Kisah Amr bin ‘Ash, Umar bin Khattab, dan Nenek Yahudi Korban Penggusuran

2
1831

BincangSyariah.Com – Ketika menjadi Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash berkeinginan untuk mendirikan Masjid yang bersebelahan dengan istananya. Akan tetapi, cita-cita tersebut terhalang oleh lahan yang harus menggusur tanah rakyat. Betul saja, tanah yang berada di samping istananya tersebut adalah milik salah satu warganya, nenek Yahudi.

Dengan segala upaya, para pembantu gubernur meminta(negosiasi) agar sang nenek mau menjual tanahnya untuk pendirian Masjid. Usut punya usut, sang nenek tetap saja bersikeras tidak akan menjual tanahnya walaupun cuma satu jengkal, termasuk kepada sang gubernur, Amr bin ‘Ash.

Walaupun bersitegang dengan nenek Yahudi, upaya melobi sang nenek oleh pihak pemerintah tetap berlanjut. Mulai dari akan memberi ganti rugi dengan harga yang tinggi sampai pada ingin melipat gandakan harga tanah tersebut jika sang nenek mau menjualnya. Namun perundingan itu selalu mengalami kegagalan.

Melihat keteguhan sang nenek, Amr bin ‘Ash sebagai gubernur menggunakan status sosialnya sebagai penguasa  Mesir. Ia mengambil keputusan untuk menggusur tanah dan rumah sang nenek Yahudi tersebut.

Karena tidak rela  dengan perlakuan semena-mena Amr bin ‘Ash, sang nenek Yahudi mencari keadilan kepada pemerintah pusat, yakni Khalifah Umar bin Khattab. Ia berharap agar bisa bertemu dengan Khalifah untuk mengadukan masalahnya. Sejurus kemudian, ia pun bertemu dengan sang Khalifah.

“Apa keperluan nenek datang jauh-jauh dari Mesir untuk ketemu saya?” tanya Umar.

Nenek itu kemudian bercerita tentang kejadian yang telah dialaminya. Laporan nenek yang teraniaya oleh perilaku bawahannya tersebut membuat Khalifah Umar bin Khattab naik pitam.

Setelah beberapa saat, nenek itu oleh Umar diminta untuk mengambil tulang belikat onta dari tempat sampah. Setelah ketemu, ia menyerahkannya kepada Umar. Kemudian Umar menggores tulang unta itu garis tegak lurus dari atas ke bawah seperti huruf alif. Lalu ditengah goresan itu dibubuhi goresan melintang menggunakan ujung pedang.

Baca Juga :  Hukum Berzikir dengan Tarian Sufi

“Nenek, silahkan kembali ke Mesir. Bawalah tulang ini dan berikan kepada Gubernur Anda”, pinta Umar kepada sang nenek.

Sesampainya di Mesir, nenek tersebut menyerahkan tulang tersebut kepada Amr bin ‘Ash. Setelah menerima tulang itu tubuh Amr bin ‘Ash menggigil dan wajahnya pucat. Saat itu juga Amr bin ‘Ash mengumpulkan rakyatnya dan memerintahkan untuk membongkar Masjid yang sedang dibangun. Dan meminta kembali kepada rakyatnya untuk membangun kembali gubuk sang nenek Yahudi.

Nenek Yahudi itu bingung dengan perilaku gubernur. Ia berfikir, “Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah aku hanya membawa tulang yang berisi garis. Tapi kenapa dari benda tak berharga itu gubernur yang tirani menjadi ketakutan?” gumamnya dalam hati.

Ia pun menemui Amr bin ‘Ash dan berkata, “ Wahai Gubernur, jangan bongkar dulu Masjid megah ini” tuturnya.

“Ketahuilah wahai nenek, tulang itu memang tampak biasa. Tetapi karena yang mengirim adalah Khalifah Umar bin Khattab, tulang itu menjadi peringatan keras kepadaku. Tulang itu memilki isarat ancaman Khalifah. Ia berarti apapun pangkat dan kekuasaanmu suatu saat kamu juga akan bernasib sama seperti tulang ini,” jelas Umar.

Sejenak kemudian Umar melanjutkan, “Karena itu berbuat adillah kamu seperti huruf alif yang  tegak lurus.  Adil kepada siapa saja, baik kepada masyarakat bawah ataupun atas. Sebab kalau kau tidak bertindak adil seperti goresan tulang itu, maka batang leherku akan ditebas.”

Nenek itu tertegun dan menunduk terharu mendengar penjelasan Amr bin ‘Ash. Ia terkesan dengan keadilan dalam Islam yang telah diterapkan sang Khalifah. Akhirnya sang nenek itu mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan masjid dan ia sendiri memeluk Islam. Wallahu’alam bish-Showab.

Disarikan dari buku karya Miftahul Asror, Abu Nawas Mengguncang Dunia, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2007.

Baca Juga :  Abdullah bin Umar bin Khattab: Putra Khalifah yang Menolak Kekuasaan

2 KOMENTAR

  1. “Ketahuilah wahai nenek, tulang itu memang tampak biasa. Tetapi karena yang mengirim adalah Khalifah Umar bin Khattab, tulang itu menjadi peringatan keras kepadaku. Tulang itu memilki isarat ancaman Khalifah. Ia berarti apapun pangkat dan kekuasaanmu suatu saat kamu juga akan bernasib sama seperti tulang ini,” jelas Umar.

    Harusnya ditulis jelas Amr bin Ash, bukan Umar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here