Kisah Perjalanan Ibnu Sina dalam Mencari Ilmu

0
1121

BincangSyariah.Com – Dalam perjalanan mencari ilmu, banyak para ulama yang mengalami kejadian futuh yakni keterbukaan hal-hal yang spiritual. Mayoritas ulama menafsirkannya dengan kemenangan. Tahap ini adalah tahap dimana seseorang mengalami pencerahan batin dan memperoleh futuh.

Banyak dari ulama terdahulu yang mengalaminya. Sebut saja Syaikh al-Rais Ibnu Sina yang bercerita tentang perjalanan keilmuannya;

“Ayahku berasal dari Balkh. Lalu pindah ke Bukhara pada masa Nuh bin Manshur. Beliau menikahi ibuku dan tinggal di sana. Aku lahir di sana. Ayahku mendatangkan pengajar Alquran dan pengajar sastra. Ketika berumur sepuluh tahun, aku telah hafal Al-Qur’an dan banyak sastra hingga banyak yang takjub kepadaku,”

Sebagaimana diketahui Ibnu Sina mempelajari kitab-kitab fisika dan metafisika. Pintu-pintu ilmu pun terbuka padanya. Kemudian Ia ingin mempelajari ilmu kedokteran dan mulai membaca kitab-kitab tentangnya. Menurutnya, ilmu kedokteran bukanlah ilmu yang susah. Ibnu Sina mampu menguasainya dalam waktu yang sangat singkat. Hingga pembesar-pembesar kedokteran belajar ilmu kedokteran padanya. Ketika itu, Ia masih berumur 16 tahun.

Setelah mempelajari ilmu kedoktern, Ibnu Sina kemudian menfokuskan diri selama satu setengah tahun. Kemudian Ia mempersiapkan diri membaca Mantiq dan seluruh bagian-bagian dari filsafat.

Dalam masa pencarian ilmu ini, sekalipun Ibnu Sina tidak pernah tidur sepanjang malam hari dan di siangnya, kesibukanku hanya untuk ilmu. Setiap kali kebingungan dalam satu masalah yang dipelajarinya, berulang kali Ia pergi ke masjid. Shalat kemudian mengadu kepada Allah.  Pada masa itulah Ibnu Sina merasa memperoleh futuh.

“Jika aku kebingungan dalam satu masalah, berulang kali Aku pergi ke masjid. Shalat kemudian mengadu kepada Allah. Hingga Allah men-futuh aku,” ujar Ibnu Sina.

Ketika Malam hari tiba, Ibnu Sina baru pulang ke rumah. Ia meletakkan lentera di sampingnya dan menyibukkan diri kembali dengan membaca dan menulis.

Baca Juga :  Muawiyah dan Negara Kerajaan Islam

“Manakala aku ketiduran atau merasakan letih, aku meneguk segelas minum hingga kekuatanku kembali lagi. Aku kembali membaca. Seringkali kali aku ketiduran, hingga aku bermimpi permasalahan tersebut sampai-sampai banyak sekali permasalahan yang terbuka dalam mimpi,” katanya bercerita.

Tak hanya itu, futuh juga terjadi padanya pada saat ia mempelajari Ilmu Metafisika. Dalam kitab Tarikh al-Hukama, karya Jamaluddin al-Qifthi dijelaskan bahwa pada awalnya mempelajari metafisika sulit bagi Ibnu Sina.

“Suatu hari aku membaca kitab metafisika Aristoteles dan aku sama sekali tak paham. Maksud pengarangnya buram dalam pikiranku hingga aku mengulanginya 40 kali dan aku berhasil menghafalnya. Namun aku belum juga paham dan aku pun menyerah. Tidak ada jalan untuk memahaminya!” Ucap Ibnu Sina.

Namun suatu hari, tepatnya pada saat Ashar, Ibnu Sina berada di para penjual kitab. Ada salah seorang tukang lelang kitab. Di tangannya terdapat satu jilid kitab tentang metafisika. Penjual itu menawarkan kepadanya.

Namun Ibnu Sina menolak dengan jengkel sembari meyakini tak ada manfaat dalam ilmu ini. Tapi sang penjual berkata padanya, “Belilah kitab ini! Murah kok. Aku menjualnya 3 dirham kepadamu. Pemiliknya butuh harga segitu.”

Singkat cerita Ibnu Sina pun membeli kitab itu. Ternyata itu kitabnya Abu Nashr al-Farabi tentang maksud kitab Metafisika-nya Aristoteles.

Lalu Ibnu Sina kembali ke rumah dan langsung membaca kitab itu dengan cepat. Maka seketika itu, aku mendapatkan futuh dari kitab tersebut sebab Ia telah hafal di luar kepala. “Aku benar-benar sangat senang dengan hal itu. Di hari kedua, aku bershadaqah dengan jumlah yang banyak kepada para faqir. Bentuk syukur-ku kepada Allah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here