Ibrahim bin Adham Enggan Jawab Salam Lelaki Tua Berjubah

1
1515

BincangSyariah.Com – Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Hilyah Al-Awliya wa Thabaqat Al-Asyfiya karya Abu Nu’aim Al-Isyfahaniy (w. 430 H), Ibrahim bin Adham bin Manshur bin Yazid bin Jabir Al-‘Ijli merupakan seorang raja Balkh—sebuah kerajaan yang terletak di Kota Khurasan—yang memilih meninggalkan gemerlap kemewahan istana untuk hidup zuhud. (Baca: Syekh Ibrahim bin Adham Zuhud Akibat Lihat Orang Disuapi Makanan oleh Burung)

Suatu hari, saat Ibrahim bin Adham sedang memberikan tausyiah keagamaan kepada murid-muridnya di sebuah masjid di kota Basrah, datang lelaki tua dengan mengenakan jubah hijau lengkap dengan seuntai tasbih di tangannya. Dengan wajah yang sangat bersih dan berseri-seri, lelaki tua tersebut berkata, “Assalamu’alaikum”.

Namun demikian, anehnya, bukannya menjawab salam dari lelaki tua tersebut, Ibrahim bin Adham justru mengabaikannya dan malah kembali melanjutkan tausyiah keagamaannya. Dengan wajah tersenyum, lelaki tua tersebut lantas menuju ke arah sudut masjid.

Setelah mengerjakan shalat sunah beberapa raka’at dengan khusyuk, lelaki tua tersebut kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa sembari menangis. Hal yang sama terjadi lagi. Melihat apa yang dilakukan oleh lelaki tua tersebut, Ibrahim bin Adham kembali mengabaikannya dan justru kembali melanjutkan tausyiah keagamaannya.

Merasa tidak dihiraukan oleh Ibrahim bin Adham, dengan penuh perasaan tersinggung, lelaki tua tersebut lekas meninggalkan masjid tersebut tanpa sedikit pun menyapa Ibrahim bin Adham dan murid-muridnya.

Melihat kejadian tersebut, para murid Ibrahim bin Adham merasa bingung. “Mengapa syekh bersikap demikian, padahal ia merupakan seorang yang alim,” gumam salah seorang murid dalam hati.

“Wahai syekh! Bukankah tadi ada lelaki tua yang saleh masuk ke dalam masjid, mengapa anda tidak menghormati kedatangannya? Anda justru kembali melanjutkan tausyiah?” tanya salah seorang murid.

Baca Juga :  Kemanusiaan Sebelum Beragama

“Dari mana kalian tahu bahwa dia adalah seorang yang saleh? Padahal tidak sekalipun kalian berjumpa dengannya?”, jawab Ibrahim bin Adham.

“Oh ya jelas syekh. Ia tampak saleh sekali. Coba anda perhatikan tadi, ia datang dengan mengenakan jubah dan seuntai tasbih di tangannya. Bukankah itu semua merupakan tanda-tanda kesalehan?” tanya seorang murid.

“Wahai ananda, kesalehan seseorang tidak selalu dapat diukur dari jubah dan seuntai tasbih yang ia bawa kemana-mana. Jubah hanyalah pakaian luar, sedangkan nilai di dalam tasbih tidak terletak pada biji-bijinya, ia terletak pada pengamalannnya,” jawab Ibrahim bin Adham.

Sang murid hanya terdiam mendengar jawaban tersebut.

Terkadang hal yang demikian justru memiliki maksud tertentu, seperti mencari perhatian orang banyak agar disanjung,” jawab Ibrahim bin Adam.

Merasa belum puas dengan jawaban Ibrahim bin Adham, salah seorang murid kembali mengajukan pertanyaan, “Wahai syekh, lalu mengapa anda tidak menjawab salamnya? Bukankah menjawab salam itu wajib hukumnya?”

“Saya sengaja tidak menjawab salamnya sebab ia tidak mengerti etika dalam menyampaikan salam. Pada dasarnya, menyampaikan salam kepada para jamaah yang sedang menyimak pelajaran itu tidak diperbolehkan, karena bisa mengganggu. Jika dia seorang yang alim, seharusnya ia mengerti. Dan sudah seharusnya juga, ia bergabung di masjlis ini dan tidak memisahkan diri di sudut masjid itu,” jawab Ibrahim bin Adham sembari tersenyum.

“Maaf syekh, apakah perbuatan memisahkan diri untuk melaksanakan shalat sunah dan berdoa dengan khusyuk sembari menangis itu salah?” tanya seorang murid yang terkenal paling pandai dalam majlis tersebut.

Benar! Tapi ia salah dan rugi besar”, jawab Ibrahim bin Adham.

 Mengapa demikian?”, sang murid kembali bertanya.

Baca Juga :  Keutamaan Bulan Muharam

Selayaknya ia tahu bahwa pahala menghadiri majlis pengajian satu jam itu lebih baik daripada shalat sunah seribu rakaat. Lalu apakah tadi lelaki tua itu shalat sunah seribu rakaat? Lagi pula kita dianjurkan berdoa sembari menangis itu tidak disaksikan banyak orang, melainkan di ruang sepi waktu malam hari setelah shalat tahajud”, jawab Ibrahim bin Adham menandaskan pertanyaan sang murid.

Mendengar jawaban tersebut, para murid hanya bisa terdiam dan merenungi nasehat Ibrahim bin Adham. Mereka semakin sadar bahwa masih banyak pelajaran yang belum mereka ketahui.

Melalui kisah Ibrahim bin Adham ini, menjelaskan bahwa janganlah kita terlalu dini dalam menilai orang lain, terlebih hanya sebatas luarnya saja. Sebab, penampilan luar seringkali bisa menipu.

Wallahu’alam…

1 KOMENTAR

  1. pantesan namanya juga adham yg ditendang dari surga itu kan?

    jaga hati dan akhlak kalian itulah islam.
    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here