Kisah Adik Imam al-Ghazali yang Tidak Mau Berjamaah dengan Kakaknya

1
4740

BincangSyariah.Com – Imam Gazali memiliki saudara kandung laki-laki, Ahmad adalah nama adik kandungnya. Melalui karya agung, Ihya’ Ulumuddin, Imam Gazali terkenal dengan ulama yang luas pengetahuan. Wajar bila Imam Gazali selalu didapuk dan dipersilahkan untuk mejadi pemimpin salat berjamaah oleh orang-orang yang sezaman dengannya.

Imam Gazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Kemampuan ini yang kemudian ia dijuluki hujjatul islam. Sejak kecil dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara‘, zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha AllahSWT.

Imam Gazali terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Tidak menyia-nyiakan waktu, Imam Gazali membagi watu malamnya tiga pertiga, satu pertiga untuk belajar, satu pertiga untuk ibadah, dan satu pertiga untuk istrahat.

Ketika Imam Gazali pergi guna mencari ilmu, ia juga sering dinomor-satukan untuk menjadi imam salat. Selain luasnya pengetahuan, cara Imam Gazali bersikap telah membuat sepasang mata yang memandang terpesona. Budi luhurnya juga mengundang perhatian tersediri meskipun tidak secuilpun tergoda dan terjerat riya (melakukan sesuatu karena untuk disanjung manusia).

Di masjid, tempat biasa Imam Gazali melakukan dan menjadi Imam salat nyaris tiak pernah melihat saudaranya, Ahmad, dalam salat berjamaah. Betul, Ahmad memang berjamaah di masjid yang biasa dan bisa dipastikan adalah Imam Gazali pemimpin salatnya. Imam Gazali musykil dengan kejadian ini. Selain masjid itu dekat dengan rumah Ahmad yang seatap dengan Imam Gazali, Ulama bergelar hujjatul islam tersebut sangat menyadari pentingnya salat berjamaah.

Baca Juga :  Tiga Katagori Penuntut Ilmu Menurut Imam Ghazali

Kepada sang ibunda, Imam Gazali meminta, “Wahai ibu, perintahlah saudaraku, Ahmad, untuk berjamaah di Masjid bersamaku agar orang tidak menuduhku yang bukan-bukan.” Pesan sang kakak disimpaikan kepada adiknya oleh sang ibunda. Ahmad akhirnya berkenan untuk salat berjamaah di masjid yang pimpin oleh kakaknya, Imam Gazali.

Para jamaah salat pada waktu itu terkejut seperti tidak percaya. Begitu pula dengan Imam Gazali sendiri. Ternyata Ahmad, adik Imam Gazali, melakukan salat dengan mufaraqah (berhenti bermakmum atau melanjutkan salat sendirian). Setelah semua -Imam Gazali dan jamaahnya pun Ahmad yang salat sendirian- selesai mengerjakan salat, Imam Gazali menghampiri adiknya sembari bertanya, “Sebab apa kiranya kau lakukan salat mufaraqah wahai Ahmad, adikku?”

“Aku melihat perutmu penuh dengan lumuran darah. Karena itu, aku mufaraqah,”  kata adik yang jadi makmum pada sang kakak yang menjadi imam salat. Dengan segala keluhuran, Imam Gazali Menyadari bahwa, “Diwaktu salat aku memikirkan masalah membingungkan yang kudapati dalam belarku tadi malam.” Pada itu pula, tahulah Imam Gazali bahwa adiknya, Ahmad, memiliki ilmu pengetahuan yang tak kasat mata dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang suci. Imam Gazali pun meminta pada adiknya untuk diperkenalkan pada orang yang telah mengajrinya.

Kisah ini dinukil dan diolah dari kitab Syarh Maraqi al-Ubudiyah h. 85.

1 KOMENTAR

  1. […] Pun dengan perkembangan keilmuan, Bani Umayyah menjadikan kota Makkah dan Madinah tempat berkembangnya musik, lagu, dan puisi. Sementara di Irak (Bashrah dan Kufah) berkembang menjadi pusat aktivitas intelektual di dunia Islam. Sedangkan di Marbad, kota satelit di Damaskus, berkumpul para pujangga, filsuf, ulama, dan cendikiawan lainnya.Baca Juga :  Kisah Adik Imam al-Ghazali yang Tidak Mau Berjamaah dengan Kakaknya […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here