Khutbah Jumat 2021; Paham Hakimiyah, Akar Terorisme di Indonesia

4
16

BincangSyariah.Com – Berikut ini adalah teks Khutbah Jumat 2021: Paham Hakimiyah, Akar Terorisme di Indonesia.

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: ﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ﴾. ويقولُ: ﴿يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Hadirin pendengar khutbah Jumat 2021 yang berbahagia

Ungkapan rasa syukur selalu kita ucapkan pada Allah yang telah memberikan kepada kita kesehatan dan kesempatan, sehingga kita bisa berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat Jumat. Syukur adalah rasa terima kasih seorang Hamba kepada Tuhannya. Dan lebih dari itu, syukur hakikatnya adalah kesadaran diri.

Salawat kita haturkan keharibaaan nabi yang sangat mulia. Seorang manusia yang memiliki sumbangsih besar pada dunia. Manusia pertama yang memperkenalkan Hak Asasi. Seorang Rasul yang baik akhlak dan perilakunya. Seorang manusia sejati, yang mengajarkan kepada manusia untuk memuliakan manusia. Dialah Baginda Nabi, Muhammad SAW. Akhlak tauladan Rasul tampaknya, sangat penting untuk direnungi manusia modern saat ini.

Dengan lafadz:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Sebagai khatib, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kami secara pribadi untuk mengajak kita semua, mari sama-sama kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Hanya dengan Iman dan takwa hidup akan bahagia dunia dan akhirat kelak.

Hadirin Sedang pendengar Khutbah Jumat 2021 yang berbahagia

Innalilahi wa Inna Ilaihi Rajiun

Sejenak mari kita tundukkan kepala, mengheningkan cipta atas terjadinya aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar, pada Minggu (28/3) lalu. Lalu disusul oleh serangan seorang perempuan di Markas Besar Polisi Republik Indonesia pada 30 April lalu. Ini adalah perbuatan biadab dan tak bermoral. Sebagai seorang manusia, perbuatan itu adalah perbuatan yang tak mencermin nilai kemanusiaan.

Sidang Pendengar Khutbah Jumat 2021 yang berbahagia

Dalam rentetan kasus teror di atas, ada satu yang menarik. Para pelaku meninggal sepucuk surat wasiat untuk keluarga. Dalam dua surat wasiat tersebut, mengindikasikan siapa sebenarnya para pelaku. Dan paham keagamaan yang mereka anut, sehingga tega melakukan hal biadab itu.

Zakiah  Aini terduga teroris Mabes Polri menulis; “Pesan berikutnya agar Mama berhenti bekerja menjadi Dawis yang membantu kepentingan pemerintah thogut. Inti pesan Zakiah kepada mama dan keluarga adalah agar tidak mengikuti kegiatan pemilu. Karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Alquran-Assunah. Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik,”

Pendengar Khutbah Jumat 2021 yang dimuliakan Allah

Dari sepucuk surat itu, tampak ZA merupakan orang yang menganut paham Hakimiyah, paham ini juga dikenal dengan istilah Devine Law (hukum tertinggi). Dalam hal ini, syariat Islam berposisi sebagai divine law (hukum tertinggi) yang berasal dari Tuhan. Mengandung pelbagai aturan normatif sebagai pedoman hidup  Islami bagi  seluruh kaum Muslim.

Tidak ada penguasa dan pembuat hukum kecuali Allah, karena itu Tuhan adalah pengatur terakhir dari kehidupan di muka bumi. Dalam pandangan ini, perlunya mengabaikan dimensional kompleksitas manusia, lalu membagi dalam dua kategori saja. Yakni Islam atau bukan Islam (jahili), pengikut Allah (ẖidzbullah) atau pengikut setan (ẖidzb al-syaithan). 

Lebih lanjut, Sayyid Quthb dalam buku berjudul Milestone, mengatakan bahwa syariat Islam itu merupakan hukum universal (univeral law) yang dianugerahkan Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia. Hukum Tuhan ini berperan penting dalam mewujudkan keharmonisan dan integrasi antar manusia dalam bentuk personal, internal, maupun eksteranal hubungan manusia tersebut.

Bagi Quthb, syariat Islam itu hanyalah milik Allah, yang bersumber dari kalimat tauhid lāilāha illa Allāh. Dengan tema sentral ini, Quthb meyakini syariat Islam merupakan hukum Tuhan yang diturunkan kepada umat manusia untuk mengatur pelbagai urusan mereka secara totalitas.

Sebagaimana dalam karyanya Mā’alim fi Thariq, penerapan syariat Islam secara paripurna harus termanifestasi dalam anggota-anggota masyarakat kaum muslim di seantero dunia,  dan juga dalam  peraturan serta undang-undang  negara mereka.  Bila itu semua telah dilaksanakan, maka masyarakat (perkumpulan)  itu  menjadi perkumpulan Islam (hizbullah), dan masyarakat yang mereka bentuk itu baru sah menjadi masyarakat Islam (Muslim).

Ada kajian menarik  dari uraian Mousssali tentang  konsep hukum Islam yang di bangun Quthb, bahwa seluruh  masyarakat yang bernaung di bawah hukum manusia,  maka wilayahnya termasuk daerah perang (dảr harb), objek legal dalam memantik revolusi Islam.

Konsep Hakimiyah ini, pada ujungnya akan melahirkan paham takfirisme/takfiriyyah (mengkafirkan) sesama muslim.  Paham yang mudah mengkafirkan umat Islam, meskipun ia shalat, naik haji, mengucapkan syahadat, puasa. Penyebabnya Muslim itu dikafirkan sederhana, mereka memandang kaum muslim itu tak mau masuk dalam golongan mereka.

Menurut Haidar Bagir, dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia, takfirisme kontemporer menjelma menjadi ekstrimisme keagamaan. Paham ini banyak menjadi dasar lahirnya gerakan terorisme. Paham ini menganggap pemerintah yang sah thagut—tak berhukum dengan hukum Allah—, dan juga kafir, karena melaksanakn hukum selain Al-Qur’an.

Hadirin pendengar Khutbah Jumat yang berbahagia.

Islam Agama Cinta Kasih

Islam bukanlah demikian. Pun Islam tak mengajarkan kekerasan. Terlebih pada manusia. Islam itu cinta dan kasih.

Allah berfirman dalam Q.S al-Maidah ayat 32;

مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِى الۡاَرۡضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيۡعًا ؕ وَمَنۡ اَحۡيَاهَا فَكَاَنَّمَاۤ اَحۡيَا النَّاسَ جَمِيۡعًا ‌ؕ

Artinya: barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.

Dalam ayat di atas, tampak Islam dan kemanusiaan selaras. Nyawa manusia begitu berharga dalam Islam. Cinta dan kasih tujuan agam ini berdiri. Pun syariat Islam itu sendiri, harus berdasarkan pada pertimbangan kemanusiaan.

Ulama kontemporer, Yusuf al Qardhawi mengatakan dasar dan asas syariah adalah kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Pebagai syariat Islam itu sejatinya mengandung keadilan, rahmat, kemaslahatan, dan hikmah.

Untuk itu, kata al-Qardhawi ia menolak keras kelompok yang menggunakan pendekatan literal (al harfiyun). Golongan yang tak melihat substansi syariat, tak juga memperhatikan tujuan syariat, dan tak mengindahkankan makna syariat Islam. Golongan ini hanya melihat dan menafsirkan Al-qur’an secara literlek.

Dengan demikian, tindakan terorisme dan ekstrimisme merupakan penyakit akut di Indonesia. Harus ada upaya ekstra untuk membasmi. Upaya derekalisasi telah dilakukan. Namun, hingga kini jaringan terorisme itu masih ada. Dan kian massif.

Kita sebagai masyarakat harus terbuka cara pandangnya terhadap Islam. Dan harus terus belajar Al-Qur’an dan hadis. Agar tak salah paham tentang pelbagai hukum dan syariat Islam. Sebagai penutup saya mengingatkan kita “Fondasi Islam dan Syariat Islam adalah kemanusian”

Demikian khutbah Jumat kali ini semoga bermanfaat.

Khutbah II

إنَّ الحَمدَ لله نحمدُهُ ونستعينهُ ونستهديهِ ونشكرُهُ ونعوذُ بالله من شرورِ أنفسِنَا ومن سيئاتِ أعمالنا، مَن يهدِ الله فلا مُضِلَّ لهُ ومن يُضلِل فلا هاديَ له، وأشهدُ أنْ لا إلـهَ إلا الله وحدَهُ لا شريكَ لهُ وأنَّ محمّدًا عبدُهُ ورسولُهُ صَلَواتُ الله وسلامُهُ عليهِ وعلى كلّ رسولٍ أَرْسَلَهُ. أمّا بعدُ عبادَ الله فإنّي أوصيكُمْ ونفسي بِتَقوَى الله العليّ القديرِ واعلَموا أنَّ الله أمرَكُمْ بأمْرٍ عظيمٍ، أمرَكُمْ بالصلاةِ والسلامِ على نبيِهِ الكريمِ فقالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾ اللّهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم، وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ، إنّكَ حميدٌ مجيدٌ

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

 

Demikian penjelasan khutbah Jumat 2021 tentang Paham Hakimiyah, Akar terorisme di Indonesia.

(Baca:Khutbah Jumat 2021: Keutamaan Bulan Syakban)

 

 

100%

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here