Kisah Imam Ahmad bin Hanbal Dipermainkan Penjual Labu

0
2849

BincangSyariah.Com – Imam Ahmad bin Hanbal, muhadis besar abad ke-2 H yang terkenal dengan karya al-Musnad ini pernah menahan lapar. Kisah murid dari Imam al-Syafi’i ini direkam oleh Abi al-Yumni al-‘Ulaimi al-Hanbali, penulis kitab al-Manhaj al-Ahmad fi Tarjamati Ashhaab Ahmad.

Suatu ketika, Imam Ahmad pernah ingin menemui al-Imam Abdur Razzaq, penulis Mushannaf ‘Abd al-Razzaq, di Yaman pada tahun 197 H. Imam Ahmad waktu itu ditemani oleh salah seorang muhadis besar juga, Yahya bin Ma’in.

Kemudian – seperti diceritakan oleh Yahya bin Ma’in – ketika itu berangkatlah mereka berdua ke Yaman dengan terlebih dahulu berhaji. Ketika Yahya bin Ma’in sedang melaksanakan tawaf, ia ternyata bertemu dengan ulama besar yang akan mereka rencanakan bertemu, al-Imam ‘Abdur Razzaq. Segera Yahya bin Ma’in menyalaminya dan berkata, “Ini saya dengan saudaramu, Ahmad bin Hanbal.” Al-Imam ‘Abdur Razzaq pun memuji-muji Imam Ahmad, “Semoga dia selalu Allah berkahi dan kuatkan dalam beragama. Semua pujian bagus-bagus tentangnya sudah saya dengar.”

Belum sampai Yaman sudah bertemu yang akan dituju, Yahya bin Ma’in pun menyampaikan kegembiraannya. “Allah mendekatkan langkah kita. Allah juga mencukupi bekal kita, karena belum sampai tujuan bekal masih banyak. Dan Allah menakdirkan kita untuk terbebas dari perjalanan sejauh satu bulan.”

Mendengar hal itu, Imam Ahmad justru mengingatkannya. “Saya waktu sejak di Baghdad, sudah berniat untuk mendengar hadis dari ‘Abdur Razzaq di Yaman, bukan di sini. Demi Allah, saya tidak akan mengubah niat saya.

Singkat cerita, berangkatlah semuanya bersama-sama ke Yaman. Di perjalanan, bekal Imam Ahmad habis terlebih dahulu. ‘Abdur Razzaq menawari beliau banyak dirham untuk membeli bekal kembali, namun Ahmad bin Hanbal menolaknya. Walaupun, Abdur Razzaq sudah menawarinya, “terimalah sebagai hutang saja!”. Imam Ahmad tetap bergeming.

Baca Juga :  Menelusuri Dalil Halal Bihalal dalam Islam

Yahya bin Ma’in juga menawarkan bekalnya kepada Imam Ahmad, namun Imam Ahmad tetap tidak mau. Mereka berdua justru mendapati Ahmad bin Hanbal, merajut kain kasar untuk dijual dan uang yang didapatkan ia gunakan untuk bekal dan makan.

Setelah Ahmad bin Hanbal tiba di Yaman, ia pernah menggadaikan sejenis bejana kepada seorang tukang penjual labu. Dari hasil gadai itu, imam Ahmad gunakan untuk mencukupi kebutuhannya.

Saat akan melunasinya, penjual labu itu mengeluarkan dua bejana, sambil berkata: “yang mana bejanamu?” Imam Ahmad tidak bisa membedakan karena dua-duanya hampir sama. Ia lalu berkata, “dua-duanya mirip. Kamu boleh ambil bejanaku dan ini uang untuk membayar gadaiannya.” Melihat hal itu, Syaikh Sulayman bin Dawud al-Syadzakuni, yang sedari awal sudah melihat transaksi gadai hingga akan membayarnya, menghardik tukang jualan labu itu. “kamu mau mempermainkan orang zuhud ya! Sudah tahu bejana itu modelnya mirip-mirip!. Tukang jual labu itu lalu memohon maaf, mengembalikan bejananya, dan dengan polos berkata, “saya cuma ngetes beliau saja”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here