Khurafat dan Takhayul di Era Milenial

0
10

BincangSyariah.Com – Zaman dulu banyak orang yang terjebak khurafat dan takhayul, seperti percaya pada dukun, jimat, jampi-jampi, rajah dan selevelnya. Termasuk juga percaya kepada jin, tuyul, demit, genderuwo dan seangkatannya.

Atau percaya pada nasib sial yang akan menimpa kalau begitu begini. Contohnya kepercayaan para sopir yang amat ketakutan kalau sampai nabrak kucing, tapi santai saja kalau nabrak orang.

Tapi sekarang, masih adakah khurafat dan takhayul di era milenial? Ada sih tapi mungkin sudah banyak berkurang, khususnya model yang dulu-dulu itu, sudah tidak terlalu ngetrend lagi.

Saya mengamati, boleh setuju boleh tidak setuju, sebenarnya khurafat dan takhayul bukan berkurang tetapi bergeser. Masih tetap ada, tetapi materinya yang berubah. Bergeser bagaimana maksudnya?

Misalnya di era milenial ini ternyata banyak jadi korban informasi yang bias sebias-biasnya gara-gara mabok medsos. Yang tadinya berpikir rational dan logis, tetapi karena setiap hari dihujani dengan begitu banyak informasi keliru namun diulang-ulang terus, lama-lama ikut juga.

Kita yang pada awalnya tidak percaya karena informasi itu sangat mengada-ada, lama-lama banyak juga yang pada luntur sehingga bukan hanya sekedar percaya, tapi malah jadi pembela utama dan ikut memviralkan.

Mirip influenza yang mudah sekali menyebar kemana-mana. Bahkan kita juga menamakan mereka sebagai influenzer.

Seorang teman pernah jadi korbannya. Kasusnya di bidang medis. Dia menderita penyakit tertentu yang butuh tindakan medis dengan cara dioperasi. Tapi alih-alih ke dokter betulan, dia malah termakan informasi sesat di media sosial. Dia malah datang ke pengobatan yang tidak jelas, tapi ngaku-ngaku sebagai pelopor revolusi teknologi kedokteran yang terbesar. Padahal tidak jelas asal usulnya.

Dia baca testimoni banyak orang, dia ikut forum diskusinya dan akhirnya dia putuskan berobat kesana, meski harganya cukup mahal juga. Dan, begitulah karena tergiur dengan janji gombal, dia jadi korban penipuan. Dijanjikan penanganannya sudah modern sehingga tidak perlu tindakan dioperasi, cukup hanya dikerjakan 5 menit dan langsung sehat lagi. Aih manis sekali janjinya.

Sembuh?

Ya, jelas tidak. Ujung-ujungnya malah pendarahan parah. Untungnya segera ketahuan, tapi sekeluarga dibikin repot karena ia harus digotong ke rumah sakit dan dioperasi ulang. Waktu saya menjenguk, teman ini mengaku bersalah dan telah berbuat khilaf, gara-gara termakan khurafat dan tahayul di medsos. Saya bilang, ini jadi pelajaran dan jangan sampai terulang lag.

Cukup?

Ternyata belum juga. Entah bagaimana teman satu ini kecebur lagi untuk kedua kalinya. Tiba-tiba saja tidak ada mendung tidak ada hujan, dia jadi penganut ajaran bumi datar. Waduh, parah banget kalau yang ini, meski tidak membahayakan tubuh dan kesehatan.

Padahal saya tahu dulunya dia sangat tidak percaya dengan khurafat dan takhayul macam itu, bahkan dia dengan fasih bisa menjawab semua argumen kelompok itu. Namun begitulah, orang sepintar itu pun akhirnya runtuh juga pertahanannya. Akhirnya dia malah jadi pendukung teori bumi datar.

Meski tidak masuk akal, ilmu pengetahuan dan logika, tapi namanya korban sihir media, jadilah dia penganut bumi datar. Untungnya tidak lama dan akhirnya dia sadar dan balik lagi lalu tobat. Saya bilang, “awas kalau ente jadi korban lagi. Saya tidak mau dengar kabar tiba-tiba ente sudah ada di Turki, Syam atau Iraq jadi ISIS. Minta pulang tapi tidak punya dokumen karena sudah bakar passport. Awas aja kalau berani!”

Semua jadi catatan penting, betapa di era milenial ini masih saja bertebaran khurafat dan takhayul yang diimani oleh berjuta masyarakat era milenial. Tapi dari semua wujud khurafat dan tahayul era milneal, yang paling menyakitkan itu kalau sudah masuk wilayah agama. Semua ajaran agama tiba-tiba bermunculan versi khurafat dan tahayulnya.

Tiba-tiba lahir kelompok yang mengaku-ngaku diri sebagai ahli agama, padahal tidak pernah belajar agama. Tiap hari berfatwa ini haram dan itu haram. Lucunya malah mencaci maki para ulama betulan. Benar-benar susah untuk tidak tertawa.

Tiba-tiba muncul ajaran kajian akhir zaman dengan segala teori dan ramalan-ramalan jenakanya. Kalau saya lagi iseng dengerin, wah serem-serem cerita. Horor sekali pokoknya, walaupun semua ketahuan hanya hasil cocokologi.

Tiba-tiba muncul pemahaman yang merasa lebih paham hadits dari pada para ahli hadits aslinya. Tiba-tiba muncul teori konspirasi lucu-lucu yang bikin saya sakit perut saking gelinya menahan tawa.

Masih ingat kan dulu ada surat berantai yang ngaku-ngaku pesan dari penjaga makam Nabi Muhammad SAW? Kita disuruh memfotokopi 10 halaman, kalau tidak nanti keluarga kita akan kenapa-napa.

Itu zaman belum ada medsos, tapi sudah parah akibatnya. Apalagi sekarang di zaman medsos, nyaris semua nilai-nilai kebenaran dan ilmu semua menjadi terjungkir-balik.

Saya bilang ini levelnya sudah bukan lagi khurafat dan tahayul, tapi sudah sampai ke level sihir yang dahsyat. Sihir yang bisa menyulap penglihatan mata orang jadi tidak fokus dan bikin banyak orang takut. Persis seperti yang dilakukan oleh para penyihir Firaun di masa lalu yang diabadikan dalam Al-Quran,

قَالَ أَلْقُوا ۖ فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: “Lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan). (QS. Al-Araf : 116)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here