Khaulah binti Azwar; Perempuan Berjuluk Pedang Allah

0
304

BincangSyariah.Com – Perempuan di masa Nabi tidak hanya bertanggung jawab atas urusan dapur saja. Akan tetapi mereka juga aktif mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an dan Hadis, mengajar cara baca tulis hingga bersyair. Dalam perang pun mereka ikut andil. Entah itu sebagai perawat, dokter, pemasok bekal, penyemangat bahkan ada pula yang langsung terjun di medan perang sambil mengendarai kuda dan memegang panah atau tombak. Salah satu di antaranya adalah Khaulah binti Azwar bin Aus al-Sa’adi.

Khaulah binti Azwar dicatat sejarah sebagai pahlawan wanita dengan kemampuan bertempur di atas rata-rata. Saking populernya, Al Waqidi seorang pakar sejarah perang Islam mengkhususkan satu bab dalam Futuh Syam untuk mengabadikan kisah perjuangannya. (Baca: Kritik Hadis Keutamaan Negeri Syam)

Dalam kitab tersebut dapat kita jumpai banyak kisah heroik tentang beliau. Namun ada satu cerita yang paling menarik yaitu saat beliau berjuang sendirian menghadapi batalion-batalion Romawi demi menyelamatkan saudaranya yang ditangkap dan ditawan musuh.

Peristiwa ini terjadi di perang Ajnadayn. Saat itu para pasukan muslim sibuk mengasah pedang dan berbincang mengenai strategi apa yang akan mereka terapkan. Tiba – tiba, sesosok misterius sambil mengendarai kuda melesat dihadapan mereka.

Pakaiannya serba hitam lengkap dengan penutup wajah. Tidak ada yang tampak dari anggota tubuhnya kecuali dua bola matanya. Dengan begitu lihai dia pacu kudanya. Di lengan kanannya tampak ada sebilah tombak. Sepertinya dia akan bertempur.

Melihat kejadian tersebut, mereka terheran – heran. Khalid bin Walid sang panglima tertinggi berujar : “Jika saja saya tau, siapa sebenarnya penunggang kuda ini. Demi Allah, pasti dia adalah anggota pasukan berkuda”. Lalu Khalid dan pasukannya mengikutinya dari belakang. Benar saja, sosok berkuda ini menuju markas pasukan Romawi.

Baca Juga :  Benarkah Para Wali Allah Maksum seperti Nabi?

Tanpa mengurangi kecepatan laju kudanya, dia merangsek ke jantung pertahanan musuh. Menyergap dan menerjang barisan tentara dengan sangat cepat. Tidak sampai satu putaran, ujung tombaknya telah dipenuhi darah. Sejumlah personil musuh tewas akibat serangan tersebut.

Selang beberapa saat kemudian, untuk kedua kalinya dia kembali menantang maut, memacu kudanya lagi maju menembus barisan musuh tanpa rasa ragu dan takut sedikitpun. Para prajurit muslim yang dari tadi memperhatikannya hanya bisa terdiam, kagum dengan apa yang mereka lihat.

Rafi’ bin Amirah dan orang – orang disekitarnya mengira dia adalah sang pedang Allah, Khalid bin Walid. Ia berkata :”Tak ada orang yang bertempur seperti ini, kecuali Khalid bin Walid”. Dugaan mereka salah, ternyata Khalid ada diantara mereka.

“Siapa penunggang kuda yang maju mendahuluimu ? Dia benar benar telah mengorbankan jiwa dan raganya”, ujar Rafi. Khalid menjawab,”Demi Allah aku pun tidak tau, aku takjub dengan kualitas yang dia tunjukan”.

“Wahai Amir dia membenamkan dirinya di antara tentara – tentara Romawi, menusuk dari kiri maupun kanan”, ucap Rafi’ tak berhenti memuji sosok hero berpakaian serba hitam itu.

Kemudian Khalid memberikan komando : “Wahai kaum muslimin bertempurlah kalian semua ! Bantulah si pelindung agama agama Allah”. Mereka kemudian membentuk barisan dan mulai bergerak.

Khalid melihat si penunggang kuda telah keluar dari jantung pasukan musuh. Dia menuju ke arah pasukannya. Prajurit muslim segera menyambutnya dan berucap : “Sungguh dia telah mempertaruhkan nyawanya di jalan Allah dan mempertontonkan keberaniannya dihadapan musuh. Bukalah penutup wajah itu !”

Si penunggang kuda tidak menjawab. Dia lagi – lagi beraksi menghalau bala tentara Romawi yang mulai mengepungnya dari segala arah. Di sela – sela pertempuran, pasukan muslim satu persatu datang menghampirinya, “Wahai pemuda mulia, Amir bertanya kepadamu, kamu malah menghindarinya. Beritahukanlah namamu agar bertambah rasa hormat kami terhadapmu”. Lagi – lagi dia tidak menjawab.

Baca Juga :  Sahabat Perempuan yang Meninggal pada Bulan Ramadan

Setelah berkali – kali ditanya, Khalid sendirilah yang kemudian menghampirinya, “Hai, engkau telah membuat hati kami bergetar dengan perbuatanmu. Siapa sebenarnya engkau ini ?

Lalu suara lembut seorang wanita terdengar : “Wahai Amir, sesungguhnya aku tidak menjawab pertanyaanmu karena malu. Engkau adalah pimpinan tertinggi sedangkan saya hanyalah seorang lemah dan wanita tertutup”. Lalu Khalid bertanya : “Siapa namamu ?”

“Aku Khaulah binti Azwar. Aku sebelumnya datang bersama pasukan muslimah. Lalu seorang kurir mengabarkan bahwa Dhirar saudaraku, telah ditawan musuh. Oleh sebab itu, aku menunggangi kuda dan berbuat seperti apa yang telah engkau lihat”.

Mendengar pengakuan tulus tersebut, Khalid berempati : “Kami akan bertempur bersama dengan yang lain. Kami berdoa kepada Allah semoga bisa menemui saudaramu dan membebaskannya”. Setelah itu, keduanya berpisah.

Dengan gagah berani, Khalid melancarkan serangan. Mengobrak – abrik pertahanan musuh. Sementara itu, Khaulah terus berkeliling. Tidak yang diinginkannya kecuali bertemu dengan saudaranya. Sayangnya, sampai perang berakhir, tak ada satu petunjuk atau informasi yang bisa ia peroleh.

Wajah para pejuang muslim tampak gembira. Mereka memenangkan pertempuran. Di sisi lain, Khaulah masih berupaya mencari saudaranya. Ia bertanya kepada setiap prajurit. Namun, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui kabar saudaranya.

Khaulah binti Azwar ini putus asa, perjuangannya sia – sia. Lalu mencurahkan duka yang ia alami dalam sebuah syair. “Wahai saudaraku! Seandainya saja aku tau di padang pasir mana mereka menghempaskanmu. Seandainya saja aku tau dengan tombak mana mereka menusukmu atau dengan pedang mana mereka membunuhmu. Wahai saudaraku ! Saudarimu telah datang untuk menebusmu.

Sungguh tidakkah kau lihat saudarimu akan selamanya melihatmu setelah pertempuran ini? Wahai saudaraku ! Kamu telah benar – benar meninggalkan di hati saudarimu bara api yang tidak akan pernah padam. Seandainya aku tau, kamu telah bertemu dengan ayahmu yang wafat terbunuh, maka kusampaikan salamku padamu sampai hari pertemuan”.

Selain berbakat dalam militer, Khaulah juga memiliki jiwa seni. Dia adalah penyair papan atas. Pantas saja, lantunan syairnya begitu menyentuh hati dan menggerakkan jiwa. Seorang wanita terluka menahan kerinduan akan saudaranya. Khalid dan pasukannya bahkan menitikan mata mendengar celotehan Khaulah. Mereka pun bertekad untuk terus mencari saudaranya itu.

Baca Juga :  Ummu Syuraik: Sahabat Perempuan yang Sukses di Zaman Nabi Saw.

Sampai pada suatu hari kabar mengenai dimana Dhirar ditawan, berhasil diketahui. Khalid segera menyusun strategi. Ia mengirim utusannya termasuk Khaulah untuk menyelamatkan Dhirar. Tidak berselang lama, Dhirar bebas. Kedua saudara tersebut kini bisa berkumpul kembali.

Berkat keberanian, kemampuan serta totalitasnya, Khaulah binti Azwar dikenal sebagai pedang Allah dari kalangan perempuan. Menurut catatan Muhammad at Tunji dalam Mu’jam ‘Alam an-Nisa, Khaulah wafat sekitar tahun 35 H pada akhir masa Khalifah Usman bin Affan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here