Kisah Masyarakat yang Meremehkan Social Distancing pada Masa Ibnu Hajar

0
1194

BincangSyariah.Com – Setiap manusia menyematkan resolusi terbaiknya saat memasuki tahun baru, banyak harapan dan target yang hendak dicapai. Namun siapa sangka, banyak pula hal tak terduga dan mengejutkan kita, seperti awal tahun ini. Dunia digemparkan termasuk Indonesia dengan virus yang menyerang manusia.

Fatalnya, virus ini menular dengan cepat dan dapat membunuh manusia. Virus ini berasal dari Wuhan Cina yang kemudian kita kenal COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Pemerintah Indonesia sudah menerapkan berbagai kebijakan mulai dari hidup sehat, cuci tangan, hingga social distancing (pembatasan jarak sosial). Pada kenyataannya, sebagian masyarakat kita mulai anak kecil, remaja, pemuda bahkan lansia tetap ngeyel dan tidak mengindahkan social distancing.

Amat disayangkan ada sebagian orang dan figur publik juga ngeyel dengan dalih “takdir mati itu ketentuan Allah, kalau Allah tidak menakdirkan mati maka kita tetap hidup” dan tetap mengadakan kegiatan keagamaan yang mengundang banyak orang padahal instruksi MUI jelas melarang mengadakan acara yang dapat membuat kerumunan massal dikarenakan berpotensi mempercepat penyebaran virus.

Fenomena orang ngeyel dan meremehkan social distancing ini ternyata dijumpai di masa Imam Ibn Hajar al-Asqalani. Dalam kitabnya Badzlu al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un, beliau menjelaskan

فليس الدعاءُ برفعِ الوباءِ ممنوعاً ولا مصادماً للمقدور من حيث هو أصلاً ، وإنما الاجتماعُ له كما في الاستسقاءِ فبدعةٌ حدثت في الطاعون الكبير سنة (٧٤٩) بدمشق.

“Berdoa agar terhindar dari wabah itu (tha’un) bukan perkara yang dilarang, tidak pula bertentangan dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, akan tetapi melakukan doa secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan seperti shalat Istisqa’ saat dilanda wabah tha’un besar-besaran pada tahun 749 M di Damaskus itu perbuatan bid’ah.” (Badzlu al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un [Riyadh: Dar al-Ashimah, t.t], 328-330)

Baca Juga :  Khadijah Pernah Bertemu Malaikat Jibril, Ini Reaksinya

فقرأت في (جزء) المنبجي، بعد إنكاره على من جمع الناس في موضوع. فصاروا يدعون ويصرخون صراخاً عالياً ، وذلك في سنة (٧٦٤) لمّا وقع الطاعون بدمشق ، فَذَكَرَ أن ذلك حدث سنة (٧٤٩) وخرج الناس إلى الصحراء ومعظمُ أكابرِ البلدِ فدعوا واستغاثوا ، فعَظُمَ الطاعونُ بعد ذلك وكَثُرَ وكان قبلَ دعائِهم أخفُّ.

(ولاشك ان هذا بسبب اختلاط المريض بالصحيح)

“Aku telah membaca dalam (juz) al-Munabbiji, setelah penolakannya terhadap pengumpulan orang dalam satu tempat. Beliau berkata: “Mereka berkumpul, berteriak, serta berdoa dengan nada yang tinggi, hal itu terjadi pada tahun 749 ketika wabah tha’un melanda di Damaskus. Beliau menuturkan, itu terjadi pada tahun 749 dan semua orang keluar lapangan beserta penguasa negeri (raja/ presiden dan pejabat negara), lalu mereka berdoa dan beristighatsah bersama. Lantas wabah tha’un makin parah dan makin banyak penularannya, padahal pra acara wabah tha’un masih ringan atau sedikit yang terjangkit.” (Dan tidak diragukan lagi hal itu disebabkan oleh berbaurnya orang yang sehat dengan orang yang terinfeksi virus).

Imam Ibn Hajar al-Asqalani berkata,

ووقع هذا في زماننا حين وقع أوَّلُ الطاعونِ بالقاهرة في ٢٧ من شهر ربيع الآخَر سنة (٨٣٣) ، فكان عددُ من يموتُ بها دون الأربعين ،فخرجوا إلى الصحراء في ٤ جمادى الأولى بعد أن نودي فيهم بصيام ثلاثة أيامٍ كما في الاستسقاء ، واجتمعوا ودعوا وأقاموا ساعةً ثم رجعوا ، فما انسلخ الشهر حتى صار عددُ من يموت في كل يومٍ بالقاهرة فوق الألف ثم تزايد

“Telah terjadi di zaman kita, manakala pertama kali wabah tha’un merebak di Kairo pada 27 Rabi’ul Akhir 833. Ketika itu jumlah orang yang meninggal tidak sampai 40 orang. Lantas kemudian, orang-orang berbondong-bondong keluar dan berkumpul di lapangan pada 4 Jumadil Ula setelah dianjurkan berpuasa 3 hari terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan dalam shalat Istisqa. Selanjutnya, mereka berkumpul, melaksanakan shalat berjamaah dan berdoa selama 1 jam, kemudian kembali ke rumah masing-masing. Maka tidak sampai sebulan sehingga setiap hari jumlah orang yang meninggal semakin meningkat signifikan di Kairo di atas seribu orang, dan kian bertambah dan bertambah.”

Baca Juga :  Kisah Seorang Anak Hidup Kembali Karena Doa Ibu

واستند آخر إلى أنه وقع في زمن الملك المؤيد وأجدى ذلك، وحضره جمع من العلماء فما أنكره.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani termasuk ulama yang melarang perkumpulan itu, bahkan hal tersebut merupakan alasan yang mendorong beliau menyalin kitab Badzlu al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un setelah mengumpulkan banyak haidts dan pendapat ulama pada tahun 819 H, sehingga beliay 2 kali menolak keluar bersama Raja Muayyad dalam kegiatan tersebut.

Wabah COVID-19 ini tidak santuy teman-teman, yang masih ngeyelan untuk tidak menaati fatwa ulama (MUI) dan pemerintah, mari segera insyaf, jangan panik, jaga kesehatan, tetap waspada, dan stay at home. Jangan remehkan social distancing, bila tidak ada keperluan mendesak demi memutus mata rantai COVID-19. Semoga kita dan seluruh kaum muslimin diselamatkan dari segala keburukan di dunia sampai akhirat. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here