BincangSyariah.Com – Kiai Muhammad Ali Yafie (Kiai Ali) adalah sosok yang unik. Sebagai seorang santri yang dididik di pesantren tradisional, ia tidak mau kalah dengan para pelajar di sekolah umum. Keuletan dan kerajinannya dalam belajar, menjadikan ia seorang kiai yang mampu bersaing di ranah intelektual dalam memberikan solusi dari berbagai permasalahan sosial yang terjadi. Gagasan Fikih Sosial adalah salah satu gagasan yang diperjuangkannya sebagai solusi untuk mewujudkan masyakarakat yang sejahtera dunia dan akhirat. Gagasan ini banyak diapresiasi oleh para ilmuwan.

Dalam sejarahnya, gagasan fikih sosial yang diusung oleh K.H. Ali Yafie ini muncul seketika proyek Bahtsul Masail yang sering diadakan Nahdhatul Ulama tidak lagi sanggup untuk mengatasi berbagai permasalahan baru yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat sekarang. Keistikamahan pola berfikir kiai-kiai NU secara qauli merupakan salah satu sasaran objek yang dikritik oleh K.H. Ali Yafie.

Menurut beliau, di zaman yang banyak sekali muncul permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks ini, pola berfikir secara Manhaji adalah pola berfikir yang mesti diterapkan, supaya dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang mensejahterakan kehidupan sosial masyarakat.

K.H. Ali Yafie atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Kiai Ali lahir pada tanggal 1 September 1924 di Wani Donggala, Sulawesi Tengah. Ia terlahir dari keluarga yang sangat agamis dan terdidik. Ayah dan kakeknya adalah dua tokoh ulama besar di Sulawesi. Kakeknya bernama Syeikh Abdul Hafidz Bugis.

Beliau merupakan salah satu ulama Indonesia yang pernah mengajar di Masjid al-Haram, selain Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sedangkan ayahnya sendiri adalah seorang Kiai yang pernah mengasuh ratusan santri dan pendiri pondok pesantren yang terkenal di Sulawesi, Pondok Pesantren Nashrul Haq di daerah Amparita, Sulawesi.

Baca Juga :  Pentingnya Kesalehan Sosial

Sejak kecil, K.H. Ali sudah mendapat pendidikan agama yang cukup ketat. Dengan kecerdasannya, pada usia 12 tahun, K.H. Ali telah mampu membaca kitab kuning. Sungguh suatu kemampuan yang jarang dimiliki oleh anak-anak seusianya. Melihat kemampuan K.H. Ali tersebut, ayahnya mengirimnya untuk belajar dengan beberapa ulama yang berada di daerah Sulawesi Selatan dan sekitarnya, seperti Ujung Pandang, Bone, dan lain-lain.

Di antara ulama  yang pernah mendidik K.H. Ali kecil adalah Syekh Ali Mathar (Rappang), Syekh Haji Ibrahim ( Sidrap), Syekh Mahmud Abdul Jawad (Bone), Syekh As’ad (Sengkeng), Syekh Ahmad Bone (Ujung pandang), dan Syeikh Abdurrahman Firdaus, seorang ulama pengembara dari Mekah. Dan dengan Syekh Abdurrahman Firdaus ini, K.H. Ali belajar Fiqih, Tafsir, sastra Arab, dan pemikiran-pemikiran beberapa tokoh pembaharu dari Arab, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.

Perhatian K.H. Ali kecil terhadap pentingnya ilmu pengetahuan memang luar biasa. Selain mempelajari ilmu-ilmu agama yang terdapat dalam kitab kuning klasik, Ia juga mempelajari ilmu-ilmu umum lainnya, seperti sains, jurnalistik, dan beberapa bahasa asing. Makanya, tidak salah jika pemikiran atau gagasan-gagasan yang dikeluarkan KH. Ali tidak kalah dengan para sarjanawan yang sekolah di negeri Barat sana.

Dalam perjalan karirnya, K.H. Ali Wafie mempunyai beragam pekerjaan dan jabatan. Tercatat, ia pernah aktif sebagai guru/dosen dari tingkat Madrasah hingga tingkat perguruan tinggi, bahkan  pernah menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN (sekarang UIN) Alauddin Makassar (1965-1971). Selain itu, ada beberapa jabatan penting yang pernah ia duduki.

Di antaranya adalah Hakim pengadilan Tinggi Agama Makassar, Kepala Inspektorat Peradilan Agama Wilayah Indonesia Bagian Timur, anggota staf harian sekaligus anggota dewan pleno Badan Pembina Potensi Karya Kodam XIV Hasanuddin, wakil ketua Dewan  Penasehat ICMI Pusat, anggota Dewan Pengawas Syaria’ah Bank Mu’amalat, wakil ketua Dewan Pembina Badan Arbitrase Muamalat, Guru Besar UIN Syarif Hidayathullah, Jakarta, Guru Besar Universitas as-Syafi’iayyah, Rais ‘Am Nahdhatul Ulama (1991-1992), Ketua MUI (1990-2000) dan lain-lain.

Baca Juga :  Anas Bin Malik: Sahabat yang Mendedikasikan Hidupnya untuk Melayani Rasulullah saw

K.H. Ali Wafie juga terbilang aktif dalam dunia politik hingga mengantarkannya menduduki posisi sebagai Rais Majelis Syura Partai Persatuan Pembangunan, dan menjadi anggota DPR/MPR RI. Walaupun tidak terbilang lama, namun pengalaman-pengalaman ini memberikan sebuah pandangan baru yang berharga bagi KH. Ali Wafie.

Sebagai seorang intelektual, K.H. Ali Wafie sangat produktif dalam menulis. Banyak makalah, catatan, dan buku yang pernah ia tulis dan kemudian diterbitkan oleh beberapa penerbit ternama. Beberapa buku beliau yang dipublikasikan adalah  Fikih Perdagangan Bebas,(Bandung: Mizan, 2000), Beragama secara Praktis: agar hidup lebih bermakna (Yayasan Amanah : 2006), Menggagas Fikih Sosial (Bandung: Mizan, 2000), Merintis Fikih Lingkungan Hidup (Yayasan Amanah:2006), Teologi Sosial: telaah kritis Persoalan keagamaan dan kemanusiaan (LPKSM: 1997), Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional: Fiqh (Paramadina : 1987), Menolak Korupsi membangun keshalehan sosial: kumpulan naskah-teks khutbah (P3M : 2004), Agama dan kemiskinan: suatu tinjauan dari segi agama Islam (Proyek Penelitian Keagamaan, Departemen Agama, 1981).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here