Ketika Kiai-kiai NU Berdiskusi dengan Ulama Wahabi

0
921

BincangSyariah.Com – Cerita ini diambil dari buku karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA rahimahumullah berjudul “Titik Temu Wahabi-NU”. Kiai Ali Mustafa, menurut saya, menjadi ulama dari kalangan kiai NU yang paling berhak untuk menulis buku tersebut. Pasalnya, beliau menimba ilmu dengan waktu cukup lama (thulazzaman) di kedua induk pendidikan baik Wahabi atau NU. Beliau termasuk satu dari kiai-kiai NU yang berdiskusi dengan ulama Wahabi.

Pada tahun 1969-1971, beliau mengenyam pendidikan pesantren di Tebuireng Jombang -Pesantren yg didirikan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari rahimahullah salah satu kiai NU terkemuka di Indonesia. Kemudian beliau melanjutkan kuliah di Universitas Hasyim Asy’ari 1972-1975 sebelum bertolak ke Saudi Arabia pada tahun 1976. Beliau mengambil konsentrasi syari’ah di Universitas Islam Muhammad bin Saud dan meraih gelar sarjana pada tahun 1980. Pendidikan magister beliau selesaikan di Fakultas Pascasarjana Universitas King Saud, Spealisasi Tafsir Hadis pada tahun 1980 sampai 1985.

Di negeri minyak, beliau ber-mulazamah dengan ulama senior rujukan kaum Wahabi, Syaikh Muhammad Abd al Aziz bin Abdullah bin Bazz rahimahullah. Buku “Titik-Temu Wahabi-NU” bak air minum di gurun sahara. Ditengah-tengah pertengkaran di internal Islam, buku ini hadir sebagai pemersatu barisan. Buku “Titik Temu Wahabi-NU” tentu tidak ingin mengatakan bahwa Wahabi dan NU itu sama persis, namun ingin menunjukan bahwa ada titik-titik temu antar keduanya.

Apalagi menurut Kiai Ali Mustafa, perbedaan antara Wahabi dan NU hanya masalah-masalah khilafiyah serta sudah menjadi perdebatan sebelum munculnya Wahabi dan NU. Jadi, menurut beliau, penisbatan perbedaan kepada Wahabi dan NU juga tidak tepat. Adapun manhaj takfiri yg biasa disematkan kepada Wahabi tidak bisa digenalisir.

Baca Juga :  Wali yang Berada di Dua Tempat dalam Satu Waktu

Memang banyak kita temui beberapa tokoh Wahabi menggunakan manhaj takfiri, namun itu hanya karena kurangnya pemahaman orang tersebut dalam menghadapi perbedaan dan hal itu tidak diajarkan oleh ulama-ulama rujukan seperti Ibn Taimiyyah, Muhammad bin Salih al-Utsaimin, atau pun Abdl Aziz bin Bazz rahimahumullah.

Cerita menarik dialog anatara delegasi NU dan ulama Wahabi terdapat pada halaman 30. Begini ceritanya: Mufti Besar Kerajaan Saudi Arabia, Syeikh bin Bazz rahimahullah pernah menerima delegasi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) di kantor nya di Riyadh. Pertemuan ini terjadi pada 14 Februari 1987 M.

Delegasi NU terdiri dari lima orang, yaitu Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfuzh rahimullah, Dr. KH. Abdurrahman Wahid rahimahullah, Dr. KH. Mustafa Bisri, Dr. H. Fahmi Ja’far Saifuddin rahimahullah, dan H. Abdullah Syarwani, SH. Dalam pertemuan tersebut, terjadi dialog di antara kedua belah pihak seputar umat Islam di Indonesia dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Di antara pertanyaan yang diajukan oleh Syaikh bin Baz kepada delegasi NU adalah:

1. Apakah benar bahwa warga NU itu para penyembah kuburan?

Delegasi NU menjawab,”Itu tidak benar, karena warga NU itu hanya menziarahi kubur tanpa menyembahnya.”

2. Apakah betul bahwa warga NU itu ahli bid’ah?

Delegasi NU menjawab: “Itu tidak benar, karena warga NU itu hanya melakukan doa qunut dalam salat Subuh.”

3. Berapa jumlah warga NU?

Delegasi NU menjawab, “Lebih dari 40 juta muslim.” Mufti Besar pun kagum seraya berkata, “Ini sebanding dengan jumlah penduduk Negara-negara Arab.”

Poin yang ingin disampaikan Kiai Ali dari percakapan diatas adalah bahwa sering kali terjadi pertentangan di antara umat disebabkan karena “mengambil informasi dari sumber yang tidak terpercaya” sehingga menghasilkan “analogi dan vonis yang salah”.

Baca Juga :  K.H. Ali Mustafa Yaqub: Jihad Bukan Terorisme dan Terorisme Bukan Jihad

Faktor-faktor ini hendaknya kita hindari dalam beragama terlebih ditengah-tengah kehidupan masyarakat majemuk di Indonesia. Apalagi, kita akan memasuki tahun politik pada tahun 2019. Segala macam informasi berbau agama, sara, dan golongan harus benar-benar diambil dari sumber langsung yang tsiqah sehingga menghasilkan kesimpulan yg benar.

Kiai Ali Mustafa berupaya mempersatukan umat Islam. Hal ini tidak mungkin terwujud kecuali dengan kembali pada perintah Allah dan Rasul-Nya, lalu berpegang pada titik-titik persamaan di antara mereka dan meninggalkan titik-titik perbedaan yang diamalkan oleh pribadi dan kelompok tanpa ada keharusan.
Allahu Musta’an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.