Kisah Nadhr bin Harits, Minta Diazab Dihadapan Rasulullah

0
199

BincangSyariah.Com – Pada awal dakwah Nabi di Mekkah, ada seorang Quraisy dari Bani Abu Ad-Dar, namanya An-Nadhr Ibn Harits. Ia terkenal akan kecerdasan akalnya, licik, berpengetahuan tinggi dan banyak pengalaman. Yang demikian itu, karena ia berniaga hingga sering bepergian ke berbagai wilayah Romawi, Persia dan sekitarnya, dan ia bertemu banyak orang cerdik-pandai. Khususnya, ia bertemu banyak tradisi dan budaya dari berbagai suku dan bangsa. Oleh karenanya, ia sangat berbangga diri dan merasa paling unggul di antara Suku-Suku di Mekkah.

Nah, saat pulang dari berdagang, An-Nadhr dilapori akan adanya orang Mekkah yang bernama Muhammad yang mengaku sebgai Nabi dan Rasul. Ia mengajarkan tauhid, dan persamaan antar manusia, kecuali hanyalah taqwa di hadapan Allah. Dan, para pembesar suku Quraisy memintanya untuk menghentikan pengaruh Muhammad. Supaya, orang-orang Mekkah tetap menyembah berhala dan mengikuti ajaran serta tata aturan para leluhurnya. Lantas, ia pun setuju untuk memenuhi permintaan tersebut, karena Muhammad jga berpotensi mengancam eksistensi ‘keunggulannya’ di tengah masyarakat Mekkah.

Sehingga, An-Nadhr melakukan upaya-upaya serius, sebagai berikut;

Pertama, ia selalu hadirr dimanapun Muhammad berdakwah, lalu mengatakan di hadapan orang-orang bahwa yang disampaikan Muhammmad tak lain hanyalah dongeng-dongeng fiksi dari orang-orang terdahulu.

Lalu, sebagai tandingan, maka di hadapan orang banyak, ia pun menceritakan dongeng-dongeng yang diadopsinya dari tradisi Romawi dan Persia. Ini dilakukan, karena ia menganggap bahwa orang-orang itu tertarik dengan Muhammad, karena Muhammad menyampaikan dongeng-dongeng fiksi yg membangkitkan imajinasi dan kesyahduan.

Tetapi, An-Nadhr salah, Dan, ia pun gagal.

Karena, yang disampaikan Muhammmad itu Alquran, firman Allah, maka setiap kali diperdengarkan, tentu akan masuk dan menembus pikiran, lalu menarik hati sanubari. Sementara, dongeng-dongeng yang diceritakan itu tak lebih hanya fiksi dan hiburan, sehingga ketika diulang-ulang, maka akan menimbulkan kejenuhan dan juga bgitu membosankan.

Baca Juga :  Memahami Dasar-dasar Toleransi Islam

Kedua, setelah gagal pada upaya pertama, maka ia berpikir bahwa Muhammad itu menarik karena adanya lantunan indah, syahdu, dan bersajak pada hal yg dipresentasikannya di hadapan banyak orang. Sehingga, untuk menandinginya, ia pun memanggil para penyanyi dan penari untuk “pentas” dimanapun Muhammad berdakwah dan dikerumini orang. Harapannya, orang-orang itu lebih tertarik nyanyian merdu dan jogetan seksi serta iming-iming hadiahnya. Kemudian orang-orang meninggalkan Muhammad, dan berakhirlah Muhammad berada pada kesendiriannya bersama suara dakwahnya.

Namun, An-Nadhr kembali salah mengira. Dan ia pun gagal.

Karena, Muhammad mendakwahkan Alquran yang mencerahkan hati dan fikiran. Sehingga ketika Alquran makin dipresentasikan, maka akan semakin nikmat dan mengajak berfikir, serta menambah ilmu pengetahuan. Sementara nyanyian yang dibawakan penari serta iming-iming hadiahnya, hanya menyenangkan nafsu serta melenakan fikiran dan hati. Itu sementara. Sehingga, ketika datang kewarasan berfikir dan kejernihan hati, maka nyanyian dan tarian eksotis itu lama-lama akan membosankan, hambar, hampa, bahkan menjijikan.

Ketiga, setelah usahanya gagal, An-Nadhr pun pergi ke berbagai daerah untuk mencari inspirasi jitu. Akhirnya, ia pun bertemu Ahli Kitab di Yatsrib, dan dibekali tiga pertanyaan yg dirasa bisa menjatuhkan harkat martabat Muhammad di hadapan masyarakat Mekkah.

Lalu, ia pun pulang ke Makkah, dan membuat acara khusus dengan mengumpulkan banyak orang. Diantaranya ia pun mengundang Muhammad untuk hadir. Dalam acaranya itu, ia bertanya kepada Muhammad;

“Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar Nabi Utusan Tuhan, tentu kamu bisa menjawab tiga pertanyaanku ini. Kamu bersedia?”

“Katakanlah, apa itu?!”, jawab Muhammad.

“Pertama; Tahukah kamu tentang sekelompok pemuda yg mengasingkan dirinya demi menjaga Iman-Akidahnya? Kedua, Tahukah kamu tentang Seorang Raja yang kekuasaannya meliputi Barat hingga Timur? Ketiga, bisakah menjelaskan tentang hakikat Ruh!?”

“Pemuda itu dikenal dengan Ashabul Kahfi”, jawab Muhammad. Lalu secara detail dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.

Baca Juga :  Membincangkan Arti Negara Madinah (Melampaui Sektarianisme) (1)

“Raja Tersebut bernama Dzul Qarnain”, lanjut Muhammad menjawab. Kemudian untuk detailnya, dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.

“Adapun soal hakikat Ruh, itu urusan Allah ta’ala. Sementara manusia tidaklah diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit”, jawab Muhammad untuk pertanyaan ketiga. Kemudian, tanpa mendetailkan, dibacakanlah Surah Al-Isra’ ayat 85.

Akhirnya, strategi dan upaya Nadhr gagal total. Bahkan, malah makin banyak orang bersimpati pada Dakwah Muhammmad.

Lalu, karena saking malu serta marahnya, kemudian makin dahsyat pula kedengkian serta kekufurannya terhadap Muhammad. Terlanjur basah, yha sekalian. Lantas An-Nadhr mengumpulkan orang lebih banyak dan lebih besar lagi. Tentu, diundang pula Muhammad di acaranya ini.

Lantas di hadapan khalayak ramai, ia hendak menjatuhkan kredibilitas Muhammad, dengan menantang dengan minta diazab;

“Wahai Muhammmad, jika yang KAMU DAKWAHKAN ITU BENAR, maka mintalah Tuhanmu untuk MENGADZABKU, TURUNKANLAH HUJAN BATU”.

Ini adalah strategi dari An-Nadhr; bila ia baik-baik saja dan hujan batu tidak juga turun, maka berarti Muhammad berdusta, dan ia yang benar dan menang.

Allah ta’ala mengabadikan omongan An-Nadhr ini untuk dijadikan pelajaran oleh Umat Islam;

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika yang DIDAKWAHKAN MUHAMMMAD (Al-Qur’an) INI ADALAH HAQ (kebenaran), maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami ADZAB yang pedih.” (Q.S. Al-Anfaal; 32).

Demikianlah kisah An-Nadhr ibn Harits dengan segala upaya dan kelakuan menentang kebenaran.

Lalu, Apakah Allah ta’ala langsung menurunkan azab kepadanya? Tidak.

Allah membuatkan untuknya sebuah “skenario”, dimana ia akan dihinakan dan bertingkah memalukan terus-menerus. Hingga akhirnya, skenario Allah ta’ala akan Perang Badar menjadi kuburan bagi musuh-musuh Rasulullah, termasuk di dalamnya terbunuhnya An-Nadhr.

Baca Juga :  Siapa Pemakan Bangkai yang Dilihat Rasullah Saat Isra' Wal Mi'raj?

Semoga kisah ini bisa menjadi pengingat kita semua, untuk senantiasa waspada dan mawas diri, agar perilaku kita di dunia ini tidak meniru kelakuan orang-orang yang dimurkai Allah ta’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here