Kisah K.H. Ruhiyat Tasikmalaya: Mengembangkan Perempuan Pesantren Sampai Menolak Gerakan DI/TII

0
184

BincangSyariah.Com – Tradisi keagamaan masyarakat di wilayah Jawa Barat tidak bisa dipisahkan dengan peran sentral para kyai atau ajengan yang ada di Tatar Sunda. Salah satu bentuknya adalah adanya kegigihan kyai (ajengan) di Tatar Sunda dalam menyebarkan agama dengan membentuk sejumlah organisasi keislaman, salah satunya Nahdlatul Ulama di Jawa Barat.

Budi Sujati dalam bukunya Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat menjelaskan bahwa Ajengan (sebutan untuk kyai di Jawa Barat) di Jawa Barat mampu membangun perubahan sosial (social change) untuk masyarakat di lingkungan sekitarnya sehingga peran mereka selalu dikatakan sangat krusial dan vital. Beberapa Ajengan yang berpengaruh di Jawa Barat berada di berbagai wilayah di Jawa Barat seperti Cirebon, Majalengka, Banten, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Mereka berkumpul untuk menyebarkan keagamaan di Tatar Sunda dengan berbagai peran dalam bidangnya masing-masing, bidang pendidikan Islam (pesantren) adalah salah satu yang paling banyak dilakukan dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap masyarakat Jawa Barat.

Salah satu Ajengan berpengaruh adalah K.H. Ruhiyat, Pendiri Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Menurut Rosihan Anwar dalam bukunya Ulama dalam Penyebaran Pendidikan dan Khazanah Keagamaan, beliau dilahirkan pada 11 November 1911 di desa Cipatat, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya. K.H. Ruhiyat kemudian mendirikan Pesantrennya pada tahun 1931 dan menjadi salah satu pesantren besar di Tatar Sunda.

Iip Dzulkifli Yahya dalam memoar K.H. Ilyas Ruhiyat (putra K.H. Ruhiyat) Ajengan Cipasung, pada masa pemerintahan Jepang pesantren Cipasung adalah diantara pesantren yang diberi sedikit kebebasan untuk mewujudkan dan menyelenggarakan kegiatan yang komprehensif. K.H. Ruhiyat sangat menggunakan kesempatan yang baik ini sehingga ia mampu menjadi kyai pertama yang berhasil menerapkan metode pengajian yang intensif yaitu sorogan dan halaqah. Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat sekitarnya sehingga masyarakat mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik dibandingkan dengan masa pemerintahan kolonial Belanda.

Baca Juga :  Cuplikan Haji Orang Indonesia Dulu dan Kini [2]: Kisah Bangkrutnya Usaha Kapal Laut Haji

Salah satu kemajuan pesantren Cipasung pada masa pemerintahan Jepang adalah adanya pengajian santri putri yang mengikuti pengajian umum layaknya dengan santri putra untuk mengkaji “kitab besar”. Sebelumnya, para santri putri hanya dibolehkan untuk mengikuti pengajian kitab kitab menengah seperti Alfiyah karya Ibn Malik al-Andalusi dan Fathul Mu’in karya Zainuddin al-Malibari. Aktivitas tadi menjadi salah satu pergeseran yang amat besar di kalangan Ajengan ketika wilayah Jawa Barat berada di naungan pemerintahan Jepang.

Disamping kiprah K.H. Ruhiyat di bidang pendidikan, perannya juga besar dalam mengembangkan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat. Kedudukannya yangcukup disegani dan dihormati masyarakat Sunda, membuatnya pernah menjadi Ketua Tanfidziyah NU di kabupaten Tasikmalaya hingga anggota pengurus PBNU. Semuanya dijalankan sampai akhir hayatnya.

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah 2, mengutip kisah KH.Ruhiyat ketika terjadi pemberontakan DI/TII Jawa Barat yang diketuai oleh S.M. Kartoesoewirjo. Dalam peristiwa ini, K.H. Ruhiyat menentang gerakan tersebut, dan ia menilai bahwa kelompok tersebut sebagai bughat (pemberontak) terhadap pemerintah dan khususnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebelumnya K.H. Ruhiyat beberapa kali dipaksa untuk menjadi ketua dari kepengurusan DI ini, namun ia tegas menolaknya. Akibatnya, ia diasingkan dari pesantren yang ia tinggal, pesantren Cipasung ke daerah pegunungan di Tasikmalaya. Dengan karamah

K.H. Ruhiyat  wafat  pada 28 November 1977. Nahdlatul Ulama yang telah ia perjuangkan selama hidupnya di Tasikmalaya telah mengalami kemajuan saat ini. Begitupun Pesantren Cipasung yang ia dirikan sebelum masa kemerdekaan tercatat sebagai salah satu pesantren yang berpengaruh di Jawa Barat, begitu pula di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here