Kisah Empat Ulama Kelaparan

0
1693

BincangSyariah.Com – Kadang, kalau kita berbicara masa “keemasan” peradaban Islam, biasanya kita banyak mengulas tentang capaian para raja-raja, ekspansi wilayah capaian ekonomi, serta kemampuan-kemampuan para ulama di satu zaman memproduksi satu bidang keilmuan atau karya besar tertentu. Padahal, khusus tentang kisah para ulama misalnya, ada kisah-kisah yang memang kalau dilihat dari sudut pandang “keemasan” peradaban, sangat bertolak belakang. Seperti yang kami tuliskan di judul, “kisah sekelompok ulama kelaparan”, bagaimana disebut keemasan peradaban kalau ada ulama kelaparan. Tapi nyatanya ya ada kisahnya.

Kisah ini diabadikan dalam Thabaqat as-Syafi’iyyah al-Kubra karya Tajuddin as-Subki, Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, serta ad-Dzahabi dalam Tadzkiratu al-Huffadz. Kisah-kisah ini dirangkum oleh Syaikh Abdul al-Fattah Abu Ghuddah dalam bukunya Shafahaat min Shobr al-‘Ulamaa’.

Dikisahkan, Muhammad bin Jarir at-Thabari (penulis kitab tafsir pertama yang terbesar, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aayi al-Qur’an), Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (terkenal dengan karyanya Shahih Ibn Khuzaimah), Muhammad bin Nashr al-Marwazi, dan Muhammad bin Harun ar-Ruyani, keduanya sama-sama dengan melakukan perjalanan jauh dan bertemu di Mesir. Dan, mereka semua tidak lagi memiliki bekal untuk dimakan sehingga mereka terancam kelaparan di hari itu.

Berkumpullah mereka di satu rumah, dan mereka menginap bersama di rumah tersebut. Dan mereka menghabiskan malam dengan terus menulis hadis Nabi. Kemudian, mereka bersepakat berundi siapa diantara mereka yang keluar namanya, menjadi sukarelawan untuk keluar meminta sedikit makanan untuk diberikan kepada teman-temannya.

Nama yang keluar ternyata Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah.

Ia lalu berkata, “sebentar ya, ssaya wudhu dan shalat istikharah sebentar.” Saat beliau shalat, tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk pintu. Saat mereka buka, ada orang yang turun dari kudanya dan berkata,

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Paling Sabar?

“Siapa disini yang namanya Muhammad bin Nashr?” Lalu mereka menunjuk orang. Penunggang kuda tadi lalu mengeluarkan satu ikat berisi 50 dinar. Ia pun memberikannya kepada Muhammad bin Nashr.

Ia bertanya lagi, “mana yang namanya Muhammad bin Jarir?” Mereka pun menunjuk, “ini orangnya.” Lagi-lagi, orang tadi mengeluarkan seikat berisi 50 dinar. Begitu juga kepada Muhmmad bin Ishaq bin Khuzaimah. Begitu juga kepada Muhammad bin Harun (ar-Ruyani).

Kemudian penunggang kuda tadi cerita, “Sesungguhnya al-Amiir (pimpinan) kami pernah di waktu siang, ia kemudiann bermimpi, ada seorang kuda lewat dan berkata,”orang-orang baik itu menghilangkan rasa kelapara orang lain.” Saat terbangun, raja pun memerintah pengalawnya mengirimkan kantong-kantong uang tadi.

Demikian kisahnya, jadi ulama juga pernah mengalami fase kelaparan bukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here