KH. Sholeh Darat: Pelopor Penerjemahan Alquran Pegon pada Masa Kolonial

0
590

BincangSyariah.Com – KH. Sholeh Darat merupakan sosok ulama yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di Pantai Utara Jawa, khususnya di Semarang. Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Shalih ibn Umar yang lahir di desa Kedung Jumbleng, kecamatan Mayong, kabupaten Jepara, Jawa Tengah sekitar tahun 1820 M. Beliau adalah putra kiai Umar, salah seorang pejuang dalam perang Jawa (1825-1830) yang dilakukan oleh pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.

Beliau pada masa kecilnya di Jepara mulai belajar agama kepada ayahnya sendiri. Pelajaran pertamanya adalah membaca Alquran. pelajaran ini pun diikuti oleh anak-anak usia 6 sampai 10 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pelajaran agamanya di pesantren Jawa. Ia pernah nyantri kepada kiai M. Syahid, pengasuh pesantren Waturoyo, Margoyoso Pati, ia belajar kitab-kitab fiqh seperti Fath Alqarib, Fath Almu’in, Fath Alwahhab, Minhaj Alqawim dan Syarh Alkhatib.

Ia juga sempat belajar Nahwu Sharaf kepada Kiai Ishak Damaran, belajar ilmu Falak kepada Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni dan mengaji kitab Jauhar al Tauhid dan Minhaj Alabidin kepada kiai Bafaqih serta kitab Masail Alsittin kepada Syekh Abdul Ghani Bima Semarang.

Kemudian ayahnya mengajaknya ke Makkah dengan singgah beberapa saat di Singapura. Selama di Makkah, ia belajar kepada ulama-ulama kenamaan seperti Syeikh Muhammad al Muqri al Misri al Makki, kepadanya ia belajar ilmu aqaid dengan kitab Ummul Barahin karya Muhammad Assanusi, Syeikh Muhammad ibn Sulaiman Hasb Allah, kepadanya ia belajar Syarh al Khatib, Fath al Wahhab, dan Alfiyah Ibn Malik beserta syarahnya, Sayyid Muhammad ibn Zaini Dahlan, kepadanya ia belajar Ihya’ Ulum al Din karya al Ghazali, Al Allamah Ahmad Annahrawi Almisri Almakki kepadanya ia belajar Alhikam karya Ahmad Ibn Ataillah, Sayyid Muhammad Salih Azzawawi Almakki, kepadanya ia belajar Ihya Ulum al Din juz I dan II, Kiai Zahid atau Zaid, kepadanya ia belajar Fath Alwahhab, Syeikh As Sanbulawi Almisri, kepadanya ia belajar Syarh Attahrir karya Zakariya Alansari dan Syeikh Jamal, kepadanya ia belajar tafsir Alquran.

Baca Juga :  Tiga Adab Saat Tidur

Setelah ayahnya wafat di Makkah, dan dirasa cukup ilmunya, maka ia pun kembali dan singgah di Singapura beberapa saat dan kemudian sampai di Tanah Air. Ia diambil menantu oleh Kiai Murtada, teman seperjuangan Kiai Umar, ayahnya dalam perang Jawa, ia dinikahkan dengan Sofiyah. Sejak itulah ia menetap di Semarang dan masih melanjutkan menuntut ilmu lagi kepada beberapa ulama serta mendirikan pondok pesantren yang semula tidak menggunakan nama. Namun, lambat laun terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darat, sesuai dengan nama daerah kediamannya di Semarang.

Diantara muridnya yang kemudian menjadi orang besar serta tokoh agama adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, Kiai R. Dahlan Tremas, seorang ahli Falak, Kiai Amir Pekalongan yang juga menantu Kiai Sholeh Darat, Kiai Idris Solo, Kiai Sya’ban bin Hasan Semarang, dan Kiai Munawir Krapyak Yogyakarta.

Salah satu muridnya yang terkenal juga tetapi bukan dari kalangan Kiai atau Ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah KH. Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Alquran ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu KH Sholeh Darat, RA Kartini pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Alquran.

Kemudian ketika ia berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh KH. Sholeh Darat. Saat itu, beliau sedang mengajarkan tafsir surah Alfatihah, RA Kartini menjadi amat tertarik dengan model pengajian yang disajikan oleh KH. Sholeh Darat. Dalam sebuah pertemuan RA Kartini meminta agar Alquran diterjemahkan karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.

Baca Juga :  Jenis-jenis Kurma

Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang yang menerjemahkan Alquran. KH. Sholeh Darat melanggar larangan ini. Beliau menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon), sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan Alquran ini diberi judul Kitab Faid Alrahman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan kasara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA. Kartini pada saat dia menikah dengan RM. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Selain kitab Tafsir Faid Alrahman, KH. Sholeh Darat juga menghasilkan karya-karya lain yang tidak kurang berjumlah 13 buah.  Sehingga total karyanya ada 14 yang terdiri dari kitab tentang fikih, tasawwuf atau akhlak, tafsir Alquran, hadis dan tauhid. Kitab-kitab tersebut adalah Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam, Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali, Al-Hikam karya Ahmad bin Athailah,  Lathaif al-Thaharah, Manasik al-Haj, Pasolatan, Sabillu ‘Abid terjemahan Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani, Minhaj al-Atkiya’, Al-Mursyid al-Wajiz, Hadits al-Mi’raj, Syarh Maulid al-Burdah, Asrar Al Shalah, dan Syarh Barzanji.

Signifikansi karya-karyanya tersebut tidak hanya terletak pada kekhasannya dalam menjelaskan tauhid, fikih, tasawwuf dan tafsir dalam bahasa lokal (bahasa Jawa), tetapi juga pada kegigihan argumennya bahwa kitab pegon memiliki otoritas yang sama dengan kitab berbahasa Arab. KH. Sholeh Darat berpendapat bahwa untuk menjadi muslim yang baik dan menerima anugrah Tuhan itu tidak bergantung pada kepandaian dan kemampuan berbahasa Arab, tetapi pada pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama yang didasari atas pengetahuan yang memadai, yang didapatkan dari kitab-kitab Islam dalam bahasa apapun.

Demikianlah sosok KH, Sholeh Darat, salah satu ulama Nusantara yang mengabdikan dirinya untuk kehidupan agama dan umat Islam khususnya di tanah Jawa, meskipun ia hidup di tengah gempuran senjata dan ketidakbebasan akibat penjajahan Belanda. KH. Sholeh Darat  wafat di Semarang pada hari Jumat Legi tanggal 28 Ramadan 1321 H/ 18 Desember 1903 M. Dan dimakamkan di pemakaman umum Bergota Semarang. Makamnya banyak diziarahi orang baik dari Semarang dan sekitarnya maupun dari daerah lain, khususnya pada upacara haulnya (peringatan wafatnya pada setiap tahun), yang diadakan setiap tanggal 10 Syawal. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Akankah Abu Thalib Mendapat Syafaat dari Nabi?

(Diolah dari berbagai sumber, khususnya jurnal, skripsi dan tesis tentang KH. Sholeh Darat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here