Ketika Orang Menjadi Gila Karena Takut kepada Allah

0
1578

BincangSyariah.Com – Orang menjadi gila bisa karena beberapa faktor, diantaranya karena kebanyakan beban pikiran. Namun jika gila karena takut pada Allah, maka ini merupakan fenomena alam yang luar biasa. Sejarah Islam mencatat bahwa orang cerdas memiliki alasan tersendiri untuk bisa menjadi gila. Salah satunya dikarenakan sifat takutnya yang keterlaluan kepada Allah.

Dalam kitab ‘Uqala al Majanin karya Abu al Qasim an Naisaburi diceritakan bahwa pada suatu malam, Abdul Aziz ibn Yahya an Nakha’i pernah melaksanakan shalat berjamaah di suatu masjid pada masa pemerintahan Umar radhiyallahu ‘anhu. Pada saat Imam membaca penggalan ayat dari kitab suci al Qur’an, tiba-tiba makmun di belakang menghentikan shalat dan berubah menjadi gila. Ia mengembara tanpa tujuan hingga tak diketahui jejaknya.  Adapun ayat yang dibaca imam pada saat itu adalah ayat QS ar Rahman ayat 46 yang berbunyi:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.

Menurut penjelasan Tafsir Ibn Katsir, Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kamu ayahku, telah menceritakan pada kami Muhammad ibnu Mushaffa, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, dari Abu Bakar ibnu Abu Maryam, dari Atiyyah ibnu Qais sehubungan dengan ayat di atas, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan orang yang mengatakan “bakarlah diriku, agar Allah tidak dapat menemukanku”, kemudian orang itu taubat selama sehari semalam (menyesali perbuatannya), sesudah mengucapkan kata-kata tersebut, Allah menerima taubatnya dan memasukkannya ke dalam surga.

Kedua kisah di atas menggambarkan betapa takutnya seorang hamba kepada Allah, sehingga  pemikiran dan caranya sendiri membuat dirinya gila. Selain itu, dalam kitab Uqala al Majanin juga diceritakan kisah orang-orang berakal namun ia berpura-pura gila. Kegilaan semacam ini mempunyai banyak macam. Di antara mereka ada yang sengaja berpura-berpura gila untuk menutupi keadaannya di hadapan manusia.  “Kegilaan Bani Amir disebabkan oleh kecintaannya kepada Allah. Tapi dia menyembunyikan keadaan itu dengan menampakkan kegilaan,” kata seorang ulama yang bernama Abu al-Qasim.

Baca Juga :  Anti Pemberi Harapan Palsu (PHP) ala Imam Ahmad

Namun ada juga orang-orang yang berpura-pura gila untuk memperbaiki hidupnya, sehingga bisa mendapatkan ketenangan. Shalih ibn Ali an-Nashibaini bertanya kepada Zaid ibn Said al-Abadi, “Mengapa engkau menyamarkan kondisimu dan pakaianmu?” Zaid ibn Said kemudian menjawab, “Aku melakukan banyak usaha, tapi aku mengalami kesulitan. Lantas aku pura-pura bodoh, ternyata, dengan begitu, aku dapat istirahat dengan tenang.”

Kisah-kisah yang diceritakan di atas mencerminkan betapa besar rasa cinta dan takut kepada Allah, sehigga apa-apa yang di depan dan apa yang dialami membuatnya hilang pikiran dan tak berdaya. Jika boleh menoleh sedikit pada diri kita sekarang, betapa hinanya umat manusia yang bermaksiat dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Ia tidak ingat bahwa Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal atas apa yang telah dilakukan. Teramat jauh sekali jika dibandingkan dengan kebijaksanaan orang-orang gila yang takut karena Allah. Mereka tidak sedang bermaksiat kepada Allah, namun rasa takutnya terus mendominan dalam jiwanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here