Kisah Pemuda Tersesat; Taubatnya Pelaku Maksiat Utbah Ghulam

1
35

BincangSyariah.Com- Syahdan, hiduplah seorang pemuda. Ia termasukpemuda tersesat ahli maksiat. Pelbagai kemaksiatan telah dikerjakannya. Rasanya, tak ada lagi perbuatan bejat dan maksiat di atas dunia yang tak ia cicipinya.

Ia dikenal sebagai yang fasik. Orang yang rutin mengerjakan dosa besar. Siang malam ia mendenguk khamar. Saban hari kerjaannya mabuk. Ketika selesai mabuk, ia membegal orang. Malam hari ia berzina. Begitu selalu siklus hidupnya.

Alkisah suatu waktu ia sedang di luar rumah. Ia menyusuri area daerah tempat tinggalnya. Kala asyik berjalan-jalan, seketika matanya tertuju pada suatu objek. seorang wanita cantik. Lama ia memandangnya, tak juga mau redup kelopak matanya. Cantik nian wanita itu.

Iniah yang disebut, cinta pada pandangan pertama. Sejak pertama melihat gadis nan ayu dan cantik itu, wajahnya selalu terbayang. Khayal demi khayal melintas di kepalanya. Dengan menggengam tangan pria tukang maksiat ini berkata, “Aku harus memilikinya,” begitu bulat tekatnya.

Berangkatlah pemuda ini untuk mencari identitas, sosok perempuan cantik tadi. Penyelidikan dan investigasi ia lakukan, demi mengetahui siapa nian wanita ini. Walhasil, tekat nan bulat itu pun menemui ujungnya. Ia tahu alamat dan tempat tinggal gadis itu.

Suatu malam, ia berangkat menuju kediaman gadis itu. Pelbagai persiapan telah ia bawa. Niatnya satu; pantang pulang sebelum memiliki bunga mawar nan kembang itu.

Sesampai di rumah perempuan cantik tadi, ia mengutarakan maksud hatinya. Ia mengutarakan isi hatinya dengan jujur. Ia telah jatuh cinta, sejak melihat perempuan itu. Siang malam wajah cantik itu terlintas di pikiran dan hatinya. Kala itu, jantungnya  berdegup kencang. Di atas batas normal. Ia telah dirasuki virus-virus cinta.

“Yang mana bagian tubuh ku yang engkau suka. Dan kamu anggap bagus. Bagian mana dari tubuh ku yang kamu cintai. Sehingga kamu ingin memiliki ku seutuhnya,” tanya perempuan itu to the point.

Pemuda yang terjangkit virus cinta itu bertutur, “Aku tertarik dengan keindahan kedua bola matamu. Keindahan mata mu membuat ku kagum. Itu membuat ku terbayang-bayang,” jawab pemuda tersesat ini.

Mendengar jawaban itu, seketika wanita cantik ini mencongkel matanya. Ia keluarkan kedua bola matanya. Seketika, darah bersimpah di hadapan sang pemuda. Lantas, kedua mata tersebut di tarok di atas bejana. Kemudian, ia serahkan pada sang pengangum tadi.

“Lihatlah sekarang aku. Apakah engkau masih melihat keindahan di bola mata ku. Jika engkau pengagum keindahan mata ku, silahkan nikmati itu sekarang,” tegas perempuan itu.

Kaget bukan si pemuda tersesat itu. Ia tak menyangka akan seperti ini. Di luar batas pemikirannya. Bengong. Dungu. Lama ia berdiri. Kakinya seolah terpahat, tak ingin juga beranjak. Perasaannya bercampur aduk. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Peristiwa itu menjadi kilas balik hidupnya. Pemuda tersesat itu adalah Utbah Ghulam, begitu ia dipanggil. Dalam kitab Hilyatul Auliya wa Tabaqatu al Ashfiya dijelaskan riwayat hidup pemuda ahli maksiat ini;

حدثنا أحمد ، ثنا جعفر ، ثنا إبراهيم ، حدثني محمد بن الحسين ، قال : سمعت عبيد الله بن محمد ، يقول : عتبة الغلام هو عتبة بن أبان بن صمعة

Artinya; menceritakan Ahmad, mengisahkan Ja’far, mengisahkan Ibrahim, menceritakan kepada ku Muhammad bin Husein , ia berkata; Aku mendengar Ubaidillah bin Muhammad, ia berkata; Utbah Ghulam nama aslinya adalah Utbah bin Aban bin shum’ah.

Taubat pemuda tersesat; Utbah Ghulam

Tak lama setelah kejadian itu, ia mendatangi majelis ilmu Hasan al Basri. Seorang ulama besar. Pakar pelbagai disiplin ilmu; tafsir, hadis, fiqih, teologi, dan tawasuf. Pada erasnya, Ia  merupakan sosok ulama tersohor.

Saat ia masuk, bertepatan Imam Hasan Basri tengah membaca al-Qur’an Q.S al-Hadid ayat 16, Allah berfirman;

ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله

Artinya; Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.

Setelah membaca ayat ini, Imam Basri lantas menjelaskan tentang tafsirnya. Ketika itu penjelsannya sangat memukau. Mengena di hati jamaah. Para peserta majelis pun menangis sesengukan mendengar penjelasan beliau terkait ayat ini.

Lantas berdirilah Utbah Ghulam, dengan suara setengah sengau ia memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Syekh, akankah Allah menerima taubat dari seorang pemuda tersesat dan pelaku maksiat seperti diri ku ini?,” tanyanya.

Lalu Imam Hasan Basri menjawab, “Allah akan mengampuni mu, dan menerima taubat dari kemaksiatan yang kamu lakukan. Pintu taubat Allah terbuka lebar” begitu jelas sang Imam.

Mendengar itu, seketika wajah Utbah pucat. Menggigil badannya. Ia dalam keadaan linglung. Seketika ia jatuh. Pingsan. Tak sadarkan diri.

“Ya Syekh, benarkah akan diterima?,” katanya untuk kedua kali setelah sadar. Seolah tak percaya.

Imam Hasan Basri membacakan syair untuk pemuda ini. Intinya, sang Imam mengatakan Allah akan mengampuni dosanya. Dan melepaskan ia dari siksa neraka, jika ia benar-benar taubat. Tak mengulangi lagi perbuatan dosanya.

Mendengat penjelasan kedua ini, Utbah Ghulam pun pingsan kembali. Dalam riwayat tersebut, sebanyak tiga kali terjatuh dan pingsan.Tiga kali ia tak sadarkan diri.

Begitulah kisah taubatnya sang pemuda tersesat, Utbah Ghulam. Seorang ahli maksiat yang kemudian jadi ulama besar. Seorang spesialisasi dosa, kemudian menjelma menjadi orang yang sangat takut akan dosa.

Dalam kitab Kitab Zuhud wa ar Raqaiq lil Khotib al Bagdadi, termaktub kisah tentang khauf (takutnya) Utbah Ghulam kepada Allah. Berikut kisahnya;

أَخْبَرَنِي سَلَامَةُ بْنُ عُمَرَ النُّصَيْبِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُجَعْفَرٍ أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ يُوسُفَ الشِّكْلِيُّ، قَالَ: قَالَ سَعِيدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْوَرَّاقُ: قَالَ عَنْبَسَةُ الْخَوَّاصُ: كَانَ عُتْبَةُ الْغُلَامُ يَزُورُنِي، فَبَاتَ عِنْدِي لَيْلَةً فَقُرِّبَ عَشَاؤُهُ، فَلَمْ يَأْكُلْهُ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: ” سَيِّدِي، إِنْ تُعذِّبْنِي فَإِنِّي إِلَيْكَ مُحِبٌّ، وَإِنْ تَرْحَمَنِي فَإِنِّي لَكَ مُحِبٌّ، فَلَمَّا كَانَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ شَهِقَ شَهْقَةً، وَجَعَلَ يُحَشْرِجُ كَحَشْرَجَةِ الْمَوْتِ، فَلَمَّا أَفَاقَ “، قُلْتُ لَهُ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، مَا كَانَ حَالُكَ مَنُذُ اللَّيلَةِ؟ فَصَرَخَ ثُمَّ قَالَ: ” يَا عَنْبَسَةُ، ذِكْرُ الْعَرْضِ عَلَى اللَّهِ قَطَّعَ أَوْصَالَ الْمُحِبِّينَ ثُمَّ غُشِيَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاقَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: يَا سَيِّدِي أَنُرَاكَ نُعَذَّبُ عِنْدَكَ “

Artinya: Menceritakan kepada ku Salamah bin Umar an Nushaibi, berkata ia, menceritakan kepada kami Ahmad bin Ja’far Abu Bakar, menceritakan kepada kami Abbas bin Yusuf Asy Syakli berkata ia, berkata Sa’id bin Ja’far al Warraq, berkata Anbasah al Khawwas;

Suatu hari mengunjungi ku Utbah Ghulam, maka ia bermalam di rumah ku, ketika datang telah waktu telah sore hari, maka ia sampai makan, maka aku mendengar Utbah berkata;

“Wahai Tuan ku, jika Engkau siksa aku, maka aku tetap mencintai mu, jika Engkau memberikan rahmat kepada ku, aku tetap mencintai mu”, maka tatkala menjelang akhir malam, ia meringik terisak-isak, itu seperti ia ringikan ketika menjelang sakratul maut.

Ketika mentari telah terbit, Anbasah bertanya kepada Utbah Ghulam, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana keadaan mu tadi malam? Apa yang engkau lakukan tadi malam?” tanya Anbasah.

Seketika ia menangis, kemudia Utbah berkata; “Wahai Anbasah, zikir menyampaikan kepada Allah, dan memutuskan ia akan hubungan orang yang mencintai”, Kemudian ia pingsan, ketika tersadar aku mendengar ia berkata; “wahai Tuhan ku, aku melihat siksaan mu,”

Demikian kisah taubat pemuda tersesat, Utbah Ghulam.

(Baca:Pemuda Tersesat dari Kalangan Sahabat; Bertaubat Sehabis Khianati Rasulullah)

 

Celengan Pemuda Tersesat
Celengan Pemuda Tersesat

 

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here