Kisah Nabi Muhammad Berziarah ke Makam Ibunya

2
2586

BincangSyariah.Com – Sebagai insan kamil (manusia paripurna), Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang amat berbakti kepada orang tuanya. Nabi Muhammad memang tidak memiliki ingatan tentang Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahnya, karena ditinggal wafat ketika masih dalam kandungan. Akan tetapi Nabi Muhamamad saw. pernah tumbuh bersama ibunda tercinta, Siti Aminah, yang juga wafat ketika Nabi berusia enam tahun. Beliau tidak pernah melupakan kenangan manis kebersamaan dengan Ibunda tercinta.

Bukti baktinya kepada orang tua adalah Nabi Muhammad saw. pernah bersabda – sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi,

لو كنت أدركت والدي أو أحدهما و أنا في صلاة العشاء و قد قرأت فاتحة الكتاب تنادي يا محمد لأجبتها لبيك

Seandainya aku mendapati kedua orang tuaku atau salah satunya memanggilku: “Wahai Muhammad” sedang saat itu aku dalam keadaan salat Isya dan telah membaca al-Fatihah, niscaya aku menjawab: “Labbaik (kuperkenankan panggilanmu)” (H.R al-Baihaqi).

Menurut Quraish Shihab, meskipun sebagian ulama menilai hadis di atas lemah, akan tetapi maknanya tidak lemah, inilah gambaran dari keluruhan budi pekerti. Quraish Shihab menambahkan bahwa memang ada sebagian situasi yang mengundang didahulukannya makhluk atas Allah Swt, karena yang membutuhkan adalah makhluk, sedang Allah Swt. Mahakaya.

Atas bentuk kecintaannya terhadap ibunya, diriwayatkan bahwa pernah Nabi Muhammad saw. berziarah ke lokasi kuburan ibunya. Ia lalu beliau memperbaikinya dan menangis karena teringat masa indah bersama sang ibunda tercinta. Melihat tangis Rasulullah saw., para sahabat yang ikut bersamanya pun ikut menangis. Ketika ditanya sebab tangisnya, Rasul menjawab:

أدركتني رحمتها فبكيت

Aku tersentuh oleh kasih sayang ibuku, maka aku menangis.

Dalam suatu riwayat lain dari Abdullah bin Mas’ud, diceritakan bahwa Rasulullah berjalan bersama para sahabat sehingga tiba di pemakaman. Rasulullah saw. meminta para sahabat untuk duduk, lalu beliau menuju satu kubur dan duduk. Di kuburan tersebut, Nabi Muhammad saw berbisik, kemudian menangis hingga terdengar suara tangisannya.

Baca Juga :  Lima Alasan Pentingnya Mengkaji Sirah Nabawiyah

Para sahabat pun ikut menangis mendengar tangisan Nabi. Beberapa saat kemudian, Nabi mendatangi para sahabat dan disambut oleh Umar bin Khattab seraya bertanya: “Apa yang mengundang tangismu? Tangismu menjadikan kami menangis dan takut.” Rasul saw. bertanya: “Apakah tangisanku menakutkan kalian?” Umar pun menjawab, benar wahai Nabi.

Nabi pun menjawab:

إن القبر الذي رأيتموني أناجيه قبر أمي آمنة بنت وهب وإني استأذنت ربي في زيارتها فأذن لي

Kubur yang kalian lihat aku berbisik di sana adalah kuburan ibuku, Aminah binti Wahab. Aku meminta izin kepada Allah Swt untuk menziarahinya, dan aku diizinkan-Nya … (H.R Muslim).

Dari riwayat-riwayat di atas menandakan bahwa atas kecintaan Nabi Muhammad saw. kepada orang tuanya, membuat Nabi Muhammad saw. berziarah ke makam ibunya. Oleh karenanya, sepatutnya kita selaku umatnya mengikuti teladan baginda Nabi untuk selalu taat kepada orang tua jika masih hidup. Apabila telah wafat, maka doa anak berbakti akan menjadi hadiah istimewa bagi orang tua. Melakukan ziarah ke makam orang tua, menjadi salah satu bentuk kecintaan kita kepada mereka. Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad….sungguh tauladan yang sangat baik, padahal beliau Muhammad SAW, tidak merasakan kasih sayang orang tua sampai usia dewasa.. Cuma sampai 6 tahun tapi beliau sangat memuliakan orang tua… Kebanyakan kita disayang orang tua dari lahir sampai dewasa tapi kurang berbakti kepada orang tua….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here