Kisah Keruntuhan Muwahhidun dan Kemerdekaan Kerajaan Portugal

0
902

BincangSyariah.Com – Dalam lintas sejarah peradaban Islam, Kerajaan Muwahhidun dinilai sebagai garda paling akhir pertahanan Muslim di Portugal. Hal ini didasari pasca kekalahan telak Muwahhidun atas umat Kristen, belum ada lagi kerajaan Islam yang mampu memegang kendali penuh atas kawasan Eropa bagian barat daya tersebut.

Bahkan apabila melihat status Portugal, bisa dikatakan bersamaan dengan runtuhnya otoritas Muwahhidun, kawasan ini secara permanen keluar dari genggaman Muslimin dan membentuk sebuah kerajaan merdeka. (Baca: Daftar 6 Keluarga Besar Muslim yang Pernah Menduduki Portugal)

An-Nasir Li Dinillah, sebagai putra Khalifah Abu Yusuf Ya’kub (Al-Mansur) sekaligus pelaku sejarah yang menyaksikan langsung jatuhnya wilayah Muwahhidun ke genggaman umat Kristen ini tak kuasa menyembunyikan kesedihannya.

Bagaimana tidak, sebelum peristiwa memilukan perang ‘iqab, wilayah ini telah berbaur hangat dengan kebudayaan Islam dan dihuni masyarakat Muslim lebih dari lima ratus tahun lamanya  terhitung sejak 714 M hingga 1250 M. Apabila melihat track and record an-Nasir terlihat pemuda ini agak berbeda dari sang ayah, Al-Mansur.

Al-Mansur adalah tokoh kenamaan Muwahhidun yang masyhur akan keberhasilannya mempersatukan sejumlah wilayah baik di Maghrib maupun Andalusia – hal inilah yang membuat wilayahnya kebal akan serangan dari luar. Sedangkan An-Nasir Li Dinillah, bisa dikatakan tidak memiliki kapasitas memadai untuk melanjutkan tren positif pendahulunya.

Dalam Mausu’at al-Magrib al-‘Arabi karangan Abdul Fattah Maqlad al-Ghanimi tercantum bahwa sosok an-Nasir cenderung egois,  enggan menerima masukan – masukan dari pemuka berpengalaman Muwahhidun. Sebenarnya sang ayah telah berpesan untuk memprioritaskan kepentingan negara serta tidak mengambil keputusan sendiri sebelum bermusyawarah dengan Abu Hafs Muhammad. Namun hal ini diabaikan.

Kondisi tersebut diperparah dengan situasi masa transisi an-Nasir yang terbilang sulit seperti yang digambarkan Falih Handzal dalam bukunya al-Arab wa al-Burtughal Fi at-Tarikh. Ia menjelaskan bahwa diawal pembaitan an-Nasir, kerajaan Muwahidun sudah dilanda permasalahan kompleks.

Baca Juga :  Surah Yasin sebagai Jantung Al-Qur’an, Ini Rahasia dan Khasiatnya

Ia disibukan dengan meletusnya banyak pemberontakan di Maghrib termasuk yang paling riskan adalah pergerakan Bani Ghaniah. Lalu diwaktu yang bersamaan pasukan Nasrani tengah mempersiapkan diri untuk melakukan operasi militer besar – besaran. Menurutnya secara umum wafatnya an-Nasir adalah tahap awal keruntuhan Muwahhidun.

Berbeda dengan kondisi umat Islam, angin segar tengah berhembus ke arah raja Alfonso VIII. Alih – alih menyerah pasca kekalahan besar dalam pertempuran Alarcos, raja Kastilia ini malah semakin bersemangat untuk memukul mundur kekuatan Muslim. Apalagi situasi politik kerajaan – kerajaan Nasrani saat itu berangsur pulih, sehingga mendukung timbulnya era persatuan.

Alhasil, tidak hanya menghimpun bala tentara Portugal dan Spanyol, Alfonso VIII bahkan tak segan – segan menggalang kekuatan dari sekutunya yang tidak lain adalah negara – negara Eropa, sebut saja Prancis, Italia dan Jerman. Adapun ibu kota kerajaan Kastilia, kota Toledo dijadikan pusat titik kumpul pasukan ini.

Adu strategi tentunya menjadi salah satu hal paling fundamental dalam sebuah pertempuran. Tidak peduli sebesar apapun kekuatan yang dimiliki jika tanpa rencana segalanya menjadi kalang kabut. Akibatnya probabilitas untuk menang cenderung berkurang. Setidaknya itulah yang kerap terjadi dalam peperangan abad pertengahan.

Tidak mau menanggung resiko kekalahan lagi, maka kali ini raja Alfonso VIII bersama panglima tinggi lainnya membuat sebuah strategi militer dengan membagi pasukan kedalam tiga kelompok utama.

Satu, pasukan Alfonso VIII ditambah pasukan Portugis dibawah panglima perang Pedro. Kedua, pasukan kerajaan Navarra, Aragun dan Leon dibawah panglima perang Pedro II. Ketiga, 100.000 unit pasukan gabungan tentara salib Eropa dibawah pimpinan panglima perang Kastila, Don Diego Lopez.

Tahun 1212 M, adalah tahun dimana kedua kubu saling bertemu di Las Navas De Tolosa atau yang masyhur dikenal masyarakat Muslim dengan sebutan al-‘Iqab dinisbatkan kepada benteng Umayyah yang berdiri di dekat area tersebut dan sebab itu pula perang ini dijuluki perang ‘iqab.

Khalifah an-Nasir Li Dinillah, tanpa rasa takut bergerilya di tengah – tengah medan perang. Namun, sayangnya hal itu tidak dapat membendung dominasi pasukan Kristen. Ribuan mujahidin gugur termasuk para ulama yang turut hadir dalam duel mematikan tersebut. Perang ‘iqab ini berakhir dengan kekalahan di pihak Muslimin.

Baca Juga :  Kemitraan Produsen-Konsumen dalam Peningkatan Omzet Menurut Islam

Ali Muhammad Muhammad as-Shallabi dalam karangannya Daulat Muwahhidin  memaparkan setidaknya ada lima sebab utama kekalahan Muslimin di pertempuran ini. Pertama, adanya kesombongan yang menimbulkan berkurangnya sikap bergantung pada Alloh Swt. Kedua, lemahnya strategi perang, sebab pribadi An-Nasir yang enggan menerima masukan dari para ahli berpengalaman.

Ketiga, wafatnya panglima tangguh Abu Hujaj Yusuf bin Qadis yang menyebabkan sejumlah pasukan tidak lagi mengikuti peperangan. Keempat, raja Kastilia mempelajari penyebab kekalahan sebelumnya di perang Alarcos, lalu memperbaiki segala kekurangannya di perang iqab. Kelima, pemberontakan Bani Ghaniah berdampak sangat buruk terhadap ekonomi dan sosial politik kerajaan Muwahhidun.

Dengan berakhirnya perang iqab, semenanjung Iberia kembali dipimpin penduduk Eropa. Selanjutnya, kawasan ini dibagikan kepada para raja atau pembesar umat. Memang betul kawasan Andalusia tidak lagi didominasi Muslimin,  namun sisa – sisa kerajaan Islam masih tetap eksis misalnya kerajaan Islam di Granada. Meski ujungnya kerajaan ini juga ikut tergerus dan runtuh.

Adapun di Maghrib sisa – sisa mantan supporter Muwahhidun tercermin salah satunya dalam diri Kerajaan Hafsiyun di Afrika Utara (Tunisia). Memang sekilas keduanya berbeda, namun setidaknya ada kedekatan kuat secara historis.

Tahun 1250 M yakni tahun berakhirnya dominasi Muwahhidun di Portugal, tercatat sebagai tahun terakhir pemerintahan Islam di wilayah tersebut. Di tahun itu pula, raja Dom Diniz menyempurnakan penaklukan seluruh Portugal sekaligus menandai kemerdekaan kerajaan Portugal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here