. Bani Musthaliq dibuat porak-poranda. Mereka menyerah dan takluk pada kekuatan yang dimiliki oleh kaum muslimin. Sehingga, sebagian mereka terbunuh, wanita, anak dan harta mereka jatuh ke tangan kaum muslimin. Kemenangan ini terjadi tidak lain karena karena perang ini dipimpin langsung oleh Nabi saw. ( Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm.404)

Seusai perang, tawanan yang jatuh kepada pasukan islam tetap menjadi kendali Rasulullah dengan memerintahkan kepada pasukan islam agar tetap dikasihani dengan bersikap lemah lembut. Mereka dilarang keras menyakitinya dengan menghilangkan sisi kemanusiannya hingga disiksa habis-habisan. (Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm.410)

Juwairiyah putri Harits bin Abi Dhirar, salah seorang tawanan, diberikan kepada Tsabit bin Qais (atau anak pamannya) sebagai hamba sahaya. Tapi dia berjanji berjanji akam memberikan uang kepada Tsabit agar dibebaskkan. Akhirnya setelah dibantu oleh Rasulullah Saw Juwairiyah menjadi bebas dan dinikahi oleh beliau( Ibnu Ishak, kitab al-Sair, hlm.263). Sementara tawanan yang lain berkat pernikahan Nabi Muhammad Saw dengan Juwairiyah juga ikut dibebaskan oleh kaum muslimin. (Waqidi, kitab al-Maghāzi, jld.1, hlm. 411)

Baca Juga :  Menyoal Hak Kekayaan Intelektual dalam Islam

Pasca peperangan dan setelah mendapat kemenangan ternyata sekelompok orang-orang yang yang juga ikut berperang dengan motif hartawi bikin ulah dengan menbar perpecahan antara Muhajirin dan Anshar. Kejadian ini diperakarsai oleh Abdullah bin Ubay. Dia dengan pikiran-pikiran busuknya membuat propaganda untuk menebar kebencian yang pada akhirnya membuat Nabi Muhammad Saw marah hingga Allah menurunkan salah satu surah yang bernama alMunafiqun. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bagian 2, hlm.291-292)

Tidak berhenti disitu saja, disaat kepulangan kaum muslimin berada ditengah perjalanan ternyata ulah sekelompok orang-orang munafiq ini masih saja berani menebar berita bohong dan hoaks (khabar ifk) dengan menuduh salah satu Istri Nabi Muhammad Saw dengan perbuatan yang keji dan tidak pantas, yang pada akhirnya pelakunya diketahuai dan diamafkan oleh Rasulullah Saw. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, bagian 2, hlm.297)

Dapat disimpulkan bahwa bulan Sya’ban juga menjadi bukti sejarah terjadinya peperangan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Ia juga menjadi awal sejarah perpecahan dalam tubuh kaum muslimin yang dilancarkan oleh orang-orang munafik yang ikut berperang karena faktor materi bukan hati nurani. Kebusukan demi kebusukan dilancarkan oleh mereka guna memenuhi hasratnya tanpa peduli perpecahan dan caci maki yang ditebarkan.

Maka dari itu, kita harus kembali ke jalan yang benar yaitu hati nurani dalam menentukan pilhan, termasuk dalam menentukan pilihan dalam pemilu mendatang. Agar tidak melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya dan hasilnya juga akan menjadi sangat baik tanpa adanya ujaran kebencian. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here