Kisah Dinasti al-Murabithun Minta Legitimasi Kekuasaan dari Imam al-Ghazali

0
84

BincangSyariah.Com – Pertempuran Zalaqqah bukanlah akhir dari konflik muslim di Andalusia dan umat Kristen. Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Kristen masih dilakukan. Bahkan mereka sering melakukan adu domba dan intervensi. Dari sini perpecahan umat muslim makin menjadi. Keutuhan mereka makin lemah. Para raja pun tidak kuasa untuk terus mempertahankan dinastinya, termasuk Valensia yang menjadi ibu kota di sebelah timur Andalusia. Valensia pun direbut oleh kerajaan Kristen.

Untuk kedua kalinya Yusuf bin Tasyfin melakukan lawatan ke Andalusia bersama pasukannya demi membantu umat muslim di Andalusia atas permintaan al-Mu’tamid. Namun sesampainya ia di sana, ia mengetahui bahwa ternyata umat muslim di Andalusia melakukan persekongkolan dengan umat Kristen. Hal inilah yang membuat ia marah besar dengan umat muslim di Andalusia. Hal tersebut terjadi pada tahun 1088 M.

Dua tahun kemudian ia kembali ke Andalusia untuk melakukan dakwah. Mengajak umat muslim Andalusia untuk melakukan jihad dan mengajak pasuka Kristen untuk masuk Islam. Yusuf bin Tasyfin merupakan sosok yang warak dan zuhud. Sehingga dakwahnya adalah dakwah yang tulus ingin menyebarkan agama Islam dan ajarannya. Tidak ada motif politik untuk merebut Andalusia. Sikap tersebut telah terlihat sejak awal saat memenangkan pertempuran Zalaqqah. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mendapatkan harta rampasan. Semuanya diserahkan kepada umat muslim di Andalusia.

Ajakannya kepada raja-raja kecil di Andalusia ternyata tidak disambut dengan baik meski ia telah bersikap tegas. Mereka mengaku merasa sungkan kepada kerajaan Kristen karena telah seringkali meminta bantuan dan kerjasama. Sikap ketidakpedulian umat muslim di Andalusia makin terlihat saat Yusuf bin Tasyfin melakukan pengepungan benteng Aledo milik umat Kristen dan sama sekali tidak dibantu oleh mereka. Selain karena rasa sungkan dan tidak peduli, ketidakpatuhan mereka juga disebabkan oleh karena Yusuf bin Tasyfin bukanlah sosok imam yang wajib dipatuhi. Saat itu, meski Muluk at-Thawaif berdiri, kepatuhan terhadap para pemimpin juga disebabkan karena para pemimpin tersebut mendapat pengakuan dan baiat dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Baca Juga :  Tujuh Tanda Kecintaan Seorang Hamba Kepada Allah

Padahal alasan tersebut hanyalah legitimasi mereka atas ketidakpatuhan terhadap Yusuf bin Tasyfin yang padahal telah berperan besar dalam melindungi Andalusia dan memperjuangkan martabat para raja di pertempuran Zallaqah. Sebenarnya merekapun juga tak sepenuhnya patuh terhadap syariat dan Kekhalifahan Abbasiyah. Semua terbukti dari sikap mereka yang berkali-kali melakukan kerja sama dengan pasukan Kristen dan membayar upeti kepada mereka meski menghuni wilayahnya sendiri.

Atas kejadian itu, Yusuf bin Tasyfin berupaya untuk menaklukkan raja-raja kecil demi mewujudkan misinya dalam berdakwah. Ia merasa perlu meminta legitimasi terhadap Kekhalifahan Abbasiyah agar ia mempunyai kuasa yang sah di Andalusia. Ia melayangkan surat yang diantarkan oleh al-Faqih Abu Muhammad al-Arabi dan putranya. Saat keduanya telah sampai Baghdad, mereka bertemu Abu Hamid al-Ghazali sosok yang terkenal sebagai seorang sufi. Saat itu beliau menjadi Qadhi di Baghdad.

Al-Arabi menyampaikan maksud dan isi surat dari Yusuf bin Tasyfin. Ia berterus terang mengenai apa yang terjadi di Andalusia. Baik mengenai kekacauan politik maupun kekisruhan sosial umat muslim. Semangat jihad pun sudah tidak ada lagi. Karena itulah Yusuf bin Tasyfin memohon kewenangan dan pengakuan sebagai penguasa Maroko dan Andalusia agar memudahkan jalan dakwahnya. Selain itu Imam al-Ghazali diminta untuk mengeluarkan fatwa mengenai hukum syariat dan pandangan-pandangannya mengenai peristiwa yang terjadi di Andalusia.

Setelah mendapatkan fatwa dan persetujuan, akhirnya Ibnu al-Arabi beserta putranya menuju ke Andalusia untuk menyampaikan balasan surat kepad Yusuf bin Tasyfin. Saat mereka berdua bertemu dengan al-Allamah Abu Bakar at-Thusrtusyi, Qadhi dari Dinasti Fatimiah, mereka langsung meminta fatwa dan persetujuan untuk Yusuf bin Tasyfin. Ibnu al-Arabi juga menyebarkan informasi atas baiatnya Yusuf bin Tasyfin menjadi penguasa Maroko dan Andalusia.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun tentang Peristiwa Pembantaian Imam al-Husain

Perjuangan dakwah Yusuf bin Tasyfin dalam melakukan dakwah di Andalusia tidaklah mudah. Tantangan utamanya adalah raja-raja kecil yang justru menjatuhkannya dan mengkhianatinya, termasuk al-Mu’tamid. Namun berkat kegigihannya ia berhasl menghimpun kekuatan dari umat muslim lainnya yang masih memiliki loyalitas kepadanya. Sampai akhirnya Andalusia berhasil dikuasai oleh muslim Murabithun.

*dikelola dari kitab Qisshoh al-Andalus min al-Fath ila as-Suquth karya Dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here