Kisah 3 Bayi Ajaib Dalam Islam

0
3760

BincangSyariah.Com – Umumnya bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibunya hanya dapat menangis dalam keadaan apapun. Entah ketika lapar, haus, berak atau kencing. Semua bayi pasti hanya mengekspresikannya dengan satu cara yakni menangis.

Namun, Allah Swt telah menunjukkan kuasanya kepada 3 bayi-bayi ajaib yang dapat berbicara sewaktu masih dalam gendongan ibunya. Bayi-bayi tersebut pernah diceritakan langsung oleh Rasulullah Saw. kepada Abu Hurairah ra yang terekspos di dalam shahih al Bukhari kitab Ahadisul Anbiya’. Siapakah ketiga bayi ajaib itu. Simak penjelasan berikut ini.

Pertama Adalah Nabi Isa as ketika masih bayi

Hal ini terekam jelas ceritanya dalam al Qur’an surah Maryam ayat 16 sampai 36. Kisah ini bermula ketika Maryam diberi kabar gembira oleh malaikat Jibril bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki suci. Maryam pun kaget, bagaimana ia bisa mengandung, disentuh oleh seorang laki-laki saja tak pernah ia rasakan.

Namun bagi Allah Swt. tidak ada yang tidak mungkin jika Ia telah berkehendak. Ia pun mengasingkan diri dengan kandungannya itu dari hingar bingar manusia, hingga masanya tiba ia merasakan sakit akan melahirkan. Setelah kelahiran Nabi Isa as, ia pun membawanya pulang ke kampung halamannya.

Cemoohan dan cibiran pun langsung didapatkan Maryam. “Wahai Maryam, Sungguh engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar.” “Wahai saudara perempuan Harun, Ayahmu bukanlah seorang yang buruk perangainya, dan ibumu bukan pula perempuan pezina.”

Mendengar hal itu, Maryam yang tak kuasa menantang mereka agar mananyakan langsung kepada anaknya yang masih bayi bahwa ia bukanlah pezina. “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan? Jawab mereka.

Namun Nabi Isa as yang masih bayi dalam gendongan Maryam pun dengan izin Allah Swt tiba-tiba bicara. “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan Aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku  (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Baca Juga :  Ramadan dalam Benak Bocah

Demikianlah perkataan Nabi Isa putra Maryam yang telah mereka ragukan kesuciannya. Padahal semua ini adalah kuasa Allah yang apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, maka Dia cukup hanya mengatakan “Jadilah”, maka jadilah sesuatu itu. Dan ucapan terakhir Nabi Isa as yang masih bayi kepada para penduduk yang meragukannya adalah “Dan Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalan yang lurus.”

Kedua adalah Bayi pembela Juraij

Peristiwa ini terjadi di kalangan Bani Israil. Suatu hari terdapat seorang laki-laki bernama Juraij sedang shalat di tempat peribadatan yang dibangunnya semacam musholla. Di tengah menjalankan ibadah shalat, ibu kandungnya datang menemuinya dan memanggil-manggil namanya. “Juraij….Juraij….”

Mendengar panggilan sang ibu, Juraij pun bimbang dalam shalatnya, aku jawab panggilan ibu, atau teruskan shalatku?. Akhirnya ia memilih untuk meneruskan shalatnya. Sedangkan ibunya geram, tak mendapati sahutan anaknya yang dari tadi dipanggil-panggil namanya. Karena sudah sakit hati, ibunya Juraij pun berkata “Ya Allah, Jangan Engkau matikan Juraij sampai Engkau memperlihatkan ia wanita-wanita pezina.”

Do’a sang ibupun segera dikabulkan Allah Swt. Tak lama kemudian, Juraij yang masih di dalam tempat peribadatannya didatangi oleh seorang wanita cantik yang merayunya untuk bercumbu dengannya. Juraij menolaknya dengan keras, karena ia memang dikenal dengan seorang yang alim dan ahli ibadah.

Kecewa dengan penolakan Juraij, wanita itu pun mendatangi laki-laki penggembala kambing, merayu dan mengajaknya melakukan perbuatan zina. Setelah itu, wanita tersebut hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia mengaku kepada kaum Bani Israil bahwa anaknya tersebut adalah hasil hubungan gelapnya dengan Juraij.

Sontak kaum Bani Israil pun kalap, karena laki-laki yang selama ini mereka anggap sebagai seorang yang alim dan sholeh hanyalah sekedar topeng belaka, tetapi kelakukannya bejat. Mereka pun berbondong-bondong menyerbu tempat peribadatan Juraij untuk mereka hancurkan. Mereka tak henti-hentinya mencela dan menghakimi Juraij.

Baca Juga :  Kisah Sindiran Allah kepada Ibrahim bin Adham

Juraij yang merasa tidak bersalah, mencoba untuk mendinginkan suasana. Segera Juiraj mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat, meskipun tempat peribadatannya sekarang telah hancur lebur. Kemudian, Juraij mendatangi bayi kecil yang dituduh sebagai anaknya dan bertanya “Siapa bapakmu?”

Dengan izin Allah Swt. kepada hambaNya yang sholeh, anak laki-laki yang masih bayi itu pun menjawab. “Sang Penggembala.” Mendengar jawaban bayi tersebut, penduduk kaum Bani Israil itu pun malu karena telah menuduh yang tidak-tidak, bahkan mereka telah menghancurkan tempat ibadah Juraij. “Kami akan membangunkan kembali tempat ibadahmudari emaswahai Juraij.” Kata mereka menyesal.

“Tidak perlu, cukup kalian bangunkan dari tanah saja.” Jawab Juraij dengan bijaksana, karena ia sadar apa yang menimpa dirinya memang murni dari kesalahannya yang mengabaikan panggilan ibunya ketika melaksanakan shalat sunnah. Padahal meneruskan melaksanakan shalat yang tidak wajib adalah sunnah, sedangkan menjawab dan berbakti kepada ibu adalah wajib.

Ketiga, Seorang Bayi Dari Kaum Israil

Bayi yang dapat berbicara ketika masih dalam gendongan ibunya juga terjadi lagi di antara kaum Bani Israil. Suatu hari ada seorang ibu menyusui anak laki-lakinya, tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki gagah, tampan dan berpenampilan bagus lewat dengan menunggangi kudanya. Sang ibu yang takjub dengan laki-laki tersebut pun berdoa. “Ya Allah, jadikanlah anak laki-lakiku ini sepertinya.”

Dengan izin Allah Swt. sang anak yang masih disusui ibunya melepaskan susuannya dan menoleh ke arah penunggang kuda yang tampan dan gagah itu seraya mengatakan “Ya Allah, jangan Engkau jadikan aku sepertinya.” Setelah mengatakan itu, sang bayi kembali menyusu ibunya.

Tak berselang lama, ada seorang hamba sahaya, budak perempuan lewat di depan ibu yang masih menyusui anaknya. Melihat budak yang lusuh dan berpenampilan kurang menarik itu sang ibupun melontarkan doanya kembali. “Ya Allah, jangan Engkau jadikan anak laki-lakiku seperti budak perempuan ini.”

Baca Juga :  Kenapa Nabi Isa Mendapat Gelar al-Masih?

Mendengar doa ibunya, bayi laki-laki itu langsung melepaskan susuannya dan berdoa “Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.” Mendengar doa anaknya selalu bertolak belakang dengannya sang ibu kaget dan menanyakan alasannya. “Kenapa kau doa demikian wahai anakku.”?

“Laki-laki penunggang kuda yang tampan dan gagah tadi adalah sosok figur yang sombong, sedangkan budak perempuan ini telah difitnah oleh kaum Bani Israil bahwa ia telah mencuri dan berzina, padahal ia tidak pernah melakukan perbuatan keji tersebut. Kisah bayi ajaib yang ketiga ini mengajarkan kita bahwa jangan pernah melihat seseorang dari luarnya saja, tetapi lihatlah akhlak dan budi pekertinya. Karena itulah yang dinilai oleh Allah azza wa jalla.” Kata bayi itu.

Demikianlah kisah tiga bayi ajaib yang diizinkan oleh Allah Swt. dengan kuasa Nya mereka dapat berbicara saat dalam gendongan ibunya. Menurut riwayat lain mengatakan bahwa sebenarnya ada 7 bayi bahkan riwayat lain ada yang menyebutkan 11 bayi yang dapat berbicara. Insya Allah akan kita bahas di lain kesempatan.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here