Kisah Hindun binti Uthbah, Pemakan Hati Paman Nabi yang Jadi Sahabat Rasulullah

0
1488

BincangSyariah.Com – Hindun bernama lengkap Hindun binti Uthbah bin Robi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

Ia adalah istri dari Abu Sufyan bin Harb, seorang pria yang sangat berpengaruh di Mekkah. Ia adalah ibu dari Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri dinasti Umayyah dan Ramlah binti Abu Sufyan adalah salah satu dari istri Rasulullah.

Abu Sufyan dan Hindun awalnya sangat menentang penyebaran agama Islam. Statusnya sebagai sahabat Nabi dipertanyakan karena aksinya sebelum memeluk Islam, yang telah memakan hati dari Hamzah paman Rasulullah sewaktu Perang Uhud (tahun 3 H), sehingga wanita Quraisy ini digelari ”Akilatul Kibdah” (Pemakan Hati).

Hindun binti Utbah termasuk di antara golongan perempuan yang terhormat dan terkenal banyak ide, cerdas, fasih, pintar berbahasa, pandai dalam ilmu sastra dan juga bersyair. Dia juga mahir dalam menunggang kuda dan mempunyai kematangan jiwa yang tangguh.

Pada saat Perang Uhud, Abu Sufyan ikut keluar dan menjadi salah seorang panglima pasukan Makkah. Dia berperang bersama Hindun yang tergabung dalam 15 orang wanita lainnya.

Ketika dua pasukan berhadapan dan semakin berdekatan, Hindun berdiri di kalangan para wanita yang bersamanya, kemudian mereka mengambil gendang dan mulai menabuhnya di barisan belakang pasukan untuk memberi semangat.

Setelah pertempuran selesai, Hindun dan beberapa wanita yang bersamanya terdiam menghitung-hitung jumlah korban yang terbunuh dari pihak Muslimin. Kemudian Hindun juga merobek perut Hamzah, paman Rasulullah, lalu mengeluarkan hatinya dan mengunyahnya.

Namun dia tidak mampu menelannya, sehingga memuntahkannya. Hal ini dilakukan Hindun untuk membalaskan dendamnya kepada Hamzah. Hamzah di perang Badar (tahun 2 H) berhasil membuat ayah, pamannya yang bernama Syaibah, dan juga saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh, sehingga menyebabkan sesaknya rasa dendam yang membara di hati Hindun.

Baca Juga :  Apa Dalil Takbiran di Hari Raya dalam Al-Qur'an dan Sunnah?

Berita ini segera disampaikan kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, “Kalau saja dia menelannya, tentu dia tidak akan tersentuh api neraka, karena Allah mengharamkan bagi neraka untuk menyentuh bagian daging Hamzah sedikit pun.”

Hindun Binti Utbah masuk Islam pada saat peristiwa Fathu Makkah (8H) dengan masuknya pasukan kaum Muslimin secara damai di Kota Suci Makkah. Hindun pun berkata kepada Abu Sufyan, “Aku ingin menjadi pengikut Muhammad.”

“Bukankah aku lihat kau kemarin begitu membencinya,” kata Abu Sufyan.

“Sesungguhnya aku sebelumnya tidak pernah melihat orang yang beribadah pada Allah itu dengan benar hingga apa yang kusaksikan tadi malam. Demi Allah, mereka betah berdiri, ruku’ dan sujud,” tutur HIndun.

“Jika kau tetap dengan keputusanmu maka laksanakanlah, pergilah membawa seorang dari kaummu untuk menemanimu,” kata Abu Sufyan.

Kemudian Hindun berangkat menemui Rasulullah untuk berbaiat. Ia datang dengan menyamar menggunakan cadar, karena merasa takut namun kemudian Rasulullah menangkapnya setelah mengenal suaranya. Saat itu banyak pula pria termasuk Abu Sufyan dan wanita yang datang berbaiat kepada Rasulullah SAW.

Setelah masuk islam ia menjadi Muslimah yang ahli ibadah, rajin shalat malam dan berpuasa. Ia sangat konsisten dengan status barunya tersebut sampai tiba saat yang membawa kegelapan bagi seluruh bumi ini, yaitu wafatnya Rasulullah SAW.

Hindun sangat terpukul, hatinya nyaris hancur, karena merasa terlalu lama dirinya memusuhi Rasulullah dan baru saja bisa menerima Islam. Namun demikian, ia tetap mempertahankan keislamannya dengan baik. Ia tetap menjadi seorang ahli ibadah dan menjaga janji setia yang pernah diucapkannya di hadapan Rasulullah.

Hindun binti Utbah wafat pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, bersamaan dengan Abu Quhafah, ayahanda Abu Bakar Ash-Shiddiq tahun 14H. Hindun binti Utbah meninggal di atas tempat tidurnya, setelah Hindun memberikan segala kemampuannya untuk membela agama yang agung ini.

Baca Juga :  Kritik terhadap Bertrand Badie Soal Modernisasi Politik di Dunia Muslim

Hindun meriwayatkan beberapa hadits dari Rasulullah SAW. Beberapa orang meriwayatkan darinya seperti, Muawiyah bin Abu Sufyan (anaknya) dan Aisyah Ummul Mukminin.

Wallahu A’lam Bisshowab

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di majalahnabawi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here