Kisah Bani Israil yang Dikutuk Jadi Kera di Hari Sabtu

0
770

BincangSyariah.Com – Karena artikel ini dibuat di hari sabtu, penulis jadi teringat salah salah satu ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan tentang as-sabt, yang memang diantara terjemah harfiahnya adalah hari sabtu. Kata tersebut disebutkan dalam Al-Quran, tepatnya dalam kisah Bani Israil yang dikutuk jadi “kera” karena melanggar perintah Tuhan kepada Bani Israil untuk mengagungkan hari sabtu. Tanda kutip pada kata “kera” itu, nanti akan diulas dalam tulisan ini, karena ada yang mengartikannya secara harfiah, ada yang memahaminya sebagai alegori atau perumpaan. Ayat tersebut disebutkan dalam surah al-Baqarah [2]: 65-66,

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ – 66

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” (65) Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (66)

Pembicaraan dimulai dari siapa yang dimaksud dalam redaksi laqad ‘alimtum (kalian sungguh sudah mengetahui) dalam redaksi ayat tersebut. Ulama tafsir diantaranya Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim dan Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, menyebutkan kalau objek yang dimaksud dari ayat tersebut dalam bangsa Israil (Bani Israil).

Mengapa mereka disebut i’tadaw, yang diartikan sebagai melampaui batas? Menurut At-Thabari ayat ini dan sejumlah ayat sesudahnya seluruhnya diturunkan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Anshar sebagai peringatan agar mereka tidak lagi mengingkari perintah Allah. Khusus ayat 65 dari surah al-Baqarah, pesannya adalah jangan sampai mereka kembali mangkir dari perintah Allah sehingga mendapatkan azab layaknya orang-orang terdahulu, yang sebenarnya mereka sudah mengetahui kisahnya. Itu kenapa banyak ahli tafsir menyebut kalau redaksi ‘alimtum, menunjukkan orang-orang Yahudi sudah mengetahui kisah leluhur mereka yang diazab oleh Tuhan menjadi “kera”.

Baca Juga :  Perbedaan Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi

Apa yang dilakukan oleh para leluhur mereka sehingga sampai dikutuk menjadi “kera”? At-Thabari dalam tafsirnya, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aayi al-Qur’an, menyebut kalau kisah ini terjadi di zaman Nabi Musa As. Nabi Musa As. diperintahkan Allah untuk menjadikan hari jumat sebagai hari ibadah. Ketika disampaikan kepada umatnya, Bani Israil, mereka menawarkan argumen lain. Mereka berujar, “kenapa hari jumat dijadikan hari yang paling baik? Bukankah sabtu adalah hari yang paling baik, karena di hari itu Allah selesai menciptakan langit dan bumi?” Singkatnya, Nabi Musa As. pun menerima permintaan kaumnya itu.

Namun, yang menarik, setelah dirubah di hari sabtu, Allah uji dengan banyaknya ikan di hari sabtu tersebut. Menjala ikan adalah hal yang diperbolehkan. Tapi Allah uji dengan memunculkan banyak ikan di hari dimana mereka seharusnya beribadah. Mereka mencoba mengikuti aturan tersebut, namun setiap mereka mau mencari ikan di esok harinya, ikan-ikan itu justru tidak ada. Akhirnya, ada salah seorang dari mereka yang disebut-sebut adalah penduduk wilayah Madyan yang tinggal di pinggir pantai, mengakali dengan menggali sungai yang mengalirkan air laut ke lahan mereka lalu memberikan jaring di ujungnya di awal hari sabtu. Lalu, ketika hari sabtu itu sudah habis, mereka mengambil hasilnya.

Ide yang “sebenarnya terlihat cerdas” itu, ternyata berhasil. Singkat cerita, orang-orang perkampungan mulai mengikuti cara itu. Dalam waktu yang lama, mereka melakukannya secara tersembunyi. Merasa menikmati, mereka mulai terang-terangan bahkan sampai berani membuka pasar dan melakukan jual beli ikan tersebut. Beberapa orang shalih yang tidak mengikuti “trik” mereka ini mengutuk perilaku tersebut dan melarangnya. Akhirnya, di suatu hari sabtu, orang-orang shalih ini tidak mendapati seorangpun dari penduduk desa itu menghadiri ibadah. Saat mereka melihat apa yang terjadi, mereka melihat orang-orang berubah menjadi kera. Para mufasir berbeda pendapat, apakah yang dimaksud dalam kera dalam ayat tersebut, hakiki atau kiasan berupa sifat. Menurut Ibn ‘Abbas, mereka hanya hidup setelah diazab tersebut selama tiga hari.

Baca Juga :  Hassan bin Nu‘man; Juru Gedor Muslim Saat Hadapi Suku Barbar di Afrika

Spirit atau hikmah yang bisa digali dari ayat tersebut adalah soal pentingnya menjalankan agama dengan sebaik-baiknya. Ayat diatas mengkritik perilaku orang yang mencari celah keringanan dalam beragama, tapi ketika keran keringanan itu dibuka justru dijadikan cara untuk tidak menaati ajaran-Nya. Ibn Katsir menggambarkan ini untuk menggambarkan kenapa sekelompok dari Bani Israil itu dikutuk menjadi kera. Kera terlihat mirip dengan manusia, tapi mereka berbeda sekali hakikatnya.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here