Kisah Nabi Muhammad SAW Menyikapi Rasa Cemburu Istrinya

0
174

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad merupakan tauladan sebagai pemimpin rumah tangga yang adil dan harmonis kepada istri-istrinya. Namun, dalam sebuah hubungan harmonis terkadang pasti ada rasa cemburu. Akan tetapi, cemburu bukan untuk dimusuhi atau dihindari, karena cemburu adalah implikasi dari rasa cinta. Nabi Muhammad SAW seorang yang tergambar harmonis dengan istrinya, namun, juga tidak luput dengan persoalan cemburu. Nah, mari kita lihat bagaimana kisah Nabi Muhammad Saw menyikapi rasa cemburu istrinya.

Sesungguhnya Nabi Muhammad telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah pada kitab Sunan Ibnu Majah,

حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ يَحْيَى بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ عَمِّهِ عُمَارَةَ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: diceritakan kepada kami Abu Bisri Bakr bin Halafin dan Muhammad ibn Yahya, berkata; diceritakan kepada kami Abu Asim, dari Ja’far ibn Yahya ibn Syauban, dari ibunya Umrah ibn Syauban, dari Atok, dari ibn Abbas, dari Nabi SAW bersabda: sebaik-baik orang di antara kalian ialah orang yang baik terhadap istri-istrinya, dan aku adalah yang paling baik diantara kalian  terhadap istri-istriku. (HR. Ibnu Majah, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Bani). 

Berikut kisah salah satu istri Rasul yang dilanda cemburu dan sikap Rasul dalam menanggapinya. Suatu hari Rasulullah sedang duduk santai bersama para sahabatnya, kemudian Aisyah segera menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamunya tersebut. Alhasil, pada saat yang sama ternyata istri Rasul yang bernama Hafsah juga menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamu Rasulullah, dan yang lebih dulu memberi wejangannya adalah Hafsah.

Baca Juga :  Tradisi Sahabat Dalam Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Aisyah yang mengetahui hal tersebut menyadari bahwa ia mempersiapkan sajian makanan terlalu lama, hingga akhirnya keduluan Hafshah. Karena merasa tidak terima, Aisyah memerintahkan budak wanitanya untuk menumpahkan hidangan hasil olahan Hafshah. Budak wanita Aisyah pun menuruti perintah Aisyah dengan menjatuhkan hidangan punya Hafsah dihadapan Rasulullah. Seketika hidangan milik Hafshah pecah, dan makanaannya pun tumpah di hadapan Rasulullah.

Menanggapi kejadian seperti ini Rasul sama sekali tidak marah, justru Rasulullah segera mengumpulkan makanan hidangan Hafshah yang jatuh berserakan, dan tetap mempersilahkan para sahabatnya untuk menyantap makanan yang dibawakan oleh Hafshah. Dari kisah tersebut Rasulullah sangat menampakkan sikap tenang dan mampu menahan amarah. Kemudian Aisyah menjelaskan pada perkataanya, bahwa Aisyah tidak melihat ada tanda-tanda marah pada raut wajah Rasulullah SAW. Kisah tersebut ada pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah pada kitab Sunan Ibnu Majah, berikut perkataan Aisyah pada kisah tersebut:

قَالَتْ: فَمَا رَأَيْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“aku tidak melihat ada tanda-tanda marah pada raut wajah Rasulullah SAW”. (Ibnu Majah)

Kemudian ada kisah lain yang menceritakan kecemburuan istri Nabi Muhammad SAW, terdapat pada hadis riwayat Ibnu Majah pada kitab Sunan Ibnu Majah:

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهَا يَدَ الخَادِمِ، فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ، وَيَقُولُ: «غَارَتْ أُمُّكُمْ» ثُمَّ حَبَسَ الخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ المَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Para Nabi pun Cemburu

Telah menceritakan kepada kami Ali telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah dari Humaid dari Anas ia berkata; Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di tempat istrinya. Lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan hidangan berisi makanan. Maka isteri Nabi yang beliau saat itu sedang berada dirumahnya memukul piring yang berisi makanan, maka beliau pun segera mengumpulkan makanan yang tercecer ke dalam piring, lalu beliau bersabda: “Ibu kalian rupanya sedang terbakar cemburu.” Kemudian beliau menahan sang Khadim (pembantu) hingga didatangkan piring yang berasal dari rumah isteri yang beliau pergunakan untuk bermukim. Lalu beliau menyerahkan piring yang bagus kepada isteri yang piringnya pecah, dan membiarkan piring yang pecah di rumah isteri yang telah memecahkannya. (HR. Ibnu Majah)

Dari hadis yang diceritakan diatas, lagi-lagi Rasulullah bersikap tenang atas rasa cemburu yang dialami oleh Aisyah, betapa arif dan bijaksana Rasulullah tatkala itu hanya diam dan memunguti makanan yang terjatuh, sambil bercanda kepada tamunya, “makanlah, sesungguhnya iu kalian ini (Aisyah) sedang dilanda cemburu.”

Karena sesungguhnya rasa cemburu buta hanya dilandasi oleh prasangka buruk, serta hasil bisikan setan. Maka di saat istri Nabi SAW cemburu, Rasul akan bersikap dewasa dalam menyikapinya dengan tenang dan tidak melibatkan kemarahan. Jika istrinya masih marah, Rasul cukup menegurnya agar tidak mengulang kesalahannya lagi. Meskipun Aisayah sering melakukan kesalahan, ketika Rasul ditanya sahabatnya, siapakah orang yang engkau cintai wahai Rasulullah?, beliau pasti menjawab, istriku Aisyah.

Karena keharmonisan akan selalu terbentuk jika pasangan bisa saling menunbuhkan sikap dewasa dan saling mengerti. Semoga kita semua bisa meniru sikap Rasul yang tenang dan tidak mudah marah dalam menanggapi rasa kecemburuan istri. Wallahua’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here