Khubaib bin ‘Adi; Sahabat Nabi yang Wafat di Tiang Salib

0
150

BincangSyariah.Com—Ia adalah Khubaib bin ‘Adi bin Malik bin Amir al-Ausi al-Anshari. Sebagaimana disebutkan dalam al-Ishabah fii Tamyiiz as-Shahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 857 H), Khubaib bin ‘Adi merupakan sahabat Nabi Saw. dari kalangan Anshar yang cukup terkenal namanya sebagai seorang penyair, berhati bersih, berjiwa terbuka, keteguhan iman yang kuat, dan kesatria tempur yang tangguh. Allah Yarham.

Al-kisah, sewaktu Perang Badar pecah dan dimenangkan oleh kalangan muslim, Khubaib bin ‘Adi tampil sebagai seorang kesatria yang tidak takut mati. Khubaib bin ‘Adi membabat habis siapa saja yang ada di depannya dengan pedang di tangannya. Tidak terkecuali bagi al-Harits bin ‘Amir bin Naufal, salah satu pimpinan kalangan Quraisy.

Tak elak, kekalahan yang diterima kalangan Quraisy membuat sanak saudara di Mekkah marah besar. Beberapa nama kalangan muslim dihafalkannya dengan baik. Dengan segenap pasukan yang tersisa, kalangan Quraisy kemudian menyusun sebuah rencana untuk membalaskan dendam.

Namun hal ini dengan cepat diketahui oleh Nabi Saw. Oleh karena itu, Nabi Saw. kemudian berinisiatif untuk membentuk semacam pasukan khusus untuk mengetahui seberapa kuat pasukan Quraisy jika nanti akan terjadi peperangan lagi.

Dipilihlah Khubaib bin ‘Adi dan sembilan orang sahabat lainnya di bawah kendali ‘Ashim bin Tsabit untuk berangkat ke Mekkah. Tidak lupa perlengkapan perang dibawa oleh Khubaib bin ‘Adi beserta sahabatnya.

Namun takdir berkata lain. Sesampainya di daerah antara Ofsan dan Mekkah, pasukan khusus yang sejenak beristirahat dengan memakan beberapa biji kurma, diketahui oleh masyarakat dari kampung Hudzail yang didiami oleh Bani Haiyan dari kalangan Quraisy.

Sesaat setelah mengetahui hal tersebut, sebanyak 100 ahli panah diberangkatkan untuk mengikuti kemana arah selanjutnya Khubaib bin ‘Adi dan para sahabatnya. Meskipun sempat kehilangan jejak, segenap pasukan dari Bani Haiyan berhasil kembali menemukan pasukan Khubaib bin ‘Adi berkat sisa kurma yang tergeletak di sepanjang jalan.

Baca Juga :  Yasir bin Amir: Sahabat Renta Yang Disiksa Hingga Wafat

“Ini adalah biji-biji kurma khas Yastrib, Madinah. Mari kita ikuti saja kemana biji kurma ini berakhir,” kata salah satu dari pasukan Bani Haiyan.

Setelah beberapa saat kemudian, ‘Ashim bin Tsabit mulai merasa ada sebuah keanehan. Ia merasa sedang diikuti. ‘Ashim bin Tsabit pun memerintahkan segenap pasukannya untuk menaiki sebuah bukit yang tinggi.

Dan benar saja. Sesampainya di atas bukit, pasukan Bani Haiyan terlihat sudah mengepung ‘Ashim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi dan para sahabatnya. Melihat pasukan Bani Haiyan yang cukup banyak, ‘Ashim bin Tsabit beserta sahabatnya hanya terdiam.

“Turunlah! Jika kalian menyerahkan diri kami akan menjamin keselamatan kalian”, teriak salah seorang dari Bani Haiyan.

Dengan sangat lantang ‘Ashim bin Tsabit menjawab, “Adapun aku, demi Allah aku tidak akan turun kemudian mengemis kepada kalian prihal keselamatanku! Ya Allah, sampaikanlah keadaan kami kepada Nabi Saw.”

Mendegar hal tersebut pasukan Bani Haiyan marah. Dengan aba-aba khas peperangan, anak panah pun berterbangan menghujam deras ke arah bukit tempat ‘Ashim bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi berserta sahabat berada.

Akibat dari itu, ‘Ashim bin Tsabit beserta tujuh sahabat lainnya meninggal dunia dengan anak beberapa anak panah yang menghujam di tubuhnya. Sementara itu, Khubaib bin ‘Adi dan dua sahabat yang selamat untuk yang kedua kalinya diminta untuk turun.

Dengan langkah yang sangat lantang, Khubaib bin ‘Adi dan dua orang sahabatnya menuruni bukit tersebut. Diikatlah Khubaib bin ‘Adi dan dua orang sahabatnya dengan tali yang sangat kuat. Mengetahui bahwa ini merupakan awal dari sebuah pengkhianatan, salah seorang dari mereka pun berusaha untuk melepaskan ikatannya.  Tak elak, sebuah anak panah pun menghujam ke tubuhnya yang menjadikan ia meninggal dunia.

Baca Juga :  Mana Lebih Tinggi, Shiddiqin atau Syuhada?

Sesaat setelah semua dibereskan, Khubaib bin ‘Adi dan sahabatnya yang selamat pun dibawa ke Mekkah. Keberhasilan Bani Haiyan menangkap Khubaib bin ‘Adi dan sahabatnya pun dengan cepat tersebar di seluruh Mekkah.

Tersebab kebencian yang sangat membara, Khubaib bin ‘Adi dan sahabatnya menjadi rebutan untuk dibeli menjadi budak dan kemudian di siksa oleh sanak saudara yang meninggal dunia saat Perang Badar.

Saat-saat yang ditunggu pun tiba. Setelah sahabat Khubaib bin ‘Adi meninggal dunia akibat ditusuk dari dubur tembus ke kepala, kini giliran Khubaib bin ‘Adi yang akan mendapatkan siksaan.

Dibawalah Khubaib bin ‘Adi menuju Tan’im. Namun demikian, sesaat sebelum sang algojo mengeksekusi, Khubaib bin’Adi meminta untuk melaksanakan dua rakaat shalat sunah. Melihat hal tersebut, beberapa kalangan yang turut serta menyaksikan bergumam bahwa Khubaib bin ‘Adi sedang tawar menawar untuk mengingkari Muhammad dan kemudian selamat.

“Kalaulah bukan karena dikira takut mati, demi Allah aku akan melanjutkan shalatku,” ujar Khubaib menghadap algojo.

“Ya Allah, susutkanlah bilangan mereka, musnahkan mereka sampai binasa,” doa Khubaib.

Setelah selesai melaksanakan shalat, sang algojo pun bersiap untuk mengeksekusi Khubaib bin ‘Adi. Diikatnya Khubaib bin ‘Adi di atas pelepah-pelepah tamar besar yang menyerupai salib. Beberapa anak panah dan sayatan pedang secara perlahan mulai menghiasi tubuh Khubaib bin ‘Adi.

Salah seorang kalangan Quraisy pun berkata, “Sukakah engkau jika posisimu digantikan oleh Muhammad? Dan engkau akan sehat bersama keluargamu?”.

“Demi Allah! Aku tidak sudi hidup bersama anak dan istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sedang Nabi SAW terkena musibah walau sepotong duri”, jawab Khubaib dengan sisa tenaga yang ada.

Kata-kata terakhir Khubaib bin ‘Adi menjadikan sebuah aba-aba bagi para algozo untuk melayangkan anak panah dengan deras kemudian menyayat tubuhnya dengan pedang hingga Khubaib bin ‘Adi meninggal dunia dalam keadaan tersalib.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengajar Sahabat Agar Tidak Jenuh

Burung dan beberapa binatang buas yang sedari tadi menunggu jasad Khubaib bin ‘Adi pun mengurungkan niatnya untuk menyantap jasad Khubaib bin ‘Adi setelah mencium harum khas orang shaleh yang dikirimkan Allah. Mereka berterbangan bergegas meninggalkannya memberikan isyarat kepada Nabi SAW.

Merasakan isyarat tersebut, Nabi SAW mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk mendatangi tempat dimana jasad Khubaib bin ‘Adi berada. Dengan penuh haru, mereka menurunkannya dan menguburnya di tanah lembab dan suci penuh berkah yang telah merindukan kedatangan Khubaib bin ‘Adi.

Melalui kisah tersebut, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa memiliki keteguhan iman dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya sehingga mendapatkan berkah atas-Nya.

Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here