Kisah Pedagang Arab dalam Menyebarkan Islam di Nusantara

1
68

BincangSyariah.Com – Para sejarawan mencatat bahwa sejak awal abad masehi telah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antar pulau atau antar daerah di nusantara. Pada saat itulah para pedagang dari Arab menyebarkan Islam di nusantara, wilayah Indonesia sebelum merdeka.

Kawasan timur yang dimaksud adalah wilayah yang meliputi kepulauan India Timur dan Pesisir Selatan Cina sudah memiliki hubungan dengan dunia Arab melalui perdagangan. Para pedagang Arab tidak hanya menjajakan dagangannya, tapi secara tidak langsung juga menyebarkan Islam.

Dalam buku Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (2007) Abdul Karim menuliskan bahwa pedagang Arab datang ke Nusantara melalui jalur laut dengan rute dari Aden menyisir pantai me-nuju Maskat, Raisut, Siraf, Guadar, Daibul, Pantai Malabar yang meliputi Gujarat, Keras, Quilon, dan Kalicut.

Kemudian menyisir pantai Karamandel seperti Saptagram ke Chitagong yang merupakan pelabuhan terbesar di Bangladesh, daerah Akyab yang sekarang wilayah Myanmar, Selat Malaka, Peureulak di Aceh Timur, Lamno di pantai barat Aceh, Barus, Padang, Banten, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ampel, Makasar, Ternate, dan Tidore.

Barang dagangan yang populer pada saat itu adalah nekara perunggu yang berasal dari Vietnam. Nekara tersebut tersebar sampai ke seluruh pelosok nusantara. Perdagangan nekara yang berlangsung bersumber dari berita Cina pada awal abad masehi yang menyebut Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Maluku adalah wilayah yang menarik bagi para pedagang. Sebab, Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah, utamanya pala dan cengkeh. Proses penjualan rempah-rempah Maluku dibawa hingga ke pulau Jawa dan Sumatera.

Taufik Abdullah mencatat dalam Sejarah Umat Islam Indonesia (1991) bahwa rempah-rempah yang berasal dari Maluku kemudian dipasarkan ke para pedagang asing dan dibawa ke negeri asalnya di negeri Arab.

Baca Juga :  Mengenal Hasbi Ash Shiddiqiey: Penggagas Fiqh Mazhab Indonesia

Selain rempah-rempah, kapur barus juga menjadi dagangan yang terkenal. Sejarah India kuno mencatat bahwa semenjak permulaan abad Masehi sampai abad ke-7 Masehi, ada pelabuhan yang sering disinggahi oleh pedagang asing yakni Lamuri dari Aceh, Barus dan Palembang serta di pulau Jawa yang mencakup Sunda Kelapa dan Gresik.

Sejak tahun 674 M, ada kolonial Arab di bagian barat Pulau Sumatera. Hal tersebut adalah berita dari Cina yang menyebutkan bahwa ada seorang Arab yang menjadi pemimpin di koloni bangsa Arab tepatnya di pantai barat Sumatera. Kemungkinan besar, pantai barat Sumatera tersebut adalah daerah Barus yang menghasilkan kapur Barus.

Para sejarawan mencatat, Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke-7/8 M. Pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya sedang mengembangkan kekuasaannya. Tokoh-tokoh teori tersebut adalah Crawfurd, Keijzer, Niemann, de Hollander, Hasymi, Hamka, Al-Attas, Djajadiningrat, dan Mukti Ali.

Selat Malaka sudah ramai dilintasi para pedagang Muslim pada abad ke-7/8 M. Para pedagang tersebut melakukan pelayaran ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur. Hal inilah yang menyebabkan menguatnya pendapat bahwa pedagang Arab telah menyebarkan ajaran agama Islam di Nusantara. (Baca: Mari Mengenal Empat Nalar Fikih Islam Nusantara)

Ada yang berpendapat bahwa para pedangang tersebut adalah utusan-utusan Bani Umayyah yang bertujuan untuk menjajakan perdagangan. Tokoh Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) misalnya, berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada 674 M.

Catatan-catatan di atas menunjukkan bahwa bangsa Arab memiliki peran penting dalam perdagangan dan penyebaran Islam di nusantara. Banyak bukti berhasil ditemukan, menunjukkan bahwa telah terjadi interaksi perdagangan antara Cina, Arab dan nusantara. Sehingga pada saat itu, Islam sudah mulai masuk ke dalam wilayah nusantara.[]

Baca Juga :  Apa Sebenarnya Perbedaan antara Haji dan Umrah ?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here