Khabbab bin Al-Arat; Seorang Pandai Besi yang Teguh Beriman Meski Sering Disiksa

0
682

BincangSyariah.Com – Di masa awal kenabian, perjuangan Rasulullah bersama para sahabat untuk menegakan kalimat tauhid mendapat kecaman dari beragam pihak. Cacian, hinaan dan intimidasi sudah menjadi pemandangan sehari-hari dalam kehidupan mereka.  Sebab cara – cara tadi sering kali tidak membuahkan hasil, maka kaum musyrikin menempuh cara baru yakni dengan menyiksa setiap orang yang tertangkap telah memeluk agama Islam. Sebagian Sahabat yang memiliki darah bangsawan lolos dari ancaman penyiksaan. Namun tidak bagi mereka yang hanya berstatus seorang budak. Seperti yang dialami Khabbab, beliau disiksa majikannya sebab ketahuan telah mengikuti ajaran Rasulullah.

Sejak kecil, Khabbab sudah tidak asing dengan suasana perbudakan. Beliau disergap dan dijual di salah satu pasar budak di Makkah pasca tragedi penyerangan terhadap kabilahnya, Bani Tamim. Ummu Anmar binti Siba’ Al-Khuza’iyyah sengaja membeli Khabbab untuk membantu mengangkat ekonomi keluarganya. Khabbab kecil dititipkan kepada seorang pandai besi untuk mempelajari cara membuat pedang dan alat – alat tempur lainnya. Di zaman itu, kehidupan masyarakat Arab tidak terlepas dari berburu dan berperang sehingga penjualan senjata tajam bernilai jual tinggi sebab ramai diburu warga. (Baca: Perbudakan Bukan Tradisi Islam, Justru Islam Berupaya Menghapusnya)

Khabbab giat berlatih hingga mampu membuat sebilah pedang. Saking mahirnya semua proses pembuatan dari awal hingga akhir bisa ia lakukan sendiri. Selain kecakapannya, poin unggul yang dimiliki Khabbab adalah jujur dan amanah. Maka tidak heran jika kemudian masyarakat mulai berduyun – duyun memesan perlengkapan berburu darinya. Kehidupan terus berjalan seperti biasanya hingga merebaklah kabar adanya seorang Rasul yang menyeru untuk menyembah Allah Swt.

Hati Khabbab bergetar mendengar kabar tersebut. Perlahan – lahan beliau mulai mencari tahu siapa sosok Rasul dan ajaran apa yang dibawanya. Hingga pada suatu hari beliau bertemu Rasulullah lalu mengucap syahadat. Dalam satu riwayat dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Khabbab termasuk generasi awal yang masuk Islam. Beliau berislam sebelum rumah Al Arqam ditempati Rasul sebagai markas untuk mengajarkan agama Islam kepada para Sahabat.

Baca Juga :  Asal Usul Marga Habaib; Induk Klan Alatas

Selain itu, Khabbab termasuk salah seorang Sahabat yang paling awal mendeklarasikan keislamannya di ruang publik padahal beliau paham konsekuensi pahit yang akan akan dialami jika nekat melakukannya. Benar saja, tatkala mengetahui bawahannya telah berislam, Ummu Anmar sangat kesal dan marah. Ia bersama saudaranya, Sabba’ bin Abdul Uzza dan beberapa orang dari kabilah Khuza’ah mengintrogasi dirinya.

Aku mendengar kabar bahwa kamu telah keluar dari ajaran terdahulu dan mengikuti ajaran putra Bani Hasyim”, ucap Sabba’. Dengan tenang Khabbab menjawab,”Aku telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku telah meninggalkan penyembahan terhadap berhala – berhala kalian. Aku juga telah bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah Swt”. Mendengar pernyataan tulus Khabbab, beberapa orang yang hadir di ruangan tersebut naik pitam. Mereka kemudian memukuli Khabbab hingga tersungkur. Itu baru awalnya. Di kemudian hari mereka kembali menyiksa Khabbab dengan siksaan yang lebih mengerikan. Anggota tubuhnya pernah dibakar hingga ditempelkan benda – benda panas. Luka bekas siksaannya ini terpampang jelas di punggungnya.

Kendati mendapat siksaan yang begitu kejam, Khabbab tetap memegang teguh keislamannya. Beliau tidak lantas menyerah dan kembali menyembah berhala sebagaimana yang dititahkan oleh majikan – majikannya.  Bahkan dikisahkan beliau sering hadir dalam majelis – majelis ilmu Rasulullah untuk mempelajari Al Qur’an dan segala hal yang berkaitan dengan Islam. Kemudian ilmu yang telah beliau peroleh disebarkan dengan mendatangi rumah – rumah muslim.Termasuk diantaranya berkunjung ke kediaman Sa’id suami Fatimah saudari perempuan Umar bin Khattab. Yang mana pertemuan tersebut dicatat sejarah sebagai cikal bakal islamnya Umar bin Khattab.

Setelah mendapat begitu banyak cobaan, kehidupan Khabbab mulai membaik saat beliau hijrah ke Madinah bersama rombongan Muhajirin generasi awal. Dalam perjalanan syiar Islam, beliau telah menemani Rasullullah dalam berbagai pertempuran seperti perang Badar, Uhud dan Khandaq. Menurut Al Hajjaj dalam Tahdzib Al Tahdzib, Khabbab meninggal saat pengembaraannya di Kufah tahun 37 H di umur yang ke tujuh puluh tiga atau enam puluh tiga tahun. Sahabat Ali sang Khalifah secara langsung mensholati jenazah beliau.

Baca Juga :  Lima Unsur Dasar Dalam Hadis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here