Kisah Gadis Miskin Penjual Susu yang Jujur, Menantu Idaman Umar bin Khattab

0
56

BincangSyariah.Com – Bagi Umar bin Khattab, menjadi pimpinan tertinggi umat Islam berarti bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Untuk memastikan hal itu, sang khalifah kerap kali blusukan sendirian ke berbagai pelosok negeri.

Dikisahkan Ibnu Jauzi dari Uyun Hikayat, di suatu malam, Umar seperti biasa menyusuri jalanan setapak Madinah. Tatkala beliau melewati sebuah dinding rumah, tidak sengaja beliau mendengar percakapan antara seorang ibu dan putrinya. Keduanya berprofesi sebagai pemerah dan penjual susu.

“Wahai putriku, campurkanlah susu ini dengan air,” ucap si ibu.  Hal ini bermaksud agar mereka bisa menjual susu lebih banyak supaya mendapat keuntungan berkali-kali lipat.

Hebatnya meski diiming-imingi keuntungan ganda, si anak tidak tergoda. “Bukankah ibu sudah tau, perbuatan seperti itu dilarang oleh Amir Mukminin. Khalifah Umar dengan tegas monolak segala praktik kecurangan.” (Baca: Abdullah bin Umar bin Khattab: Putra Khalifah yang Menolak Kekuasaan)

Ibunya kembali membujuk gadis tersebut, ”Wahai putriku, ayo segera campurkan susu itu dengan air, sesungguhnya kamu berada di tempat yang aman, Khalifah Umar tidak mungkin bisa melihatmu.”

Dengan sangat bijak si gadis menjawab,”Wahai ibuku, Demi Allah aku bukan orang yang taat hanya saat berada di keramaaian lalu bermaksiat di saat sepi.” Si gadis paham, pada dasarnya setiap gerak-gerik manusia tidak lepas dari pengawasan Allah. Oleh karena itu, meski ia bersembunyi di belahan dunia manapun, sudah tentu Allah akan mengetahuinya.

Umar takjub dengan sikap dan respon yang ditunjukkan oleh gadis tersebut. Kemudian keesokannya beliau memerintahkan pembantunya, Aslam untuk pergi ke rumah yang disambanginnya tadi malam,”Wahai Aslam, cari tahu siapa penghuni rumah ini, anak beserta ibunya.”

Aslam segera melaksanakan titah Umar. Dari hasil surveinya, diketahui gadis tadi berstatus seorang budak wanita yang belum menikah. Kemudian Umar mengumpulkan putra-putranya. “Apakah di antara kalian ada yang sedang mencari jodoh? Jika iya, segeralah nikahi budak perempuan itu,” tutur Umar.

Baca Juga :  Kisah Umar bin Khattab yang Kalah "Bersaing" Amalan dengan Abu Bakar

Abdullah berkata, ”Wahai ayahku, aku sudah memiliki istri.” Putra beliau lainnya, Abdurrahman mengutarakan ungkapan senada “Saya pun telah memiliki istri.” Sekarang giliran Ashim, beliau segera mengacungkan tangan lalu berseru “Wahai ayahku, aku belum memiliki istri, maka tolong nikahkanlah aku dengannya.”

Mendengar jawaban putranya, Umar kemudian menikahkan Ashim dengan si gadis miskin penjual susu. Sebuah keterangan membeberkan bahwa nama dari gadis ini adalah Fatimah. Dari pasutri ini lahirlah anak perempuan rupawan bernama Laila. Setelah tumbuh dewasa Laila dipersunting oleh Abdul Aziz.

Tidak berselang lama, Laila mengandung dan melahirkan pemuda kelas kakap cerdas nan shalih yang kelak akan menjadi salah satu pimpinan terbaik umat Islam yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Anak ini tidak lain adalah Umar bin Abdul Aziz.

Kejujuran dalam berdagang memiliki banyak keuntungan. Di antaranya kenikmatan di akhirat kelak.  Sebagaimana dalam riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Seorang pedagang yang jujur dan dipercaya akan bersama para Nabi, shiddiqun dan para syuhada.”

Dalam Tuhfat Ahwadzi Syarh Jami’ Tirmidzi, Al Mubarakfuri menuturkan bahwa hadis tersebut berarti, barang siapa yang jujur dan amanah maka dia akan digolongkan bersama orang – orang baik yakni para Nabi dan shiddiqun.

Sementara bagi orang yang melakukan hal sebaliknya – tidak jujur dan amanah – maka dia akan digolongkan bersama orang – orang durhaka yakni para orang – orang fasik dan ahli maksiat.

Teladan lainnya yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah hendaknya berdakwah berdasarkan prinsip dakwah yang benar, jauh dari kemurkaan, kekerasan dan mengedepankan akhlak mulia.

Di sini Fatimah menolak ajakan majikannya untuk berbuat curang dengan menggunakan kalimat – kalimat yang baik, sopan dan mudah dipahami lawan bicara. Selain itu Fatimah tidak hanya berbicara belaka namun juga mengamalkannya. Singkatnya, dia bisa menyampaikan ajaran Islam dengan mempraktikkan ajaran Islam itu sendiri

Baca Juga :  Anekdot: Menurut Umar bin Khattab, Wajah Malaikat Munkar-Nakir Terlalu Seram

Ini selaras dengan Kalamullah dalam surat An Nahl ayat 125 : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here