Kisah Gus Dur Cuci Piring di Australia

1
1226

BincangSyariah.Com – Fachry Ali, Pengamat Sosial Politik kawakan beberapa kali membagikan di linimasa akun Facebook-nya beberapa catatan persinggungannya dengan K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sudah terjadi sejak medio 70-an.

Salah satu yang dibagikan beliau adalah soal cerita Gus Dur mencuci piring di Australia, yaitu ketika Gus Dur menginap beberapa hari di rumah Fachry Ali. Peristiwa itu terjadi di tahun 1991, ketika Gus Dur diundang ceramah akademik di Monash University, Melbourne, Australia. Berikut kisah selengkapnya.

Mei 1991 saya tiba kembali ke Monash University, Melbourne, Australia. Kata kembali adalah karena Januari atau Februari tahun itu, saya diundang menjadi pembicara dalam sebuah seminar di universitas yang sama. Mohamad Shobary (kini Budayawan dan Kolumnis di berbagai media massa), dua tahun lebih awal dari saya, berbaik hati, bukan saja menjemput saya di Bandara, melainkan menampung di flatnya selama dua pekan. Kepada saya, Shobary bilang, “kamu harus cari rumah yg besar. Gus Dur akan datang. Kasihan kalau ia di inapkan di asrama.” Maka, dengan berjalan kaki musim dingin, Shobary menemani saya mencari tempat tinggal yg “layak”, dalam arti, kelak Kiai Abdurrahman Wahid akan betah jika tinggal.

Pencarian ini berhasil. Dapatlah sebuah rumah 4 kamar di 31 Cambro Road, Clayton, Melbourne. Di samping memiliki halaman depan, rumah itu berhalaman belakang cukup luas — dengan pohon apel dan peer.

Sayangnya, Shobary harus segera pulang dan karena itu tak sempat bertemu Kiai Abdurrahman Wahid kali ini.

Maka, ketika Gus Dur tiba di Australia bersama sang istri, Mbak Siti Nuriyah, Kiai Abdurrahman Wahid tinggal di tempat kami selama tiga pekan di Clayton, dekat kampus Monash.

Ada tiga hal yang mau saya cerita. Pertama, adalah ucapan Kareen, seorang administrator Centre of Southeast Asian Studies, Monash University waktu. Ia mengatakan, “I give him seven stars”, katanya tentang kualitas Kiai Wahid. Dan John Legg, Herb Feith serta lainnya yang hadir dalam rapat acara Kiai Wahid di kampus mendukung. Penampilan Kiai Wahid, tanpa teks, dalam bahasa Inggris, memang memukau sivitas akademika Monash.

Kedua, “berkah” Kiai Wahid dan istri tinggal di rumah saya adalah tamu yg berdatangan hampir tiap malam dalam jumlah lebih dari 15 orang. Greg Barton dan Greg Fealy termasuk di antara mereka. Kareen hingga memberikan A$ 100 kepada saya untuk membantu biaya penganan dan minuman para tamu.

Ketiga, ketika tamu tidak ada, Kiai Wahid yg saya panggil ‘Cak Dur’ — ekuivalen dengan ‘Cak Nur’, karena sama-sama dari Jombang — berkata, “Ry, ayo kita sewa film.” Maka, saya bergerak berdua ke tempat penyewaan film. Kiai Wahid sendiri yg memilih. Biasanya, saya hanya mampu menemani Kiai Wahid nonton hingga pukul 1 pagi. Saya pamit tidur dan Kiai Wahid — sambil bergolek di atas karpet — melanjutkan nonton sendiri.

Keempat, kami ke kampus dengan mobil Chrysler kuning muda saya. Dan selalu Kiai Wahid berkomentar ketika sudah duduk di dlm mobil. “Saya kalau naik mobil Fachry kayak bangsawan Jawa.” Saya hanya tertawa. Sambil menyetir, saya melirik Kiai Wahid memegang ujung seatbelt dengan tangan kirinya ke bawah. Sebab, seatbelt-nya terlalu pendek. Lalu saya berkata, “harus pegang keris terus ya?!” Kami berdua tertawa lepas. Itulah yang dimaksud ungkapan “kayak bangsawan Jawa”. Di kampus kami berpisah. Sore hari, saya pulang dan mendapati Kiai Wahid sedang nonton televisi. Satu kunci memang saya berikan kepadanya. Dan saya langsung bergerak ke dapur untuk cuci piring. Tapi apa yang saya lihat? Semua piring sudah tercuci dan masih ada tetesan air di sekitar rak piring. Saya kembali ke ruang tamu. Saya tersenyum. Kiai Wahid tersenyum juga. Seakan-akan ingin mengatakan: “Enggak usah repot-repot cuci piring. Sdh saya lakukan sebelum kamu pulang.”

Tak menyangka, delapan tahun kemudian Kiai Wahid menjadi Presiden negara terbesar di Asia Tenggara. Mestinya, piring-piring sentuhan Presiden Abdurrahman Wahid itu saya simpan sampai kini.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here