Kimia Alizadeh: Atlet Taekwondo Perempuan dari Iran yang Mendunia

0
9

BincangMuslimah.Com – Stigma bahwa perempuan tidak bisa berkarir di dunia olahraga telah dipatahkan oleh Kimia Alizadeh, seorang atlet taekwondo pemberontak dari Iran. Ia berhasil membuktikan bahwa perempuan, terutama Muslimah, bisa menerjang stigma di masyarakat dan membuktikan denga karya dan prestasi.

Wikipedia mencatat bahwa perempuan bernama lengkap Kimia Alizadeh Zonouzi atau dalam bahasa Persia ditulis sebagai کیمیا علیزاده زنوزی, adalah seorang atlet Taekwondo Iran yang lahir pada 10 Juli 1998.

Kimia lahir di Karaj. Keluarganya adalah orang-orang Iran Azerbaijan. Sang ayah berasal dari Zonuz, daerah dekat Tabriz dan ibunya dari Ardabil. Setelah Olimpiade 2016, nama belakangnya tercatat secara salah sebagai Zenoorin.

Usianya masih terbilang muda, dan ia telah berhasil memenangkan medali perunggu di kelas berat 57 kg taekwondo di Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro dengan mengalahkan atlet Swedia Nikita Glasnović.

Ia adalah perempuan Iran pertama yang memenangkan medali di Olimpiade Musim Panas dan medali emas di kelas 63 kg putri di Olimpiade Pemuda Nanjing 2014. Ia mengalahkan London 2012 dan peraih medali emas Rio de Janeiro 2016 Jade Jones di Kejuaraan Dunia 2015 untuk memenangkan medali perunggu. Tak sampai di situ, ia juga memenangkan medali perak dua tahun kemudian di Kejuaraan Taekwondo Dunia 2017.

Pada Januari 2020, Kimia mengumumkan bahwa dirinya akan meninggalkan Iran secara permanen untuk tinggal di Eropa. Dia menyatakan, “Saya adalah salah satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran dan telah bermain dengan “mereka” selama bertahun-tahun.”

Menurutnya, ia tidak berniat untuk bersaing untuk Iran di Olimpiade Musim Panas 2020 dan menyatakan keinginan untuk bersaing untuk tempat kediamannya saat ini, Jerman.

Baca Juga :  Ketika Kaum Nasrani Salat di Masjid Nabi

Pada usia 18 tahun, Kimia berhasil memenangkan medali perunggu di kelas berat 57 kg taekwondo di Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro dengan mengalahkan atlet Swedia Nikita Glasnović.

Selain itu, ia berhasil memenangkan medali perak dua tahun kemudian di Kejuaraan Taekwondo Dunia 2017 dan terdaftar dalam 100 Perempuan Inspiratif dan Berpengaruh dari seluruh dunia untuk tahun 2019 oleh BBC.

Pada 10 Januari 2020, Kimia mengumumkan bahwa ia membelot dan meninggalkan negara kelahirannya dan meninggalkan kritik pedas terhadap rezim Iran. Ia menyatakan bahwa ia tidak bermaksud bersaing untuk Iran di Olimpiade Musim Panas 2020 dan sedang mempertimbangkan untuk bersaing dengan Jerman.

Kimia menulis dalam postingan Instagramnya. Ia menjelaskan bahwa dirinya membelot lantaran ada kendala menjadi perempuan di Iran. Ia menyebut dirinya sebagai “salah satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran yang telah [dalam artian bermain dengan penguasa Iran] selama bertahun-tahun.”

“Mereka membawa saya ke mana pun mereka mau. Saya memakai apa pun yang mereka katakan. Setiap kalimat yang mereka perintahkan untuk saya katakan, saya ulangi. Setiap kali mereka merasa cocok, mereka mengeksploitasi saya,” tulisnya, menambahkan bahwa kredit selalu diberikan kepada mereka yang bertanggungjawab.

Dilansir BBC News, ia menuliskan, “tidak ingin duduk di meja kemunafikan, kebohongan, ketidakadilan dan pujian” tidak lagi, atau tetap terlibat dengan “korupsi dan kebohongan rezim”. Abdolkarim Hosseinzadeh, anggota parlemen Iran, menuduh “pejabat yang tidak kompeten” mengizinkan “modal manusia” Iran yakni Kimia Alizadeh melarikan diri.

Pada bulan-bulan sebelum perpindahannya, beberapa tokoh olahraga Iran telah memutuskan untuk berhenti mewakili atau secara fisik meninggalkan Iran. Pada September 2019, Saeid Mollaei, yang berlatih judo dan juara dunia, meninggalkan Iran ke Jerman setelah pejabat Iran diduga menekannya untuk mengadakan pertandingan agar tidak bersaing dengan Israel.

Baca Juga :  Syair Keitimewaan Perangai Nabi Muhammad Gubahan Ulama

Selain itu, Alireza Firouzja, seorang juara catur peringkat teratas Iran memutuskan untuk berhenti bermain untuk Iran pada bulan Desember 2019 sebab larangan informal Iran untuk bersaing dengan pemain Israel. Tercatat pula bahwa Alireza Faghani, wasit sepak bola internasional Iran, meninggalkan Iran ke Australia pada 2019.

Tak salah apabila ia disebut sebagai atlet taekwondo pemberontak dari Iran mengingat perjalanan hidupnya yang penuh pemberontakan. Kimia adalah perempuan muda yang berani melawan kezaliman yang menimpanya dengan prestasi dan karya.[] (Baca: Marwa Al-Sabouni: Arsitek Perempuan dari Suriah yang Luar Biasa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here