Kisah Para Sahabat yang Hijrah ke Abisinia

0
43

BincangSyariah.Com – Dalam rangka menghindari bahaya penyiksaan, Nabi Muhammad Saw. menyarankan para pengikutnya untuk hijrah ke Abisinia (Habsyi).

Maka, para sahabat pun pergi ke Abisinia dengan dua kali gelombang hijrah. Gelombang hijrah pertama berjumlah 15 orang diantaranya 11 orang laki-laki dan empat orang perempuan.

Para sahabat tersebut berangkat secara sembunyi-sembunyi dan setelah sampai di sana, mereka pun mendapatkan perlindungan yang baik dari Najasyi, sebutan untuk Raja Abisinia.

Tatkala mendengar keadaan Mekkah yang sudah aman, para sahabat pun kembali lagi ke tanah kelahirannya. Sayangnya, mereka kembali mendapat siksaan bahkan lebih dari siksaan sebelumnya.

Oleh sebab itu, mereka kembali melakukan hijrah untuk yang kedua kalinya ke Abisinia pada tahun kelima dari kenabian (615 M).

Saat hijrah ke Abisinia yang kedua kalinya, para sahabat yang berangkat sebanyak 80 orang laki-laki dengan Ja’far bin Abi Ţalib sebagai pemimpinnya.

Para sahabat kemudian tinggal di sana sampai Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Yasrib atau Madinah.

Peristiwa hijrah ke Abisinia dipandang sebagai hijrah pertama dalam Islam. Peristiwa hijrah ke Abisinia sama sekali tidak menyenangkan kaum Quraisy dan menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar.

Ada dua hal yang dikhawatirkan oleh kaum Quraisy. Pertama, kaum Muslimin akan menjalin hubungan yang luas dengan masyarakat Arab. Kedua, kaum Muslimin akan menjadi kuat dan kembali ke Mekkah untuk menuntut balas.

Maka, diutuslah Amr bin ‘Aș dan Abdullah bin Rabi’ah kepada Najasyi agar mau menyerahkan kaum Muslimin yang telah berhijrah. Kaum Quraisy mempersembahkan hadiah besar kepada Najasyi.

Kedua utusan dari kaum Quraisy berkata: “Paduka Raja, mereka yang datang ke negeri tuan ini adalah budak-budak kami yang tidak mempunyai malu.

Mereka meninggalkan agama nenek moyang mereka dan tidak pula menganut agama Paduka; mereka membawa agama yang mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga Paduka pahami.

Kami diutus oleh pemimpin-pemimpin mereka, orang-orang tua mereka, paman-paman mereka, dan keluarga-keluarga mereka supaya Paduka sudi mengembalikan orang-orang itu kepada pemimpin-pemimpin kami. Mereka lebih mengetahui betapa orang-orang itu mencemarkan dan mencerca agama mereka.”

Najasyi kemudian memanggil kaum Muslimin yang berhijrah dan bertanya kepada mereka: “Agama apa ini sampai membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri?”

Kaum Muslimin yang diwakili oleh Ja’far bin Abi Ţalib kemudian menjawab, “Paduka Raja, masyarakat kami masyarakat yang bodoh, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan berbagai macam kejahatan, memutuskan hubungan dengan kerabat, tidak baik dengan tetangga; yang kuat menindas yang lemah.

Demikianlah keadaan masyarakat kami hingga Allah Swt. mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri yang kami kenal asal usulnya, jujur, dapat dipercaya, dan bersih.

Ia mengajak kami hanya menyembah kepada Allah Swt. Yang Maha Esa, meninggalkan batu-batu dan patung-patung yang selama ini kami dan nenek moyang kami sembah.

Ia melarang kami berdusta, menganjurkan untuk berlaku jujur, menjalin hubungan kekerabatan, bersikap baik kepada tetangga, dan menghentikan pertumpahan darah.

Ia melarang kami melakukan segala perbuatan jahat, menggunakan kata-kata dusta dan keji, memakan harta anak yatim, dan mencemarkan nama baik perempuan yang tak bersalah.

Ia meminta kami menyembah Allah Swt. dan tidak mempersekutukan-Nya. Jadi, yang kami sembah hanya Allah Swt. Yang Tunggal, tidak mempersekutukan-Nya dengan apa dan siapa pun.

Segala yang diharamkan kami jauhi dan yang dihalalkan kami lakukan. Karena itulah kami dimusuhi, dipaksa meninggalkan agama kami. Karena mereka memaksa kami, menganiaya dan menekan kami, kami pun keluar menuju negeri Paduka ini.

Padukalah yang menjadi pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat Paduka, dengan harapan di sini tidak ada penganiayaan”.

Mendengar pernyataan yang fasih dan santun, akhirnya Raja Najasyi memberikan perlindungan kepada kaum Muslimin yang hijrah ke Abisinia. Para sahabat pun hidup untuk beberapa lama di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya.[] (Baca: Ini Ayat yang diturunkan Ketika Nabi Sedih Meninggalkan Makkah untuk Hijrah ke Madinah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here