Kisah Dibalik Nama Surah Al-Baqarah

3
5567

BincangSyariah.Com – Setiap surah di dalam Al-Qur’an masing-masing memiliki nama. Nama tersebut kadang diambil dari kata yang ada di dalam awal surah, seperti surah Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin. Ada yang merupakan gambaran umum isi surah tersebut. Seperti surah An-Nisa’ yang banyak menggambarkan hukum-hukum tentang perempuan. Dan Ada pula yang diambil dari gambaran salah satu kisah dari surah tersebut. Seperti surah Al-Baqarah.

Al-Baqarah berarti sapi betina. Nama ini diambil karena di dalam surah ini tepatnya ayat 67-73 berisi tentang perintah Allah swt. kepada Bani Israil agar menyembelih sapi betina untuk mengungkap misteri pembunuhan.

Cerita ini bermula ketika pada suatu hari ada seorang laki-laki yang tidak memiliki keturunan tetapi kaya raya tiba-tiba meninggal dunia. Tak ada yang tahu siapa pembunuhnya. Maka, agar tidak terjadi saling tuduh menuduh dan terjadi pertumpahan darah karena masalah ini, mereka pun pergi menemui Nabi Musa a.s. atas nasihat ahli hikmah di antara mereka.

Setelah mendengarkan kasus yang sedang menimpa kaum Bani Israil, nabi Musa a.s. mengatakan, “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi betina.”

“Apakah kamu mengejek kami?” jawab mereka terheran-heran. Mereka memandang perintah tersebut adalah ejekan dan main-main. Mereka ingin solusi atas misteri kasus pembunuhan, malah disuruh menyembelih sapi.

Menanggapi kaumnya tersebut, Nabi Musa berkata, “Aku berlindung kepada Allah, agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” Perkataan Nabi Musa a.s. ini menegaskan bahwa dia bukan main-main dan bukan mengejek mereka. Karena perbuatan tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh. Mendengar itu, mereka pun luluh.

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina itu).” Tanya mereka menantang. Padahal perintahnya hanya disuruh untuk menyembelih sapi betina mana saja. Tetapi mereka malah menyulitkan diri mereka sendiri dengan menanyakan sapi betina yang seperti apa. Akhirnya Allah swt. pun menyulitkan mereka dengan jenis sapi betina yang sulit ditemui sebab kecerewetan mereka.

“Sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Jawab Nabi Musa a.s.

Setelah dipersulit seperti itu, mereka masih saja menanyakan kepada Nabi Musa tentang jenis sapi betina itu.

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.”

“Dia (Allah) berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandangi(nya).” jawab Nabi Musa menyampaikan firman Allah swt. untuk kaumnya yang sangat sombong dan ribet itu.

Setelah dijelaskan ciri-cirinya atas permintaan mereka itu, mereka masih saja tidak paham.

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu, karena sesungguhnya kami sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.” Pinta mereka sekali lagi yang justru semakin menyulitkan.

Nabi Musa a.s. menjawab, “Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, (tubuhnya) sehat, dan tidak belang.”

“Sekarang barulah kamu menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Jawab mereka dengan bangganya. Padahal tugas mereka semakin sulit.

Mereka pun akhirnya menyembelih sapi betina yang diperintahkan Allah swt. Namun, itu pun nyaris tidak sama persis dengan apa yang dicirikan Allah swt. Bahkan mereka sangat kerepotan. Betapa tidak, mereka harus mencari sapi betina yang tidak muda dan tidak tua, berwarna kuning sangat bagus serta enak dipandang mata, dan sapi tersebut adalah jenis sapi yang dimanja, alias tidak pernah digunakan untuk bekerja.

Setelah menyembelih sapi betina tersebut, Allah swt. melalui Nabi Musa a.s. menyuruh agar memukul mayat (laki-laki yang terbunuh) itu dengan bagian dari sapi itu. Sebagian ahli tafsir menafsirkan ekornya, meskipun disini Allah swt. tidak menjelaskan bagian tubuh sapi betina yang mana yang secara khusus digunakan untuk memukul mayat itu.

Setelah dipukulkan ternyata mayat itu dapat hidup kembali. Mereka pun menanyakan kepadanya, “Siapakah yang membunuhmu?”

“Yang membunuh aku ialah anak saudaraku, karena mengharapkan warisanku, sebab aku tidak memiliki anak, maka dialah yang berhak mewarisi hartaku. Sebab itulah aku dibunuhnya. ”

Setelah mengungkap siapa pembunuhnya, ia pun jatuh kembali dalam keadaan semula, yaitu bangkai dan langsung dikuburkan kembali. Karena mendengar keterangan sejelas itu, maka anak saudaranya itu ditangkap dan dijalankanlah hukum qishash atas dirinya.

Hal ini adalah salah satu petunjuk bahwa Allah swt. sangat berkuasa menghidupkan orang yang telah mati, lalu mematikannya lagi. Demikianlah asal usul nama surah Al-Baqarah yang dapat kalian baca di dalam ayat 67-73. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

100%

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here